Archive for the 'Tarbiyah' Category

Diangkat Taklif Bagi Wali, Berarti Tinggalkan Syariat?

Beberapa kelompok amat bermudah-mudah menyesatkan pihak lain karena didasari ketidak pahaman mengenai makna istilah yang biasa digunakan komunitas tertentu. Sebagai contoh dalam kasus istilah irtifa` taklif atau hilangnya taklif bagi para wali Allah, yang biasa digunakan para sufi. Lanjutkan membaca ‘Diangkat Taklif Bagi Wali, Berarti Tinggalkan Syariat?’

Iklan

Tetap Belajar Walau Ajal di Depan Mata

Saat berada di ambang kematian pun, beberapa ulama masih berusaha memanfaatkan waktu. Ada yang berdikusi masalah fiqh, menghafal beberapa bait syair, atau menukil ilmu.
Lanjutkan membaca ‘Tetap Belajar Walau Ajal di Depan Mata’

Mengobati Hati dengan Memandang Wajah Orang Shalih

Abu Bakar Al Muthawi’i selama dua belas tahun selalu aktif mengikuti majelis Imam Ahmad. Di majelis tersebut hadits tersebut Imam Ahmad membacakan Al Musnad kepada putra-putra beliau. Namun, selama mengikuti mejalis tersebut, Al Muthawi’i tidak memiliki catatan, walau hanya satu hadits. Lalu, apa yang dilakukan Al Muthawi’i di majelis itu? Beliau ternyata hanya ingin memandang Imam Ahmad. Lanjutkan membaca ‘Mengobati Hati dengan Memandang Wajah Orang Shalih’

Kesungguhan Salaf dan Ulama Menghindari Makanan Haram

Umat pada generasi awal amat mengkhawatirkan jika dalam tubuhnya ada barang haram, mereka berusaha mengeluarkannya, walau nyawa taruhannya Lanjutkan membaca ‘Kesungguhan Salaf dan Ulama Menghindari Makanan Haram’

Para Ulama (Mestinya) Tak Takut Penguasa

Para ulama terdahulu berani mengingatkan penguasa yang berbuat salah. Tak jarang karena enggan diajak kompromi, mereka akhirnya berhadapan dengan ”siksaan” . Dan itu semua dihadapi dengan penih ketegaran
Lanjutkan membaca ‘Para Ulama (Mestinya) Tak Takut Penguasa’

Para Salaf dan Ulama Jaga Jarak dengan Penguasa

Ulama terdahulu, tidak hanya menjalankan tugas mereka sebagai penyebar ilmu atau pembimbing umat. Lebih dari itu, mereka juga berfungsi sebagai alat kontrol terhadap kebijakan para penguasa.

Tugas ini mustahil bisa dilakukan jika mereka sendiri menjadi kroni atau bahkan menggantungkan kehidupan kapada penguasa. Oleh sebab itu, para ulama saat itu selalau menjaga agar mereka senantiasa bersikap obyektif, tidak membedakan panguasa atau rakyat jelata dan tidak pula menerima imbalan serta hadiah dari para penguasa. Lanjutkan membaca ‘Para Salaf dan Ulama Jaga Jarak dengan Penguasa’

Jangan Malu Berkata “Saya Tidak Tahu’’

Al Khatib Al Baghdadi mengisahkan bahwa Imam Malik ditanya 48 masalah, hanya dua yang dijawab, dan 30 masalah lainnya dijawab dengan, “la adri“ (saya tidak tahu) (Al Faqih wa Al Mutafaqqih, 2/170).
Lanjutkan membaca ‘Jangan Malu Berkata “Saya Tidak Tahu’’’