Imam Izzuddin Larang Jabat Tangan Setelah Shalat?

Sebagian kelompok membid’ahkan amalan yang biasa dilakukan di sebagian masyarakat Muslim yang bersalaman setelah shalat lima waktu  dengan pijakan fatwa Syeikh Al Islam Izzuddin bin Abdissalam. Dimana dalam kumpulan fatwa beliau, Kitab Al Fatawa (hal. 46, 47), beliau menyatakan,”Bersalaman setelah shubuh dan ashar bagian dari bid’ah-bid’ah. Kecuali bagi orang yang datang dan berkumpul dengan orang yang menyalaminya sebelum shalat. Sesungguhnya bersalaman disyariatkan ketika bertemu.”

Dari fatwa itu mereka menyimpulkan bahwa Syeikh Al Islam Izzuddin menghukum bersalaman setelah ashar dan shubuh adalah bid’ah, yang menurut istilah mereka adalah haram, karena mereka memahami setiap bid’ah adalah sesat.

Bahkan pentahqiq kitab kumpulan fatwa Syeikh Al Islam tersebut berkomentar di catatan kaki, bahwa amalan itu adalah bid’ah yang menjadi bala’ bagi umat saat ini yang meraja-lela. Lalu ia menukil sebuah hadits,”Sesungguhnya setiap hal yang diadakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat…”

Nah, benarkah pemahaman di atas, bahwa maksud Imam Izzuddin menyatakan bahwa hal itu bid’ah bermakna sebagai amalan yang haram dilakukan? Mari kita merujuk kepada pendapat para ulama mengenai masalah ini.

Istilah bid’ah menurut Imam Izzuddin berbeda dengan istilah yang dipakai oleh mereka yang menilai bahwa seluruh bid’ah adalah sesat termasuk pentahqiq. Dimana Imam Izzuddin berpendapat bahwa bid’ah terbagi menjadi dalam hukum lima, wajib, sunnah, makruh, haram dan mubah, seperti yang termaktub dalam kitab beliau Qawaid Al Ahkam (2/337-339). Sehingga, ketika Imam Izzuddin menyatakan bahwa bersalaman pada dua waktu itu termasuk bid’ah tidak otomatis merupakan hal yang haram.

Sebaliknya, dalam Qawaid Al Ahkam (2/339), dengan cukup gamblang Imam Izzuddin menyatakan bahwa bersalaman setelah ashar dan shubuh merupakan bid’ah mubah. Ketika Imam Izzudin menjelaskan pembagian bid’ah sesaui dengan hukum lima bersama contohnya, beliau menjelaskan bid’ah mubah,”Dan bagi bid’ah-bid’ah mubah, contoh-contohnya bersalaman setelah shubuh dan ashar.”

Hal ini juga dinukil juga oleh Imam An Nawawi dalam Tahdzib Al Asma wa Al Lughat (3/22), serta Al Adzkar dalam Al Futuhat Ar Rabaniyah (5/398) dengan makna yang sama. Sehingga siapa saja tidak bisa memaksa istilah Imam Izzuddin untuk dimaknai sesuai dengan istilah pihak yang menyatakan seluruh bid’ah adalah sesat.

Nah, hal ini sudah cukup menunjukkan bahwa maksud pernyataan Imam Izzuddin dalam fatwa itu adalah bid’ah mubah. Dan pemahaman para ulama yang mu’tabar semakin mengukuhkan kesimpulan itu, diantara para ulama yang memiliki kesimpulan serupa adalah:

Imam An Nawawi

Imam An Nawawi menyatakan dalam Al Majmu’ (3/459),”Adapun bersalaman yang dibiasakan setelah shalat shubuh dan ashar saja telah menyebut  As Syeikh Al Imam Abu Muhammad bin Abdis Salam rahimahullah Ta’ala,’Sesungguhnya hal itu bagian dari bid’ah-bid’ah mubah, tidak bisa disifati dengan makruh dan tidak juga istihbab (sunnah).’ Dan yang beliau katakan ini baik.

Imam An Nawawi (631-676 H) sendiri merupakan ulama yang hidup semasa dengan Syeikh Izzuddin (578-660) dan dua-duanya adalah ulama Syam, hingga beliau faham benar pernyataan Imam Izzuddin. Dengan demikian kesimpulan beliau tentang pernyataan Imam Izzuddin amat valid.

Lebih dari itu, Imam An Nawawi adalah ulama Syafi’iyah yang paling memahami perkataan Imam As Syafi’i dan ulama-ulama madzhabnya sebagaimana disebut dalam Al Awaid Ad Diniyah (hal. 55). Sehingga, jika ada seseorang menukil pendapat ulama As Syafi’iyah dengan kesimpulan berbeda dengan pendapat Imam An Nawawi tentang ulama itu maka pendapat itu tidak dipakai. Lebih-lebih yang menyatakan adalah pihak yang tidak memiliki ilmu riwayah dan dirayah dalam madzhab As Syafi’i.

Mufti Diyar Al Hadrami Ba Alawi

Ba Alawi mufti As Syafi’iyah Yaman, dalam kumpulan fatwa beliau Bughyah Al Mustrasyidin (hal. 50) juga menyebutkan pula bahwa Imam Izzuddin memandang masalah ini sebagai bid’ah mubah sebagaimana pemahaman Imam An Nawawi,”Berjabat tangan yang biasa dilakukan setelah shalat shubuh dan ashar tidak memiliki asal baginya dan telah menyebut Ibnu Abdissalam bahwa hal itu merupakan bid’ah-bid’ah mubah.”

As Safarini Al Hanbali

Bukan hanya ulama As Syafi’iyah saja yang memahami istilah khusus yang digunakan oleh Imam Izuddin. Meskipun As Safarini seorang ulama madzhab Hanbali,  beliau memahami bahwa Imam Izzuddin menyatakan masalah ini sebagai bi’dah mubah. Tertulis dalam Ghidza Al Albab (1/235), dalam rangka mengomentari pernyataan Ibnu Taimiyah yang menyebutkan bahwa berjabat tangan di dua waktu tersebut adalah bid’ah yang tidak dilakukan oleh Rasul dan tidak disunnahkan oleh seorang ulama sekalipun, Aku berkata, dan yang dhahir (jelas) dari pernyataan Ibnu Abdissalam dari As Syafi’iyah bahwa sesungguhnya hal itu adalah bid’ah mubah

Dengan demikian pendapat pihak yang menyebut bahwa Imam Izzuddin menghukumi haram berjabat tangan setelah shalat ashar dan shubuh hanya bersandar dari sebutan “bid’ah” dari beliau adalah kesimpulan yang jauh dari kebenaran. Hal ini disebabkan mereka tidak memahami bahwa Imam Izzudin memiliki istilah yang berbeda dengan istilah mereka. Sehingga pemahaman mereka tentang pernyataan Imam Izzuddin pun bertentangan pula dengan pemahaman para ulama mu’tabar. Allahu Ta’ala A’la wa A’lam

Rujukan

1. Qawaid Al Ahkam fi Ishlahi Al Anam, Syeikh Al Islam Izzuddin bin Aziz bin Abdissalam, t. Dr. Nazih Kamal Hammad dan Utsman bin Jum’ah Dzamiriyyah, Dar Al Qalam (1421 H).

2. Kitab Al Fatawa, Syeikh Al Islam Izzuddin bin Aziz bin Abdissalam, t. Abdurahman bin Abdil Fattah, cet. Dar Al Ma’rifah (1406 H).

3. Al Majmu, Imam An Nawawi, t. Dr, Mahmud Mathraji, cet. Darul Fikr (1426 H).

4. Tahdzib Al Asma wa Al Lughat, Imam An Nawawi, t. Muhammad Munir Ad Dimasyki, cet. Dar Al Kutub Al Ilmiyyah.

5. Al Awaid Ad Diniyyah, Al Allama As Syaliyati Al Malibari, t. Abdul An Nashir Ahmad As Syafi’i Al Malibari.

6. Bughyah Al Mustarsyidin, Syeikh Ba Alawi, cet. Nur Al Huda Surabaya.

7. Ghidza’ Al Albab, As Safarini Al Hanbali, t. Muhammad Abdul Aziz Al Khalid, cet. Dar Al Kutub Al Ilmiyyah (1417 H).

22 Responses to “Imam Izzuddin Larang Jabat Tangan Setelah Shalat?”


  1. 1 abuhamzah Oktober 10, 2011 pukul 6:36 am

    Alhamdulillah ilmu yang sangat bermanfaat Ustadz, Jazakumulloh Khoiron

  2. 2 Pencari Al Haq Oktober 10, 2011 pukul 3:45 pm

    Kesalahan penyimpulan juga didapati dalam buku Al Qaulul Mubin fi Akhth’ail Mushallin yang ditulis Masyhur Hasan Salman

  3. 3 abdullah Oktober 26, 2011 pukul 2:32 am

    Masalahnya, sebagian orang (awam) menganggap bersalaman setelah shalat adalah perkara “wajib”. Sehingga mereka memandang sinis orang yang tidak mau bersalaman setelah shalat.

    • 4 almanar Oktober 26, 2011 pukul 6:32 am

      Thoriq: Sebenarnya membahasan makalah ini hanya fukos untuk meluruskan pernyataan Imam Izzuddin yang banyak disalah artikan.
      Insyaallah untuk pembahasan mengenai hukumnya secara luas akan kami bahas kemudian.

      Setahu saya, belum pernah melihat ada yang meyakini bahwa bersalaman setelah shalat itu wajib. Paling banter diantara mereka yang membolehkan memandang bahwa itu sunnah, hingga yang mengambil pendapat ini merasa perlu melestarikannya. Nah, kalau seandainya ada yang perpendapat bahwa hal itu wajib, maka tulisan ini juga sekaligus menjadi pelurusnya.

      Untuk masalah khilafiyah, mengapa kita tidak longgar saja? Imam Mulla Ali Qari ulama madzhab Hanafi yang menyatakan bahwa bersalaman setelah shalat adalah bid’ah pun menyarankan kalau ada saudaranya mengulurkan tangan untuk menyalami hendaknya tidak menolaknya.

      Semoga kita ikut andil dalam meredam cerai-berainya umat Islam dikarenakan perbedaan dalam masalah furu’.

      • 5 acuy Oktober 29, 2011 pukul 5:38 pm

        seperti nya bertahun2 bahkan puluhan tahun ane baru denger :
        sebagian orang (awam) menganggap bersalaman setelah shalat adalah perkara “wajib”. Sehingga mereka memandang sinis orang yang tidak mau bersalaman setelah shalat.

        maaf sejak kecilpun ana saksikan ada yg bersalaman sambil baca shalawat, dgn berdiri berjejer ada yg langsung pergi,nggak ada yg anggap wajib,krn ane pun sama,kadang bersalaman berjejer dan kadang tidak,tak pernah ada yg permasalahkan,..biasa aja bgt,….

        sungguh…ini ane saksikan di jakarta tempo dulu,jawa barat dsk,jateng dsk,sama aja…wallahu a’alam jika ada di tempat lain yg seperti tsb di atas (menganggap spt wajib),…krn dr kecilpun kita telah di ajarkan dlm pengajian dan sekolah umum, yg wajib itu apa yg sunah itu apa…
        wallahu alam..

    • 6 Bpk nya Abdullah April 19, 2013 pukul 2:18 am

      tidak ada yg mengatakan wajib ya abdallah itu hanya su’u dzan ente…sudahlah ente gak usah su’u dzan dan berdusta seperti itu terhadap umat Islam…

    • 7 Ipmawan rdt September 17, 2015 pukul 10:44 am

      Anggapan seseorang itu tidak akan merubah hukum = wajib, sunah, mubah makruh, mubah mas .. Sebab hukum tidak di tetapkan berdasarkan anggapan seseorang tapi berdasarkan ketentuan dari Allah lewat Nabi..
      Jadi anggapan seseorang itu jangan di jadikan dasar untuk menghukumi sesuatu dlm agama..

  4. 8 abdullah November 1, 2011 pukul 3:42 am

    Rupanya banyak yang salah paham komentar saya. Saya tidak mengatakan wajib dalam pengertian istilah fikih (yaitu sesuatu yang jika ditinggalkan berdosa). Perhatikan, saya memberi tanda petik (“ ”) pada kata wajib. Maksud saya adalah salam-salaman setelah shalat telah menjadi semacam ‘urf di masyarakat, yang apabila seseorang tidak melakukannya maka akan dipandang menyalahi norma/etika yang berlaku, karena masyarakat telah turun temurun melakukannya.

    Mungkin ini tidak berlaku di kota-kota besar. Tapi di kampung saya demikianlah adanya.

    Intinya saya dapatkan 2 kutub yang berlebihan, yaitu yang ekstrem “mewajibkan” dan yang ekstrem membid’ahkan. Yang satu karena kurang ilmu. Yang lainnya karena tidak mengetahui perbedaan pendapat ulama dalam masalah ini.
    Dan sebaik-baik perkara adalah yang pertengahan. Setuju nggak mas Thoriq?

    P/s : Saya pembaca setia tulisan-tulisan mas Thoriq di majalah Hidayatullah. Teruskan menulis, semoga Allah selalu memberi barokah pada tulisan-tulisan mas Thoriq. Amin..

  5. 9 yung November 20, 2011 pukul 4:37 pm

    Bidah mubah ? berarti ga ada pahalanya dong. Ya ngapain diamalkan. Mending langsung dzikir aja yang hukumnya sunah.
    ________________
    Thoriq: Tulisan di atas penekananya kepada pelurusan istilah bid’ah yang digunakan Imam Izuddin yang banyak disalah pahami. Nah, adapun hukumnya secara khusus belum kita bahas secara rinci, namun bagi kalangan yang menyebutkan bahwa salaman setelah shalat adalah bid’ah mubah mereka juga menyebutkan bahwa salaman itu jadi sunnah, jika yang melakukannya belum bertemu sebelum shalat.

    Dan adapula yang menghukumi sunnah secara mutlak karena shalat merupakan bentuk perpisahan, hingga ketika selesai mereka seperti orang yang baru bertemu, dan dalil menunjukkan kesunnahan bersaman ketika bertemu. Juga merujuk kepada amalan Rasulullah dalam Shahih Al Bukhari yang menunjukkan bahwa beliau bersalaman kepada makmum setelah shalat ashar.Tentu kalau sunnah ya dapat pahala.

    Dan mereka yang bersalaman setelah shalat juga banyak yang meneruskan dzikir yang juga sunnah. Mudah-mudahan bermanfaat. Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam

  6. 10 aswaja selalu November 28, 2011 pukul 9:11 am

    ilmu yg bermanfaat, terima kasih yaa Ustadz….

  7. 11 Wong_nDalan Desember 28, 2011 pukul 11:48 am

    Assalamu’alaikum.,

    Lakum diinukum wa liadiin.,

    Kalau menurut anda bersalaman itu haram, itu hak anda. Tp JANGAN PERNAH ANDA MENGHARAMKAN ORANG LAIN BERSALAMAN karena itu adalah ilmu anda dan hukum anda sendiri.
    Menurut saya, yg berhak mengHARAMkan adalah Allah dan Rasul-Nya, serta para mujtahid. Apakah anda sudah memenuhi syarat menjadi mujtahid? Ko’ berani-beraninya mengHARAMkan sesuatu?????

    Wassalamu’alaikum.,

  8. 12 Edhie Soeprapto Januari 11, 2012 pukul 10:44 am

    Dalam melakukan amalan ibadah lebih baik kita lakukan sebagaimana yang Rosul pernah lakukan, bukankah beliau teladan yang terbaik bagi kita. Meskipun baik kita lihat tetapi kalau Rosul SAW tidak pernah melakukan lebih baik kita tidak melakukan.
    _________________
    Sunnah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam itu tidak hanya perbuatan, tapi juga perintah dan persetujuan beliau. Dan beliau memerintahkan untuk bersalaman ketika bertemu. Nah, para ulama ada yang berpendapat bahwa shalat merupakan perpisahan hingga selesai shalat merupakan bentuk pertemuan, sehingga ada fuqaha yang menilai bahwa bersalaman setelah shalat merupakan sunnah.

    Ada pula yang menilai bahwa itu bukan pertemuan namun perbuatan itu tidak sampai pada kategori haram, hanya tidak sampai pada derajat sunnah alias mubah. Namun, jika yang bersangkutan belum bertemu di saat sebelum shalat, maka mereka juga mensunnahkannya, kerena selesainya shalat merupakan bentuk pertemuan.

    Rasulullah sendiri sesaui dengan riwayat Bukhari bersalaman dengan para sahabat beliau setelkah shalat Ashar.

    Sebab itulah beberapa ulama menghukumi Sunnah.

  9. 13 abdul manan Maret 24, 2012 pukul 2:51 pm

    assalamu’alaikum.mf gk sengaja mampir disini.wah jd tmbah ilmu nih.Jd mmpir gk sngaja tu=tersesat.tp insyaALLOH”TERSESAT DIJALAN YG BENAR”.teruslah brkarya dan smga jd amal anda.klo sy pribadi baik2 sj hbs shlt trus salaman.yg jd prtanyaan adlh jk habis shlt trus kencing ke wc,ato trus gerak2 badan,dll bid’ah kah?jd salaman “mungkin”jd prbuatan yg lebih baik daripada gerak badan dll.wallohu a’lam.wsslm

  10. 14 muhtadi November 12, 2012 pukul 7:13 am

    Assalamualaikum…..Saudara-saudaraku yang seiman..yuuk kita tidak usah mudah membidahkan orang lain. ada pekerjaan umat yang lebih besar yaitu menjaga persatuan umat Islam. kalau ulama zaman dahulu sangat hati-hati dalam memberi fatwa. sekarang baru baca literatur tidak seberapa banyak. kadang sudah berani memberikan fatwa. bertawadhu’lah atas perbedaan yang bukan persoalan prinsip atau qoth’i. selain itu dan kadang kita kurang memperhatikan sisi lain dari urf atau kebiasaan yang ada dimasyarakat yaitu hikmah atau tujuan lain dari amaliah itu tidak semata-mata persoalan hukum boleh dan tidaknya suatu perkara. bukankah bersalaman itu lebih baik..dari pada saling acuh..antar saudara seiman..

  11. 15 eki April 3, 2013 pukul 3:04 pm

    hadeh jd binggung, ambil sisi positifnya aja mas2, yg salaman ya monggo asalkan jgn terbersit di hatinya mewajibkan salaman setelah sholat, jgn sampai ada yg mau salaman ditolak apalagi sampai ditepis tangannya itu yg gak benar, artikelnya bagus2…. semoga menjadi berkah untuk mendapatkan keridhoan Allah SWT amin.

  12. 18 aan November 8, 2013 pukul 4:24 am

    Ustad toriq. semua tulisan saudar hanya perkiraan anda terhadap ust.izzudin. agama jangan pakai analisa ustad anda langsung merujuk kepada induknya AL-QUR’AN, HADIST DAN PEMAHAMAN PARA SAHABAT. lama lama agama ini bias dengan tulisan saudara

    • 19 Denmaz November 12, 2013 pukul 3:00 pm

      Saudara Aan yg sy hormati,
      tulisan di atas adalah menjelaskan pernyataan imam Izzudin dengan detail di Qawaid Al Ahkam. Mohon dibaca dgn seksama agar tak timbul perpecahan. Jk saudara berbeda pendapat, tak mengapa. Silakan.
      Beberapa ayat Al-Quran pun ada yg ditafsirkan berbeda untuk setiap penafsir, walau sebagian besar sama. Demikian juga hadits.
      Jadi silakan meyakini yang saudara anggap benar, namun juga tidak elegan menghakimi orang lain. Biarlah diantara kita semua berbeda pemahaman, yang penting masih memelihara ukhuwah islamiyah. Masih menjalankan rukun islam yang 5 dan rukun iman yang 6.
      Bagi saya yang teramat rendah ilmu fiqihnya, yang demikian itu (kebersamaan rukun islam & iman) adalah yang terpenting. Mohon maaf bila ada khilaf dan salah kata. Wallahu A’lam

    • 20 thalib ilmi Maret 19, 2014 pukul 1:41 am

      Baca dulu temanya bro. Itu tulisan memang temanya pendapat Imam Izzudin yg disalah artikan. Tidak bahas pendalilan atau yg lain. Dan bukan berarti tidak ada dalilnya.

  13. 21 Agus budi priyono Juni 28, 2014 pukul 2:18 am

    Apakah kita tidak boleh mempererat siratulrahmi diantara umat muslim setelah sholat..naudzubilah..kita sebagai manusia harus saling mempertebal kebersamaan itulah hablumminanas tks


  1. 1 Ahli bid’ah sebenarnya « Mutiara Zuhud – Letakkan dunia pada tanganmu dan akhirat pada hatimu Lacak balik pada November 3, 2011 pukul 1:37 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: