Mi’raj Rasul Tidak Menunjukkan Allah Ta’ala di Langit

Sebagian pihak yang berkeyakinan bathil bahwa Allah berada di langit berpedoman kepada hadits yang menjelaskan mi’raj Rasulullah Shallallahu Alahai Wasallam. Bagaimana para ulama menjelaskan masalah itu?

Sebelum masuk ke pembahasan ini, perlu diketahui juga bahwa mereka yang berkeyakinan bahwa Allah Ta’ala berada di langit didasari oleh keyakinan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam di saat mi’raj menyaksikan dzat Allah dengan mata. Jika demikian, dasar yang dijadikan pijakan sudah rapuh sejak awal, karena para ulama bahkan sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sudah bebreda pendapat dalam masalah ini. Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu yang berpendangan bahwa Rasulullah Shallallallahu Alaihi Wasallam menyaksikan secara kasat mata, sedangkan sahabat lainnya seperti Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu dan Aisyah Radhiyallahu Anha menolak padangan itu, hingga beliau menyampaikan,”Barang siapa mengira bahwa Muhammad menyaksikan Rabb-Nya maka ia telah berbohong.” Sedangkan sejumlah muhaqiqin memilih tawaquf dalam masalah ini. (lihat, Nur Ad Dzalam, hal. 66-67)

Rapuh karena menyandarkan sebuah kayakinan dari perkara yang diperselisihkan, bahkan oleh para sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Jika seaindanya pihak yang berpandangan bahwa Allah bertempat di langit masih memaksakan diri dengan pendapat bahwa Rasulullah Shallallahu Alalihi Wasalam menyaksikan Allah dengan mata, hak itu juga tidak mampu “menolong” kayakinannya karena para ulama menjelaskan bahwa penglihatan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam adalah penglihatan yang pantas bagi kebesaran Allah Ta’ala. (lihat, Nur Ad Dzalam, hal. 66)

Sedangkan penilaian bahwa Allah berada di sebuah tempat adalah pandangan yang tidak pantas bagi kebesaran Allah Ta’ala dimana hal itu termasuk penyerupaan terhadap benda yang terikat dengan tempat. Sebab itulah para ulama yang mengambil pendapat bahwa  Rasulullah Shallallahu Alalihi Wasallam menyaksikan Allah menjelaskan. Al Allamah Ahmad Al Marzuki Al Makki Al Maliki telah menyampaikan dalam nadzam akidah beliau yang cukup terkenal yakni Aqidah Al Awwam:

Gambar

Artinya: Dan setelah (Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam) isra’ naik ke langit. Hingga melihat Rabb berfirman. Tanpa kaif dan tanpa terlingkupi dan diwajibkan. Bagi beliau (Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam) 5 setelah 50 kewajiban (shalat). (lihat, Aqidah Al Awwam dan Syarhnya Nur Adz Dzalam, hal. 63)

Pernyataan bahwa Allah berada di langit sama dengan menyatakan bahwa Allah terlingkupi oleh langit. Allah Ta’ala tidak mungkin terlingkupi oleh makhluk-Nya termasuk langit atau yang lain karena melingkupi adalah pembatasan. Bagaimana Allah bisa terbatasi oleh makhluk? Dan hal itu juga merupakan penyerupaan dzat Allah dengan benda yang selalu terikat dengan tempat.

Mungkin saja pihak yang berkeyakinan bahwa Allah Ta’ala berada di langit berargumen bahwa mereka juga bisa memperoleh pijakan dari peristiwa dimana Allah memerintahkan wajibnya shalat langsung kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, bahwa Allah berada di langit maski Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tidak menyaksikan dzat Allah.

Dalam hal ini, Al Allamah Nawawi Al Bantani Sayyid Ulama Hijaz telah menjelaskan masalah ini. Beliau menyampaikan,”Sayyiduna Rasulullah juga telah mendengar kalam Allah yang qadim pada malam isra’. Dan Allah tidak berada dalam satu tempat atau arah namun tempat bagi yang menyimak.” (Nur Ad Dzalam, hal. 17)

Demikian munajat Rasulullah Shallallahu Alalihi Wasallam di Sidratul Muntaha tidak melazimkan bahwa Allah berada di tempat itu.  Syeikh Umar Abdullah Kamil salah satu ulama Al Azhar menjelaskan bahwa munajat itu tidak terikat dengan tempat. Maka munajat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam di Sidratul Muntaha sama dengan munajat Musa Alaihissalam di bukit Thur yang juga sama dengan munajat Yunus Alaihissalam di perut ikan khut. (lihat, Syarh Arkan Al Iman li Al Ummah Al Islam min Aqidati Al Awwam, hal. 29)

Walhasil peristiwa mi’raj Rasulullah tidak menunjukkan bahwa Allah berada di langit, namun menunjukkan bahwa Rasulullah bermunajat di Sidratul Muntaha dan hal itu tidak berkonsekwensi Allah berada di tempat yang sama, sebagaimana munajat Musa Alaihissalam di bukit Thur juga tidak berkonsekwensi bahwa Allah berada di bukit tersebut, demikian juga munajat Yunus Alaihissalam di perut ikan khut tidak berkonsekwensi Allah berada di tempat itu.

Demikianlah penjelasan para ulama dalam masalah ini. Semoga kita terhindar dari keyakinan yang mengakibatkan penyerupaan dzat Allah dan sifat-Nya terhadap makhluk.

Rujukan:

1. Nur Ad Dzalam Syarh Mandzumah Aqidah Al Awwam oleh Al Allamah Sayyid Ulama Hijaz Nawawi Al Bantani, cet. 1 (1429 H), Dar Al Kutub Al Islamiyah, Jakarta.

2. Syarh Arkan Al Iman li Al Ummah Al Islam min Aqidati Al Awwam, dipublikasikan oleh okamel.com, situs resmi Syeikh Umar Abdullah Kamil.

45 Responses to “Mi’raj Rasul Tidak Menunjukkan Allah Ta’ala di Langit”


  1. 1 Fikri Juni 11, 2012 pukul 5:37 am

    Kalau begitu, dimana Allah SWT?? Selama ini saya berkeyakinan Allah ada di atas langit, tanpa membayangkan bagaimana Allah berada diatas langit..

    • 2 indra Juni 12, 2012 pukul 1:14 am

      Allah tidak bertempat…. yang bertempat adalah makhluk, sedangkan Allah bukan makhluk, melainkan kholiq (pencipta)

      • 3 Fikri Juni 12, 2012 pukul 3:19 am

        Mohon pencerahannya tentang dalil Allah tidak bertempat, agar saya semakin tercerahkan..
        ______________________
        Thoriq: Dalilnya banyak satunya adalah ayat muhkamat (لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ), bahwa Allah berbeda dengan makhluk-Nya. Perbedaan di sini adalah perbedaan secara total. Jika ada pihak yang menilai Allah berbeda dengan makhluk dari dari satu aspek namun sama dalam aspek yang lain masih belum keluar dari aqidah tasybih (penyerupaan). Jadi umat Islam harus berkeyakinan bahwa Allah berbeda dengan makhluk-Nya secara total.

        Nah untuk memperoleh pengetahuan mengenai perbedaan Allah secara total dengan makhluk maka kita perlu memahami sifat makhluk dan hukum yang berlaku kepada makhluk. Sifat yang ada pada makhluk adalah bahwa eksistensinya tidak pernah terlepas dengan tempat. Lihat yang ada di sekitar kita, benda-benda dan makhluk hidup tidak pernah lepas dari tempat. Nah, kalau Allah berbeda total dengan makhluk maka wujud Allah lepas dan tidak terikat dengan tempat, karena bertempat adalah sifatnya makhluk.

        Nah, kalau kita berkeyakinan Allah berada tempat tertentu, kita telah menarapkan hukum yang berlaku kepada makhluk untuk kita terapkan kepada dzat Allah yang Maha Sempurna yang berbeda dengan makhluk-Nya.

        Sebab itulah para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam kitab-kitab aqidah banyak membahas mengenai sifat-sifat makhluk seperti pembahasan mengenai jauhar dan aradh, supaya kita mengetahui sifat makhluk dan hukum yang berlaku untuk makhluk sehingga kita tidak menerapkannya sifat-sifat itu kepada dzat Allah sehingga terjerumus kepada tasybih.

      • 4 Masda Sahibu Maret 1, 2013 pukul 11:29 am

        Allah bersemayam Di Atas ‘Arsy. Itu Allah sendiri yang menjelaskan. Sebagai hambaNya, jangan ragu dengan firmanNya. Hanya Allah yang mengetahui tentang Allah. Apa yang telah difirmankan dalam Quran dan apa yang dijelaskan dalam Hadits Shahih, Ayo kita yakini. Jadilah kamu sekalian seperti Gunung. Mereka semua itu Islam yang sebenarnya (Qs. Al Hasyr : 21). Tunduk dan patuh atas apa yang Allah firmankan. Mereka tidak sombong, sebagaimana orang-orang yang tidak mau meyakini Firman Allah.

  2. 5 buana Agustus 30, 2012 pukul 2:26 am

    selama ini saya berkeyakinan Alloh ada di hati setiap orang mukmin yang beriman dan bertaqwa

  3. 6 Sudarminto September 29, 2012 pukul 10:39 pm

    Terimakasih atas pengetahuan yang di berikan. Berdakwalah terus untuk meluruskan Aqidah Islamiyah yang. Semoga Allah memberikan hidayah n kbaikan stiap apa yang anda lakukan. amin

  4. 8 rosman bin awang Oktober 16, 2012 pukul 7:34 pm

    dilangit menujukan tempat yg tidak diketahui oleh makhluk,kecauli utk org yg kenal

  5. 9 Arwin November 10, 2012 pukul 2:19 pm

    Ini adalah pendapat para Ulama Sunni yang paling sahih dalam masalah Aqidah.

  6. 10 abdi20881 November 20, 2012 pukul 8:42 am

    Maha suci Alloh Subhanallohu Wata’ala dari memerlukan tempat, karena Alloh Tuhan semesta ‘alam bukan ‘alam jadi tak layak menisbahkan Alloh seperti makhlukNya yang memerlukan tempat (atas/bawah, kiri/kanan, depan/belakang, langit/bumi dan seterusnya), banyak dalil didalam Al-Qur’an dengan kata2 antara lain :
    Alloh laisa kamislihi sai’un (bilhaq Alloh Ta’ala lain dari sesuatu apapun), Alloh Ta’ala Siwahul’alam (bilhaq Alloh Ta’ala bukan ‘alam), Walam yaqullahukufuan ahad (bilhaq tak ada sesuatupun yang menyerupaiNya)
    Pelajari ilmu Tauhid yang benar2 lurus, dan belajar kepada seorang guru yang jiwanya ahli tauhid, barulah kita akan mengenal Alloh Subhanallohu Wata’ala secara benar.
    Semoga Alloh selalu merahmati kita semua, mudah2an kita tetap selalu berada dijalur i’tiqod yang lurus yakni I’tiqod yang diridhoiNya, aamiin.

  7. 11 Masda Sahibu Februari 5, 2013 pukul 7:15 am

    Allah SWT itu di atas langit, bersemayam di atas ‘ArsyNya yang Agung.

    “Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun”. (Qs. Al Ma’aarij : 4).

    “(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy” (Qs. Thaha : 5).

    “Dan kamu (Muhammad) akan melihat malaikat-malaikat berlingkar di sekeliling ‘Arsy bertasbih sambil memuji Tuhannya; dan diberi putusan di antara hamba-hamba Allah dengan adil dan diucapkan: “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”.” (Qs. Az Zumar : 75).

    1435. Dari Abu Hurairah ra., katanya: Nabi saw bersabda: “Malaikat-malaikat itu datang silih berganti, untuk malam dan untuk siang. Dan mereka berkumpul pada waktu sembahyang Fajar (Subuh) dan ‘Asar. Kemudian malaikat-malaikat untuk malam hari, naik kepada Tuhan. Tuhan lalu bertanya kepada mereka, sedang Tuhan itu Maha Tahu. Tuhan berfirman: “Sedang mengapa hambaKu kamu tinggalkan? Mereka menjawab: “Kami tinggalkan mereka sedang sembahyang, dan waktu kami datang kepada mereka, juga mereka sedang sembahyang”. Hadits Shahih Bukhari, Jilid III, Halaman 176.

    Sudah ya teman Muslimin. Masih lebih seribuan ayat yang mengisyaratkan bahwa Allah SWT di atas langit dan bersemayam di atas ‘Arsy. Juga masih banyak Hadits Shahih.

    Yakini sajalah apa yang difirmankan Allah SWT itu benar, dan jangan ragu. Yang penting, jangan berpikir dan membayangkan bahwa Allah itu menyerupai makhlukNya. Dia itu Maha Mendengar dan Maha Melihat.

    Kita sebagai makhluk, saat kita bersemayam di atas Singgasana, pastilah di dalam ruang. Kita sebagai makhluk, saat mendengar, pastilah di dalam ruang, dan pasti ada jarak antara kita yang mendengar dan sumber bunyi yang kita dengar. Kita sebagai makhluk saat melihat sesuatu, pastilah di dalam ruang, dan pasti ada jarak antara kita yang melihat dan obyek yang kita lihat.

    Kesemua itu janganlah diserupakan dengan Allah SWT untuk Sifat Istiwa’, untuk Sifat Maha Mendengar, dan untuk Sifat Maha Melihat, dan Sifat-Sifat lainnya. Allah SWT yang lebih mengetahui tentang Allah. Kita hanya mengetahui tentang Allah SWT dari apa yang difirmankan dalam Al Quran, dan apa yang terdapat dalam Hadits Shahih.

    Oleh karena itu, yakinilah Al Quran secara Dzahir. Berpahala besar. Membaca ayat Al Quran, setiap huruf dapat 10 pahala. Dan jika kita yakini, Allah lebih senang. Tidaklah mungkin ada ayat yang jika dibaca berpahala setiap huruf 10 pahala, namun jika kita yakini, kita berdosa. Kalau ada Ustaz atau Kiyai yang meyakini seperti itu, A-‘uudzubillaah.

    Salaam.

  8. 12 Masda Sahibu Februari 5, 2013 pukul 7:22 am

    Tambahan Penjelasan Di Atas.

    Anda itu tidak meyakini Allah Bersemayam Di Atas ‘Arsy, karena hal itu berarti Allah memerlukan ruang. Tetapi mengapa Anda meyakini Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat? Padahal mendengar dan melihat bagi makhluk itu juga terjadi di dalam ruang, dan ada jarak? Sama juga jika makhluk bersemayam di atas singgasananya itu memerlukan ruang?

    Mengapa hanya Sifat Bersemayam yang Anda tidak mau yakini?

    • 13 Mas Shofyan Maret 21, 2013 pukul 3:26 pm

      lantas bagaimana dengan firman Allah ini mas Masda?:
      ” ﻓﺎﻳﻨﻤﺎ ﺗﻮﻟﻮﺍ ﻓﺜﻢ ﻭﺟﻪ ﺍﻟﻠﻪ “
      Dimanapun kamu menghadap maka di
      sanalah wajah Allah “ ?

    • 14 Mas Shofyan Maret 21, 2013 pukul 3:30 pm

      bagaimana pula anda mengartikan hadis hasan ini?

      عَنْ أَبِيْ رَزِيْنٍ قَالَ قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ أَيْنَ كَانَ رَبُّنَا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ خَلْقَهُ ؟ قَالَ كَانَ فِيْ عَمَاءٍ مَا تَحْتَهُ هَوَاءٌ وَمَا فَوْقَهُ هَوَاءٌ وَخَلَقَ عَرْشَهُ عَلىَ الْمَاءِ قَالَ أَحْمَدُ بْنُ مَنِيْعٍ قَالَ يَزِيْدُ بْنُ هَارُوْنَ الْعَمَاءُ أَيْ لَيْسَ مَعَهُ شَيْءٌ قَالَ التِّرْمِذِيُّ وَهَذَا حَدِيْثٌ حَسَنٌ.

      “Abi Razin radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku berkata, wahai Rasulullah, di manakah Tuhan kita sebelum menciptakan makhluk-Nya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Allah ada tanpa sesuatu apapun yang menyertainya. Di atasnya tidak ada sesuatu dan di bawahnya tidak ada sesuatu. Lalu Allah menciptakan Arasy di atas air.” Ahmad bin Mani’ berkata, bahwa Yazid bin Harun berkata, maksud hadits tersebut, Allah ada tanpa sesuatu apapun yang menyertai (termasuk tempat). Al-Tirmidzi berkata: “hadits ini bernilai hasan”. (Sunan al-Tirmidzi, [3109]).

      • 15 reno Oktober 25, 2013 pukul 2:59 pm

        n tidak mati kemudian beliau membaca ayat :

        وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

        “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali ‘Imran : 144)

        Lihat : Ar-Rodd ‘Alal Jamhiah hal. 44-45 no. 78 dan berkata Az-Dzahaby di kitab Al-‘Uluw hal. 62 ini hadits shohih.

        Perkataan para sahabat seluruhnya : Berkata Adi bin ‘Umairoh radhiyallahu ‘anhu : “Saya keluar hijrah kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam kemudian ia menyebutkan kisah yang panjang kemudian dalam kisahnya itu dia mengatakan : “Maka tiba-tiba beliau dan yang bersamanya (para shahabat), mereka bersujud di atas wajah-wajah mereka, dan mereka yakin bahwa Ilah mareka di atas langit maka sayapun masuk Islam dan mengikuti beliau”. (Ijtimaul Juyusy : 90)

        b. Dari Tabi’in :

        Berkata Al-Auza’iy : “Kami berkata sedangkan para Tabi’in masih banyak tersebar : “Sesungguhnya Allah Yang Maha Tinggi Penyebutan-Nya berada di atas ‘Arsy-Nya dan kami beriman terhadap apa yang datang dari sunnah berupa sifat-sifat-Nya”. (Al-Uluw hal. 102, Ijtima‘ hal. 96, Fathul Bary 12/4-6 dan Al-Asma` Wash shifat karya Al-Baihaqy 2/150)

        c. Perkataan Imam Empat :

        Berkata Abu Hanifah :

        “Siapa yang mengatakan : Saya tidak mengetahui Rabbku apakah Dia di langit atau di bumi, maka dia kafir, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan:

        الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

        “(Rabb) Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy.” (QS. Thoha : 5)

        dan Arsy-Nya di atas tujuh langit”. Maka Abu Muti’ Al-Hakam bin Abdillah Al-Balkhy mengatakan kepada beliau : “(Bagaimana hukumnya) Apabila ada yang mengatakan bahwa Allah di atas Arsy istiwa` akan tetapi dia mengatakan bahwasanya saya tidak mengetahui apakah Arsy itu di langit atau di bumi ?”, beliau mengatakan : “Dia kafir sebab ia mengingkari akan keberadaannya di atas langit, karena sesungguhnya Allah Ta’ala berada di atas tempat yang paling tinggi dan Dia dimintai (do’a) dari atas dan bukan dari bawah”. (Lihat : Al-Fiqhul Akbar riwayat Abu Muthi’ hal. 40-44, Al-‘Uluw hal. 101-102 dan Mukhtashor Al-‘Uluw hal. 126)

        Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah setelah membawakan atsar ini : “Pada perkataan Abu Hanifah -di sisi para shahabatnya- yang masyhur ini (terkandung pengertian) bahwa ia mengkafirkan orang yang tawaqquf (tidak menentukan sikap) yaitu orang yang mengatakan : “Saya tidak mengetahui Rabbku apakah di langit atau di bumi”, maka bagaimanalagi (hukumnya) terhadap oyang yang menentang yang menafikannya (menolak Allah ada di atas langit) dan mengatakan : “(Allah) tidak ada di atas langit atau (dia mengatakan bahwa Allah) tidak ada di bumi dan tidak pula ada di atas langit???”, (Beliau) berhujjah atas kekafirannya dengan firman Allah :

        الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

        “(Rabb) Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy.” (QS. Thoha : 5)

        beliau berkata : “Dan Arsy-Nya di atas tujuh langitNya”.”

        Perkataan Imam Malik bin Anas :

        Dari Yahya bin Yahya, beliau berkata : “Ketika kami berada di sisi Malik bin Anas maka datang seorang laki-laki kemudian dia mengatakan : “Wahai Abu ‘Abdillah (kunyah Imam Malik)

        الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

        “(Rabb) Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy.” (QS. Thoha : 5)

        bagaimana istiwa` ?”. Maka Imam Malik menundukan kepalanya sampai beliau bercucuran keringat kemudian beliau mengatakan : “Istiwa` itu dipahami, kaifiyatnya (bagaimananya) tidak diketahui sedangkan beriman dengannya wajib dan bertanya tentangnya adalah bid’ah, dan saya tidak melihatmu kecuali seorang mubtadi’.”. Maka Imam Malik memerintahkan agar orang itu dikeluarkan.” Lihat : Syarh Ushul I’tiqod Ahlissunnah 2/398, Al-Asma` wa Ash-Shifat karya Al-Baihaqy 2/150-151, Ar-Rod ‘Alal Jahmiyah karya Ad-Darimy hal. 33 dan Al-‘Uluw hal. 102 dan selainnya.

        Berkata Imam Syafi’iy :

        Perkara dalam sunnah yang saya berada diatasnya dan yang saya melihat sahabat-sahabat kami yaitu para ahli hadits yang saya lihat dan saya mengambil (hadits) dari mereka seperti : Sufyan dan Malik dan selain keduanya (yaitu) : Berikrar dengan syahadat bahwa tidak ada Ilah yang berhak di sembah kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah dan bahwa Allah berada di atas Arsy-Nya di atas langit, mendekat kepada hamba-Nya sesuai kehendak-Nya dan bahwa Allah turun ke langit dunia sesuai dengan kehendak-Nya. (Ijtima`ul Juyusy hal. 122 dan Mukhtasur ‘Uluw hal. 176)

        Adapun Imam Ahmad maka beliau ini dikenal dan tersohor dalam membela madzhab yang haq ini, bahkan beliau mengarang suatu kitab yang agung (yaitu) Ar-Rodd ‘Alal Jahmiyah waz-Zanadiqoh.

        Perkataan Abul Hasan Al-Asy’ary rahimahullah[1] dalam kitabnya Ikhtilaful Mushollin wa Maqalatul Islamiyyin hal. 16 : “…Perkataan Ahlus Sunnah dan Ashabul hadits secara ringkas adalah Pengikraran terhadap Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, kitab- kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya dan apa-apa yang datang dari Allah dan apa-apa yang diriwayatkan Ats-Tsiqot (rawi-rawi terpercaya) dari Rasulullah, mereka tidak menolak sedikitpun dari hal tersebut bahwa Allah itu Satu, Esa, Sendiri, Maha Tegak, tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Dia …, dan bahwa Allah di atas Arsy-Nya sebagaimana firman-Nya Ta’ala :

        الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

        “(Rabb) Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy.” (QS. Thoha : 5)”

        (Lihat juga Ikhtilaf Ahlil Qiblat fil ‘Arsy hal. 211 dan Al-Ibanah Fii Usulid Diyanah).

        Hukum Bagi Yang Mengingkari Sifat Al-‘Uluw dan Istiwa’

        Telah berlalu sebagian ucapan para Imam tentang hal ini. Dan berikut ini beberapa tambahan dari ucapan para ‘ulama Ahlus Sunnah :

        @ Berkata Ibnu Khuzaimah rahimahullah : “Siapa yang tidak mengatakan bahwa Allah itu berada di atas langit-langit-Nya tinggi dan menetap di atas Arsy-Nya berpisah dari makhluk-Nya maka wajib dimintai tobat apabila dia bertobat maka diterima kalau tidak maka dipenggal lehernya kemudian dilemparkan ke tempat sampah agar manusia tidak terganggu dengan baunya”. (Disebutkan oleh Al-Hakim dalam Ma’rifatil ‘Ulumul Hadits hal. 152 dan Mukhtashor ‘Uluw hal. 225).

        @ Perkataan Imam ‘Abdurrahman bin Mahdy, sesungguhnya beliau berkata : “Tidak ada pengikut hawa nafsu yang lebih jelek dari pengikut Jahm (Jahmiyah) yang menyatakan bahwa tidak ada di atas langit sesuatu apapun, saya berpendapat –demi Allah-, mereka ini tidak boleh dinikahi dan tidak boleh diwarisi”. Lihat As-Sunnah karya Imam ‘Abdullah bin Ahmad 1/120, Syarh Ushul I’tiqod Ahlissunnah 1/220 dan lain-lainnya.

        @ Dan ‘Abdurrahman bin Abi Hatim meriwayatkan -dalam kitab Ar-Rodd ‘Alal Jahmiyah- dari ‘Abdurrahman bin Mahdy bahwa beliau berkata : “Pengikut Jahm mengatakan : “Sesungguhnya Allah tidak mengajak bicara Nabi Musa”, dan mereka mengatakan : “Tidak ada di atas langit sesuatu apapun dan bahwa Allah tidak berada di atas Arsy”. Saya berpendapat mereka harus diminta bertobat, kalau mereka bertobat (maka itu yang diharapkan) dan bila tidak maka mereka harus dibunuh”. Lihat Al-Asma` wa Ash-Shifat 1/286, Al-’Uluw hal. 118, Ijtima‘ul Juyusy hal. 264 dan selainnya.

        @ Dan dari Al-Ashma’iy dia berkata : Istri Jahm datang lalu singgah di tempat tukang samak maka berkatalah seorang lelaki disampingnya : “Allah berada di atas Arsy-Nya, maka dia (istri Jahm) berkata : “keterbatasan di atas keterbatasan”. Maka berkata Al-Ashma’iy : “Dia (istri Jahm) kafir dengan perkataan seperti ini”. Lihat Al-‘Uluw hal. 118 dan Mukhtashor Al-’Uluw hal. 270.

        @ Dan Imam Ad-Darimy dalam kitabnya Ar-Rodd ‘Alal Jahmiyah membuat bab khusus (dengan judul) Bab Argumen Tentang Pengkafiran Jahmiyah, dan didalamnya (beliau mengatakan) : “… dan kita mengkafirkan mereka juga karena mereka tidak tahu dimana Allah, tidak mensifati Allah dengan “dimana” padahal Allah telah mensifatkan dirinya dengan “dimana” dan Ar-Rasul shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam juga mensifatkan Allah dengannya, maka Allah berfirman :

        وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ

        “Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-An’am : 18)

        إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ

        “Sesungguhnya Aku akan mengambilmu[2] dan mengangkat kamu kepada-Ku”. (QS. Ali ‘Imran : 55).

        يَخَافُونَ رَبَّهُم مِّن فَوْقِهِمْ

        “Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka”. (QS. An-Nahl : 50)

        أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاء أَن يَخْسِفَ بِكُمُ الأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ

        “Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?,”.(QS. Al-Mulk : 16)

        dan ayat-ayat yang semisalnya, maka ini semua adalah pensifatan dengan “dimana”. Dan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam mensifati (Allah) dengan “dimana” tatkala beliau bertanya kepada budak wanita yang hitam : “Dimana Allah ?”, dia menjawab : “Di atas langit”, beliau berkata : “Siapa saya ?”, dia menjawab : “Engkau adalah Rasulullah”, beliau lalu berkata : “Bebaskan dia karena dia adalah seorang wanita yang beriman”. Dan Jahmiyah dikafirkan dengan hal ini dan ini juga termasuk dari kekufuran mereka yang jelas”.

        Dan beliau berkata : “Dan mereka (Jahmiyah) juga mengarahkan ibadah mereka kepada Ilah yang berada di bawah bumi yang paling bawah dan di atas permukaan bumi yang paling atas, di bawah langit yang ketujuh yang paling tinggi. Padahal sembahannya orang-orang yang shalat dari kalangan kaum mukminin yang mereka mengarahkan ibadah mereka kepada-Nya adalah Ar-Rahman yang berada di atas langit yang tujuh yang paling tinggi dan Dia Tinggi dan Menetap atas Arsy-Nya yang maha besar dan hanya milik-Nya nama-nama yang Husna (indah), Maha Berkah dan Tinggi nama-Nya. Maka kekafiran yang mana yang lebih jelas daripada apa yang kami hikayatkan dari mereka (Jahmiyah) selain dari (kekafiran) madzhab mereka”. Lihat Ar-Rodd ‘alal Jahmiyah hal. 202-203.

        [1] Beliau ini telah di zholimi dengan kezholiman yang melampaui batas sehingga di nisbahkan kepada beliau perkataan-perkataan dan pendapat-pendapat yang beliau sendiri telah berlepas diri dari hal tersebut dan rujuk kepada keyakinan Ulama Salaf Ahlus Sunnah .

        [2] Ada pendapat yang masyhur dan benar tentang مُتَوَفِّيْكَ ; Yang pertama bermakna قَابِضُكَ (mengambilmu) dan kedua bermakna مُنِيْمُكَ(menidurkanmu).

    • 16 thalib ilmi Oktober 25, 2013 pukul 4:07 pm

      semua muslim harus mengimana ayat istiwa. Namun tidak memaknai istiwa dengan bertempat. Karena jika istiwa Allah berarti bertempat maka itu tidak ada bedanya dengan sitiwa makhluk yang juga bertempat. Allah Maha mendengar dan Maha melihat, namun berbbeda dengan makhluk. Akalau Allah Maha mendengar dan melihat tanpa membutuhkan ruang sedangkan mahkluk mendengar dan melihat dengan butuh ruang.

      • 17 thalib ilmi Oktober 25, 2013 pukul 4:12 pm

        Yang suka kopas biasanya kagak ngerti makna kopasan. Bahkan akidahnya mungkin gak singkron dengan kopasan.

        Pingin bukti? Silahkan jawab ini: Jika istiwa Allah dimaknai bertempat dan istiwa makhluk juga bertempat, tunjukkan perbedaanya istiwa Allah dengan istiwa makhluk!

      • 18 ahmad Oktober 31, 2014 pukul 6:23 am

        Allah Maha melihat, bukankah makhluknya juga melihat??? Allah Maha mendengar, bukankah Makhluknya juga mendengar??? Tentu Anda akan menjawab, “Mendengarnya Allah tidak sama dengan makhluknya, Melihatnya Allah tidak sama dengan makhluknya”. Maka Kita katakan, Bersemayamnya Allah, tidak sama dengan makhluknya.

        Dan saya KOPAS Ayat-ayat Al-Qur’an yang menunjukkan Allah di atas:

        “Sesungguhnya Aku akan mengambilmu dan mengangkat kamu kepada-Ku”. (QS. Ali ‘Imran : 55).

        “Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka”. (QS. An-Nahl : 50)

        “Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?,”.(QS. Al-Mulk : 16)

        Silahkan Anda BANTAH AYAT-AYAT di atas satu per satu,,, tapi saya TIDAK mau mendengar pendapat Anda, Karena bisa saja salah, saya ingin mendengar perkataan para sahabat atau para tabi’in atau tabi’ut tabi’in….

        SILAHKAN BANTAH BAHWA ALLAH TIDAK DI ATAS, TAPI JANGAN PAKAI HAWA NAFSU…

  9. 19 ardhy Maret 11, 2014 pukul 4:46 am

    COBA JAWAB PERTAYAAN SAYA YG AWAM…” KENAPA FITRAH SAYA KETIKA BERDO’A YA ALLAH…Y A ALLAH… MENENGADAHKAN WAJAH INI DAN MENGANGKAT TANGAN KE ATAS / KE LANGIT..KE MANA HATI SAYA PERGI ???? KESAMPING ???? KEBAWAH???? PASTI MENUJU RABB-NYA YG DI LANGIT (KEATAS).PADAHAL ORANG YANG AWAM TIDAK TAU DALIL ALLAH ADA DILANGIT…KENAPA YA…??? YA INILAH FITRAH MANUSIA,….KECUALI ORANG-ORANG YG FITRAHNYA SUDAH RUSAK…

    Al-Imam Al-Baihaqi dalam kitabnya “Manaaqib Asy-Syaafi’i” juga menukil perkataan Al-Imam Asy-Syafi’i tentang persyaratan budak mukmin yang bisa dimerdekakan sebagai kaffaaroh.

    Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Dan yang lebih aku sukai jika ia menguji sang budak tentang pengakuannya terhadap hari kebangkitan setelah kematian dan yang semisalnya”. Dan Al-Imam Asy-Syafii menyebutkan hadits Mu’aawiyah bin Al-Hakam, bahwasanya Ia berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata tentang budak wanita yang ditampar olehnya, “Apakah wajib bagiku untuk membebaskan seorang budak?”. Maka Rasulullah bertanya kepada budak wanita tersebut, “Dimanakah Allah?”. Sang budak berkata, “Di langit”. Lalu Rasulullah bertanya lagi, “Siapakah saya?”. Maka sang budak wanita berkata, “Anda adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”. Maka Rasulullah berkata, “Bebaskan budak wanita ini” (Manaaqib Asy-Syaafi’i 1/394)

    Lihatlah dalam nukilan di atas ternyata Al-Imam Asy-Syafi’i menjadikan hadits tentang dimananya Allah sebagai dalil untuk menguji keimanan dan islamnya seorang budak, sehingga jika diketahui bahwa ia seorang budak muslimah maka bisa sah sebagai kaffarah pembebasan budak.

    • 20 thalib ilmi Maret 14, 2014 pukul 11:06 pm

      Fitrah beda dengan akal awam. Fitrah adalah adalah pengetahuan yg diberikan Allah kepada makhluknya. Pengetahuan ini selalu benar dan sesuai dengan nash sedangkan pengetahuan awam bisa benar bisa salah. Jadi tolok ukurnya tetap nash. Sedangkan nash al quran qathi menyatakan bahwa Allah mutlak berbeda dengan makhluknya. Sehingga pendapat awam yg berkeyakinan bahwa Allah bertempat di langit, sesuai dengan keyakinana agama konghucu yg juga berkeyakinan tuhan mereka berada di langit. Tentu ini tidak bisa disebut fitrah. Adapun Imam Syafi’i berbeda dg pandangan musyabih. Klo Imam As Syafii menggunakan hadits jariyah tidak untuk berdalil bahwa Allah berada di langit juga tidak untuk berdalil agar mengetes budak dengan Allah di langit atau tidak. Namun Imam Syafi’i menggunakannya untuk dalil sunnahnya mengetes keislaman budak Dengan menanyai masalah kebangkitan dan sejenisnya. di sini terlihat bahwa sang imam tidak memaknai hadits jariyah secara leterlijk.

    • 21 thalib ilmi Maret 14, 2014 pukul 11:19 pm

      Dan jangan puas dengan kopasan saja. Baca buku aslinya manaqib karya al baihaqi. Simak pendapat Al Baihaqi juga mengenai hadits jariyah. Dimana haditsnya mengandung illat dan jika itu shahih maka maksudnya bahwa Rasulullah berbicara sesuai dg akal budak dimana sebelum islam meyakini berhala sebagai tuhan di bumi. Jika si budak mengisyaratkan ke bumi berarti ia blum beriman namun ketika ia mengatakan di langit maka ia telah berlepas dari berhala.( manaqim as syafi’i, 1/397)

  10. 22 thalib ilmi Maret 16, 2014 pukul 1:13 am

    Gini aja mas ardhy. Biar diskusi jadi ok. Maka ane perlu tahu sejatinya akidah antum. Sebenarnya menurut antum sifat Istiwa Allah berbeda apa sama dg Istiwa makhluk? Kalo ane jelas beda. Kalau antum?

    • 23 ardhy Maret 16, 2014 pukul 1:55 pm

      asslamualaikum, aqidah ahlussunnah wal jamaah dari zaman ke zaman meyakini allah di langit. kita mengimani apa yang di katakan oleh Allah dan rosullanya yang mengatakan bahwa Alllah di langit dari banyak ayat alquran dan hadis yg shahih.seperti yang dikatakan oleh imam malik mengimaninya wajib. tanpa harus menayakan bagaimananya…karena keterbatasan akal dan ilmu manusia….tidak akan sampai kepada ilmu allah..kecuali ada dalil yang menyebutkan lain.
      para ulama hadist ahli tafsir mengatakan allah dilangit maha tinggi dari mahluknya. eh kita yg bukan ahlinya mentakan allah dimana-man, allah ada hati.. dll,.kita mengimani allah beritiwa.. tapi bukan berarti kita menyamakan allah dengan mahluk. ya jelas beda..
      allah memiliki tangan ya kita imani, tapi bukanya kita menyamakan allah dengan tangan mahluk..

      jangan sampai ada lagi perkataan pada zaman imam ahmad ALQUR”AN ITU MAHLUK…karena pemahaman jahmiyah… dan ahli bid’ah..

      pendapat para ulama dari zaman kezaman sudah jelas…
      dalil dari al qur’an dan hadist sudah terang benderang bagaikan matahari disiang bolong…
      karena kesombongan yang ada dalam dada menjadi hidayah enggan masuk kedalam hati kita…

      “Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?,”.(QS. Al-Mulk : 16)

      kita sesama muslim hanya bisa mengingatkan dan menasehati… hidaya hanya milik alllah…. mudah2an kita ditunjuki jalan yang lurus…

      • 24 thalib ilmi Maret 16, 2014 pukul 2:20 pm

        wah…jgn muter lagi dooong….skrg akidah ente meyakini istiwa Allah sama dg makhluk apa tidak? jawabannya cukup ya atau tidak. Masak akidah pokok gak bisa ngejawab?

  11. 25 ardhy Maret 16, 2014 pukul 3:42 pm

    assalamu’alaikum.??? bukanya jawab salam itu wajib????
    jawaban saya sudah jelas BERBEDA. tapi mengimaninya allah beristiwa itu wajib menurut kesepakatan ulama..kecuali jahmiyah…

    apakah ilmu antum sudah lebih faqih dari mereka??????

    coba baca artikelnya pelan-pelan pahami dan baca bismillah…
    jangan dengan akal dan hawa nafsu….

    kalau perlu wudhu dulu gih….biar dingin.. he..

    • 26 thalib ilmi Maret 16, 2014 pukul 6:50 pm

      ok. ketemu kita sama-sama bahwa sifat dzat Allah dalam kontek istiwa berbeda mutlak dg sifat dzat makhluk dalam kontek istiwa. Dan sama-sama meyakini ayat-ayat istiwa. Nah. kita masuk ke tahap ke dua membahas sifat istiwa makhluk. Istiwa jika dinisbatkan kepada makhluk maka ada beberapa makna: duduk, bersinggasana, tinggal, bertempat. Dari makna yg ada semua bisa selaras dg bertempat. Nah apakah istiwa yg dinisbatkan kepada Allah juga bermakna bertempat?

  12. 27 ardhy Maret 17, 2014 pukul 4:23 pm

    assalamu’alaikum….

    Allah Ta’ala bersemayam di atas Arsy. Di dalam ayat disebutkan Ar-Rahmaanu ‘alal ‘arsyistawaa. Secara bahasa istiwa’ itu memiliki empat makna yaitu:

    ‘ala (tinggi)
    Irtafa’a (terangkat)
    Sho’uda (naik)
    Istaqarra (menetap)

    Sehingga makna Allah istiwa’ di atas ‘Arsy ialah menetap tinggi di atas ‘Arsy.

    Sedangkan makna ‘Arsy secara bahasa ialah: Singgasana Raja. Adapun ‘Arsy yang dimaksud oleh ayat ialah sebuah singgasana khusus milik Allah yang memiliki pilar-pilar yang dipikul oleh para malaikat. Sebagaimana disebutkan di dalam ayat yang artinya, “Dan pada hari itu delapan malaikat memikul arsy.” Dan Allah sama sekali tidak membutuhkan ‘Arsy, tidak sebagaimana halnya seorang raja yang membutuhkan singgasananya sebagai tempat duduk.

    Demikianlah yang diterangkan oleh para ulama. Satu hal yang perlu diingat pula bahwa bersemayamnya Allah tidak sama dengan bersemayamnya makhluk. Sebab Allah berfirman yang artinya, “Tidak ada sesuatupun yang serupa persis dengan Allah, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11). Oleh sebab itu, tidak sama bersemayamnya seorang raja di atas singgasananya dengan bersemayamnya Allah di atas arsy-Nya. Inilah keyakinan yang senantiasa dipegang oleh para ulama terdahulu yang shalih serta para pengikut mereka yang setia hingga hari kiamat. Wallahu a’lam bish showaab (silakan baca kitab-kitab Syarah Aqidah Wasithiyah dan kitab-kitab aqidah lainnya).

    • 28 thalib ilmi Maret 18, 2014 pukul 11:06 am

      Istiwa raja di atas al Arsy (Singgasana) : menetap. Istiwa Allah di atas Al Arsy juga menetap. Begitukah? Tinggal jawab ya atau tidak. Ok?

  13. 29 thalib ilmi Maret 19, 2014 pukul 1:02 am

    Muter-muter trus… Jawab aja yang jelas. Istiwa raja di atas al Arsy (Singgasana) : menetap. Istiwa Allah di atas Al Arsy juga menetap? Yes or no. Jangan menghindar mulu. Akidah yg mendasar masak gak isa jawab? Ane kagak tanya kopasan. Ane ingin tahu akidah ente bisa gak menjawab pertanyaan yg amat sederhana di atas.

  14. 30 thalib ilmi Maret 19, 2014 pukul 1:29 am

    Yg di atas ma bukan jawaban. Jawabannya gak bakal ada di google bro. Jawabannya dah ada dikeyakinan ente tinggal ente berani gak mengakui. Ato takut bakal terbuka akidah ente yg kontradiktif hatta menurut ente sendiri.

  15. 31 aril rahman Al-malawy Maret 19, 2014 pukul 5:06 am

    Subhanallah..Allohu akbar..semangat ustdaz..semua tulisanmu sangat manfaat…jika dekat pasti saya akan bertalaqqi secara langsung..tp sebab saya diriau,saya hanya bisa membaca ilmu di blog ini..dan jika nantinya saya banyak tanya,harap ustadz tidak bosan menjawabnya….smg Alloh selalu memberimu kekuatan dalam mengemban tugas demi tercapainya yg haq itu adalah haq..

  16. 32 thalib ilmi Maret 21, 2014 pukul 10:12 pm

    Aqidah orang-orang bingung: 1.Meyakini bahwa istiwa Allah dan istiwa makhluk sama-sama bertempat. Terus mengatakan: Istiwa Allah beda dengan istiwa makhluk!
    2. Meyakini bahwa yad Allah dan yad makhluk sama-sama anggota badan. Trus mengatakan: Yad Allah beda dengan yad makhluk!
    3. Meyakini bahwa sifat nuzul Allah dan nuzul makhluk sama- sama gerakan.Trus mengatakan: Sifat nuzul Allah beda dengan makhluk!

  17. 34 ardhy Maret 30, 2014 pukul 6:13 am

    subhanallah…
    ulama-ulama besar empat mahzab dikatakan aqidah orang bingung…
    yang bingung ente xxxx….
    keslahan kamu dan jahmiyah itu selalu menayakan bagaimanainya????
    kalau kamu tanyakan dihadapan imam malik, mungkin dah disusir dari majlisnya…dan dikatakan ahli bid’ah..
    makannya kalau memahami alquran dan sunnah ikuti pemahaman sahabat..
    jangan menurut otak entee…
    rujuk kepada mereka biar ga terrsesat..
    kalau saya sih orang bodoh rujuk aja deh kepada para ulama…
    dari pada kelihatan pinter tapi sombong tidak mau menerima kebenaran..dan merendahkan orang
    semoga allah selalu memberikan hidayah kepada kita semua….
    wassalam..

    • 35 thalib ilmi April 2, 2014 pukul 11:22 pm

      Madzhab 4 hongkong. Ulama salaf itu mengimani istiwa tanpa menyimpulkan bagaimana dan ini akidah ane. Tapi kaum musyabih termasuk ente berani menyimpulkan bentuk dan tata cara istiwa yakni bertempat dan menetap. Ente yg bakal diusir imam malik kalau ada di majelis beliau!

  18. 36 ardhy April 7, 2014 pukul 2:46 am

    ga di baca sih artikelnya….
    takut ketahuan bodohnya ya…..
    aqidah ulama salaf..
    sperti imam malik meyakini allah bersemayam diatas arsy..
    meyakini allah memiliki tangan….
    meyakini allah berbicara…
    meyakini allah turun…
    karena itu yag dikatakan allah didalam al qur’an dan banyak ayat yang menyebutkannya….
    tapi aqidah salaf tiadak berarti menyamakannya dengan mahluk…
    kita cukup meyakininya…dan mengimaninya..apa yang allah katakan di dalam alquran..
    seperti kata imam malik..kita tidak boleh menayakannya bagaimananya???
    karena semua itu hal yang ghaib diluar akal dan indra manusia yg sangat terbatas.. kecuali ada dalil yang menyebutkannya…
    dan biarkan ayat-yat tercsebut seperti zdahirnya….
    tangan ente beda kan sma tangan monyet…???
    apalagi tangan allah dibandingkan dngan tangan makluknya,,, ga ada yang tau tangan allah itu sperti apa….imaninya aja apa yang diaktakan allah dalam alquran. begitu aqidah kami thalabil ilmi…
    yang salah mengambil ilmu…

    • 37 thalib ilmi April 11, 2014 pukul 12:43 am

      Istiwa
      Salaf: Istiwa wajib diyakini, maknanya diserahkan kepada Allah.
      Musyabih mujassim: Istiwa wajib diyakini dan dimaknai dengan bertempat sama dengan istiwa makhluk yang juga bertempat.

      Yadullah
      Salaf: Yadullah wajib diimani, maknanya diserahkan kepada Allah.
      Musyabih: Yadullah diimani, namun disimpulkan sebagai anggota badan, sama dengan yad makhluk, yad ente, yad monyet yang sama-sama anggota badan, meski ukuran dan sebagain bentuknya berbeda, tapi sama-sama diyakini sebagai anggota badan.

      Sifat kalam Allah
      Salaf: Diimani saja, menyerahkan makna hakikatnya kepada Allah.
      Musyabih: Meyakini bahwa kalamullah itu dengan huruf dan suara, seperti kalam makhluk.

      Sifat nuzul Allah
      Salaf: Diimani saja, hanya Allah yang tahu.
      Musyabih: Nuzul diyakini sebagai gerakan, sama dengan nuzulnya makhluk yang sama-sama gerakan.

      Nah, akidah ane akidah Salaf. Akidah ente yang kedua, benar kan??

  19. 38 ardhy April 7, 2014 pukul 3:23 am

    Assalamu’alaikun…..

    APAKAH AQIDAH THALABIL ILMI SAMA DENGAN AQIDAHNYA IMAM MALIK????
    PERTAYAAN THALABIL ILMI PERSIS SEPERTI APA YANG DIKATAKAN ORANG YANG BERTANYA KEPADA IMAM MALIK….

    Imam Malik bin Anas[1], Imam Darul Hijroh Meyakini Allah di Atas Langit

    Dari Abdullah bin Ahmad bin Hambal ketika membantah paham Jahmiyah, ia mengatakan bahwa Imam Ahmad mengatakan dari Syraih bin An Nu’man, dari Abdullah bin Nafi’, ia berkata bahwa Imam Malik bin Anas mengatakan,

    الله في السماء وعلمه في كل مكان لا يخلو منه شيء

    “Allah berada di atas langit. Sedangkan ilmu-Nya berada di mana-mana, segala sesuatu tidaklah lepas dari ilmu-Nya.”[2]

    Diriwayatkan dari Yahya bin Yahya At Taimi, Ja’far bin ‘Abdillah, dan sekelompok ulama lainnya, mereka berkata,

    جاء رجل إلى مالك فقال يا أبا عبد الله الرحمن على العرش استوى كيف استوى قال فما رأيت مالكا وجد من شيء كموجدته من مقالته وعلاه الرحضاء يعني العرق وأطرق القوم فسري عن مالك وقال الكيف غير معقول والإستواء منه غير مجهول والإيمان به واجب والسؤال عنه بدعة وإني أخاف أن تكون ضالا وأمر به فأخرج

    “Suatu saat ada yang mendatangi Imam Malik, ia berkata: “Wahai Abu ‘Abdillah (Imam Malik), Allah Ta’ala berfirman,

    الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

    “Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy”[3]. Lalu bagaimana Allah beristiwa’ (menetap tinggi)?” Dikatakan, “Aku tidak pernah melihat Imam Malik melakukan sesuatu (artinya beliau marah) sebagaimana yang ditemui pada orang tersebut. Urat beliau pun naik dan orang tersebut pun terdiam.” Kecemasan beliau pun pudar, lalu beliau berkata,

    الكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُوْلٍ وَالإِسْتِوَاءُ مِنْهُ غَيْرُ مَجْهُوْلٍ وَالإِيْمَانُ بِهِ وَاجِبٌ وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ وَإِنِّي أَخَافُ أَنْ تَكُوْنَ ضَالاًّ

    “Hakekat dari istiwa’ tidak mungkin digambarkan, namun istiwa’ Allah diketahui maknanya. Beriman terhadap sifat istiwa’ adalah suatu kewajiban. Bertanya mengenai (hakekat) istiwa’ adalah bid’ah. Aku khawatir engkau termasuk orang sesat.” Kemudian orang tersebut diperintah untuk keluar.[4]

    JAWABAN SUDAH JELAS SETERANG MATAHARI DISIANG BOLONG…
    BUKAN MATA INI YANG BUTA…
    TAPI MATA HATI YANG ADA DIDALAM DADA…
    DAN ORANG BISA MENILAI SIAPA YANG DI ATAS DALIL DAN SIAPA YANG DIATAS HAWA NAFSU…
    MEMANG BENAR YANG DICARI DARI DEBAT ITU HANYA KEMENENGAN BUKAN KEBENANARAN…. BUKAN KEBENARAN……
    YA JADI SUDAHLAH… KITA HANYA BISA MENGINGATKAN… HDAYAH HANYA MILIK ALLAH SUBHANA HUWATA’ALA…

    wassalam…

    [1] Imam Malik hidup pada tahun 93-179 H.

    [2] Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 138.

    [3] QS. Thaha: 5.

    [4] Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghofar, hal. 378.

  20. 39 thalib ilmi April 11, 2014 pukul 12:29 am

    Dari Abdullah bin Ahmad bin Hambal ketika membantah paham Jahmiyah, ia mengatakan bahwa Imam Ahmad mengatakan dari Syraih bin An Nu’man, dari Abdullah bin Nafi’, ia berkata bahwa Imam Malik bin Anas mengatakan,

    الله في السماء وعلمه في كل مكان لا يخلو منه شيء

    “Allah berada di atas langit. Sedangkan ilmu-Nya berada di mana-mana, segala sesuatu tidaklah lepas dari ilmu-Nya.”[2]

    _______________________________
    Wah ketinggalan bro, itu riwayat munkar perawi yang bernama Abdullah bin Nafi’ lemah. Imam Ahmad,”Bukan shahih hadits, dia lemah” (Tahdzib At Tahdzib, 6/37) Ibnu Adi memasukkan dalam kelompok perawi lemah (kamil Ad Du’afa’, 4/1556),”Meriwayatkan dari Malik hal-hal yang aneh”. Imam Al Bukhari,”Diketahui dan diingkari” (Ad Du’afa’, li Al Uqaili, 2/311).

    Yang riwayat shaih dari Imam Malik adalah riwayat ke dua yang mengimani istiwa dan diam. Tidak menyimpulkan bertempat kayak ente. He he he ….

    Kesalahan kedua, ente hanya bisa belajar terjemahan. Padahal di situ Imam Malik hanya mengucapkan ayat الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى , tanpa menyatakan Allah bertempat. Kemudian ente meyakini Imam Malik mengatakan Allah bertempat berdasarkan terjemahan. Inilah hasil belajar dari googling.

    Nah, hakikat istiwa tidak ada yang tahu, itu ajaran Imam Malik dan salaf, makanya maknanya diserahkan kepada Allah. Tidak dimaknai sendiri dengan bertempat.

    Masalah yad: Yad ente dengan yad monyet berbeda bentuk dzahirnya, tapi ada kesamaan yakni sama-sama anggota badan. Apakah ente juga juga meyakini yadullah berbeda bentuknya dengan yad monyet atau yad ente tapi sama-sama anggota badan??? He he he mulai puyeng loo…

    Kalau ane yadullah itu diimani saja, diserahkan maknanya kepada Allah, bukan disimpulkan sebagai anggota badan. Inilah akidah para salaf.

  21. 40 ahmad Oktober 31, 2014 pukul 6:43 am

    Subhanallah… Seperti itukah seorang penuntut ilmu???
    Jaga Lisan, Jaga Hati.

  22. 41 abdillah November 28, 2014 pukul 8:07 am

    Dalam Al Qur’an disebutkan ayat yang jelas:

    إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

    Artinya, “Sesungguhnya Rabb kalian adalah Allah yang telah menciptakan langit-langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy.” (Al A’raaf: 54).

    Ayat-ayat lain yang senada dengan ini, yang menunjukkan bahwa Allah bersemayam di atas Arasy ada 6 ayat lagi, yaitu: Yunus ayat 3, Ar Ra’du ayat 13, Ar Rahman ayat 5, Al Furqan ayat 59, As Sajadah ayat 4, dan Al Hadid ayat 4. Semuanya ada 7 ayat yang senada.

    Namun, kejelasan ini kemudian dimentahkan, ketika sebagian orang mulai mempertanyakan ayat-ayat di atas. Mereka mulai berkata: “Tunggu dulu! Jangan cepat menyimpulkan. Ayat-ayat itu tak menunjukkan bahwa Allah ada di atas langit. Sekarang kami bertanya, Arasy itu apa? Ber-istiwa’ (bersemayam) itu apa? As sama’u (langit) itu apa? Semua ini masih bisa ditafsirkan dengan pengertian tidak seperti yang Anda pikirkan.”

    Lebih jauh mereka beralasan, “Allah itu tidak di langit. Allah itu tidak di tempat yang tinggi. Dia tidak berada dalam ruang. Ruang itu adalah makhluk. Mustahil Allah terikat oleh makhluk. Allah tidak berada dalam ruang, tidak berada di luar ruang (sebab “luar ruang” juga makhluk), dan tidak berada di antara keduanya.”

    Dari pengertian mudah, bahwa Allah itu bersemayam di atas Arasy. Dan Arasy sebagaimana disebutkan para ulama, berada di atas langit tertinggi. Namun karena akal banyak bertanya (seperti sindrom Bani Israil), maka terbuka lebar kesulitan-kesulitan.

    Adapun tentang ketinggian Arasy, Rasulullah Saw.:

    إِذَا سَأَلْتُمُ الله فَاسْأَلُوْهُ اْلفِرْدَوْسَ فَإِنَّهُ وَسَطُ اْلجَنَّةِ وَ أَعْلاهَا وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ وَمِنْهُ تَفْجُرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ

    Artinya, “Jka kalian meminta, mintalah Al-Firdaus, karena dia syurga yang paling utama dan yang paling tinggi dan diatasnya adalah Arsy Allah, dan darinya terpancar sungai-sungai syurga.” (HR. Bukhari dalam Shahih-nya. Kitab Tauhid, Bab Wa Kaana Arsyuhu Alal Ma’i). [Perkataan Ibnu Taimiyyah dan dua riwayat di atas, dinukil dari tulisan Ustadz Khalid Syamhudi, dari situs almanhaj.or.id, berjudul “Aqidah Ahlus Sunnah Seputar Arasy”].

    Jelas sekali, bahwa Allah itu ada di atas Arasy. Arasy ada di atas langit tertinggi. Bahkan disebutkan, Arasy itu ada di atas air. Di atas Arasy ada Kursyi (sehingga kita mengenal istilah Ayat Kursyi). Allah bersemayam di atas itu semua.

    Lalu mengapa semua ini begitu sulit dipahami (terutama oleh kalangan ‘Asyariyin dan kawan-kawan)?

    Mereka beralasan, “Allah tidak di langit, atau di atas Arasy. Sebab semua itu adalah ruang. Ruang adalah makhluk. Allah tidak boleh terikat oleh ruang, sebab itu sama dengan Allah terikat oleh makhluk.”

    Letak kesalahan utama orang-orang itu ialah: “Mereka menyifati Allah dengan ciri-ciri makhluk yang membutuhkan tempat, arah, dan ukuran. Andaikan mereka bisa melepaskan diri dari gambaran makhluk, ketika mereka berbicara tentang Sifat-sifat Allah, maka hal itu akan menyelesaikan masalah ini.”

    Contoh, dalam hadits shahih disebutkan, bahwa Allah Ta’ala setiap akhir malam turun ke langit dunia, untuk melihat siapa yang berdoa, lalu dikabulkan-Nya; untuk melihat siapa yang mohon ampun, lalu diampuni-Nya. Hal ini mudah dipahami, dan tinggal kita amalkan dengan shalat malam, berdoa, serta memohon ampun di sepertiga akhir malam.

    Tapi di hadapan akal-akal yang aneh, mereka mempertanyakan banyak hal. “Dengan apa Allah turun ke langit dunia, dengan Dzat-Nya atau Ilmu-Nya? Kalau Allah turun, berarti nanti Dia akan lebih rendah dari makhluk-Nya. Kalau setiap akhir malam Allah turun, lalu saat pagi Dia balik ke atas lagi, berarti kerja-Nya bolak-balik saja, dong? Kan bumi itu bulat, mana atas mana bawah?”

    Begitulah, orang-orang itu menikmati sekali hujatan-hujatannya terhadap sebagian Sifat Allah yang Dia ajarkan melalui Sunnah Rasul-Nya. Seakan, ketika mereka telah melontarkan semua pertanyaan-pertanyaan itu, mereka telah menang; mereka telah ngangkangi dunia; mereka merasa puas karena “telah menaklukkan” Allah. Masya Allah, masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah. Semua pikiran-pikiran itu bukan menunjukkan kepintaran, tetapi bukti AROGANSI. Apa bedanya pikiran semodel itu dengan perkataan Bani Israil, ketika mereka mengatakan, “Yadullah maghlulah” (Tangan Allah itu terbelenggu). Laa ilaha illa Allah, laa ilaha illa Allah, Maha Suci Allah dari segala kekotoran yang mereka pikirkan.

    • 42 Skidah Salaf bukan Salafy Oktober 6, 2015 pukul 5:52 am

      Anda juga lancang jika memaknai istiwa dengan bertempat. Lebih baik diam menyerahkan maknanya kepada Allah.Inilah perbedaan antara akidah benar dengan aqidah tasybih menurut Imam Al Qurthubi dalam tafsirnya menganai istiwa dalam Al Quran:
      1. Membaca, mengimani, menyerahkan maknanya kepada Allah: Akidah Shahih Akidah Salaf
      2. Membaca, mebimani, memaknai secara dhahirnya: Akdiah Tsybih.

  23. 43 Yusron Oktober 23, 2015 pukul 7:45 am

    Apakah ketika Allah sendiri atau Rasul Nya menyatakan bhw Allah berada di langit, itu berarti bhw Allah membutuhkan tempat? Membutuhkan arah?

    Pertanyaan yg senada :
    Apakah ketika Allah berfirman kpd seluruh manusia dan jin : “Sembahlah Aku”, atau memerintahkan utk shalat, itu berarti bhw Allah (na’udzu billaah) “gila” hormat? Butuh disembah?

    Atau….
    Apakah ketika Allah memerintahkan kaum Muslimin utk membela agama Allah, itu berarti bhw Allah butuh dibela? Bhw Allah minta dibantu oleh manusia?

    Think again.

    Allah berada di langit bukan dng membutuhkan tempat. Punya arsy bukan krn membutuhkan arsy. Tp karena Allah melakukan apa2 yg Dia Kehendaki.

    Allah memerintahkan manusia utk menyembah Nya krn manusia sangat2 membutuhkan utk menyembah Allah.

    Dan Allah memerintahkan kaum Muslimin utk membela agama Nya karena manusia membutuhkan pertolongan Allah.

    ALLAH TIDAK MEMBUTUHKAN APAPUN DARI MAKHLUK NYA.
    TAPI MAKHLUK LAH YANG SANGAT MEMBUTUHKAN ALLAH.

    Allaah a’lam.

  24. 44 dek hafidh Mei 22, 2016 pukul 4:06 pm

    Allah swt tidak bertempat dan tidak pula dipertempatkan jelas..

  25. 45 dek hafidh Mei 22, 2016 pukul 4:13 pm

    dalam alquran yg tertulis jelas bahwa Allah swt menunjukkan kekuasaannya..
    baca jangan dari satu ayat pahami apa yg tertulis..
    dari surah al mulk ayat 16 17 jelas bahwa Allah menunjukkan kekuasaannya..
    bila mana Allah menurunkan bala bencana dari langit apa yg terjadi..
    ini yg disampaikan yg menunjukkan kekuasaanya..
    bukan menyatakan Allah berada dilangit..
    tidakkah engkau melihat keindahan bacaan al qur’an..
    maka pahamilah keindahan tersebut..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: