Imam As Syafi’i dan Para Sufi

Di beberapa tempat, Imam As Syafi’i telah memberi penilaian terhadap para sufi. Yang sering dinukil dari perkataan beliau mengenai sufi bersumber dari Manaqib Al Imam As Syafi’i yang ditulis oleh Imam Al Baihaqi.

Di dalam kitab itu, Imam As Syafi’i menyatakan, “Kalau seandainya seorang laki-laki mengamalkan tashawuf di awal siang, maka tidak tidak sampai kepadanya dhuhur kecuali ia menjadi hamqa (kekurangan akal).” (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)

Beliau juga menyatakan,”Aku tidak mengetahui seorang sufi yang berakal, kecuali ia seorang Muslim yang khawwas.” (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)

Beberapa pihak secara tergesa-gesa menyimpulkan dari perkataan di atas bahwa Imam As Syafi’i mencela seluruh penganut sufi. Padahal tidaklah demikian, Imam As Syafi’i hanya mencela mereka yang menisbatkan kepada tashawuf namun tidak benar-benar menjalankan ajarannya tersebut.

Dalam hal ini, Imam Al Baihaqi menjelaskan,”Dan sesungguhnya yang dituju dengan perkataan itu adalah siapa yang masuk kepada ajaran sufi namun mencukupkan diri dengan sebutan daripada kandungannya, dan tulisan daripada hakikatnya, dan ia meninggalkan usaha dan membebankan kesusahannya kepada kaum Muslim, ia tidak perduli terhadap mereka serta tidak mengindahkan hak-hak mereka, dan tidak menyibukkan diri dengan ilmu dan ibadah, sebagaimana beliau sifatkan di kesempatan lain.” (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/208)

Jelas, dari penjelasan Imam Al Baihaqi di atas, yang dicela Imam As Syafi’i adalah para sufi yang hanya sebatas pengakuan dan tidak mengamalkan ajaran sufi yang sesungguhnya.

Imam As Syafi’i juga menyatakan,”Seorang sufi tidak menjadi sufi hingga ada pada dirinya 4 perkara, malas, suka makan, suka tidur dan berlebih-lebihan.” (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)

Imam Al Baihaqi menjelaskan maksud perkataan Imam As Syafi’i tersebut,”Sesungguhnya yang beliau ingin cela adalah siapa dari mereka yang memiliki sifat ini. Adapun siapa yang bersih kesufiannya dengan benar-benar tawakkal kepada Allah Azza wa Jalla, dan menggunakan adab syari’ah dalam muamalahnya kepada Allah Azza wa Jalla dalam beribadah serta mummalah mereka dengan manusia dalam pergaulan, maka telah dikisahkan dari beliau (Imam As Syafi’i) bahwa beliau bergaul dengan mereka dan mengambil (ilmu) dari mereka. (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)

Kemudian Imam Al Baihaqi menyebutkan satu riwayat, bahwa Imam As Syafi’i pernah mengatakan,”Aku telah bersahabat dengan para sufi selama sepuluh tahun, aku tidak memperoleh dari mereka kecuali dua huruf ini,”Waktu adalah pedang” dan “Termasuk kemaksuman, engkau tidak mampu” (maknanya, sesungguhnya manusia lebih cenderung berbuat dosa, namun Allah menghalangi, maka manusia tidak mampu melakukannya, hingga terhindar dari maksiat).

Jelas, bahwa Imam Al Baihaqi memahami bahwa Imam As Syafi’i mengambil manfaat dari para sufi tersebut. Dan beliau menilai bahwa Imam As Syafi’i mengeluarkan pernyataan di atas karena prilaku mereka yang mengatasnamakan sufi namun Imam As Syafi’i menyaksikan dari mereka hal yang membuat beliau tidak suka. (lihat, Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)

Bahkan Ibnu Qayyim Al Jauziyah menilai bahwa pernyataan Imam As Syafi’i yang menyebutkan behwa beliau mengambil dari para sufi dua hal atau tiga hal dalam periwayatan yang lain, sebagai bentuk pujian beliau terhadap kaum ini,”Wahai, bagi dua kalimat yang betapa lebih bermanfaat dan lebih menyeluruh. Kedua hal itu menunjukkan tingginya himmah dan kesadaran siapa yang mengatakannya. Cukup di sini pujian As Syafi’i untuk kelompok tersebut sesuai dengan bobot perkataan mereka.” (lihat, Madarij As Salikin, 3/129)

Imam As Syafi’i Memuji Ulama Sufi
Bahkan di satu kesempatan, Imam As Syafi’I memuji salah satu ulama ahli qira’ah dari kalanagn sufi. Ismail bin At Thayyan Ar Razi pernah menyatakan,”Aku tiba di Makkah dan bertemu dengan As Syafi’i. Ia mengatakan,’Apakah engkau tahu Musa Ar Razi? Tidak datang kepada kami dari arah timur yang lebih pandai tentang Al Qur`an darinya.’Maka aku berkata,’Wahai Abu Abdillah sebutkan ciri-cirinya’. Ia berkata,’Berumur 30 hingga 50 tahun datang dari Ar Ray’. Lalu ia menyebut cirri-cirinya, dan saya tahu bahwa yang dimaksud adalah Abu Imran As Shufi. Maka saya mengatakan,’Aku mengetahunya, ia adalah Abu Imran As Shufi. As Syafi’i mengatakan,’Dia adalah dia.’” (Adab As Syafi’i wa Manaqibuhu, hal. 164)

Walhasil, Imam As Syafi’I disamping mencela sebagian penganut sufi beliau juga memberikan pujian kepada sufi lainnya. Dan Imam Al Baihaqi menilai bahwa celaan itu ditujukan kepada mereka yang menjadi sufi hanya dengan sebutan tidak mengamalkan ajaran sufi yang sesungguhnya dan Imam As Syafi’i juga berinteraksi dan mengambil manfaat dari kelompok ini. Sedangkan Ibnu Qayyim menilai bahwa Imam As Syafi’i juga memberikan pujian kepada para sufi.

Dengan demikian, pernyataan yang menyebutkan bahwa Imam As Syafi’i membenci total para sufi tidak sesuai dengan data sejarah, juga tidak sesaui dengan pemahaman para ulama mu’tabar dalam memahami perkataan Imam As Syafi’i. Wallahu’alam…

Rujukan:
1. Manaqib Al Imam As Syafi’i, karya Al Baihaqi, t. As Sayyid Ahmad Shaqr, cet.Dar At Turats Kairo, th.1390 H.
2. Madarij As Salikin, karya Ibnu Qayyim Al Jauziyah, cet. Al Mathba’ah As Sunnah Al Muhamadiyah, th. 1375 H.
3. Adab As Syafi’I wa Manaqibuhu, karya Ibnu Abi Hatim Ar Razi, cet. Dar Al Kutub Al Ilmiyah, th. 1424 H.

16 Responses to “Imam As Syafi’i dan Para Sufi”


  1. 1 abuhamzah_wr Juni 7, 2011 pukul 1:37 pm

    tambah ilmu bermanfaat, Jazakumulloh khoirn Ustadz

  2. 2 malikul Juni 8, 2011 pukul 1:53 pm

    Adakah bermakna, kita membincangkan perilaku imam syafie. Beliau hanyalah seorang insan biasa, yang mana ajaran2 yang dikatakan dari beliau bercanggah dengan tok guru beliau. Jadi, dari manakah ilmunya hadir? Adakah dari syaitan sendiri? Kenapa kita mengikut fekah yang dibukukan beliau? walhal Alquran sudah lebih dari cukup?
    Nauzibillah. Wallahualam.

    _________________
    Thoriq: Kita memang membincangkan perbuatan dan pendapat Imam As Syafi’i. Kenapa? Karena ada pihak yang menyatakan bahwa Imam As Syafi’i mengatakab hawa Sufi itu sesat. Tapi nyatanya tidaklah demikian, faktanya Imam As Syafi’i hanya mencela para sufi label saja, bukan yang hakiki. Sebab itulah saya menulis ertikel ini untuk meluruskan opini tersebut.

    Saya rasa, tulisan anda berangkat dari pemikiran bahwa fiqih dan Al Qur`an dan Sunnah adalah dua hal yang tidak bertemu. Bukanlah demikian, fiqih itu dibangun di atas dalil Al Qur`an dan Sunnah. Adakah kita lebih memahamai Al Qur`an dan As Sunnah dari Imam As Syafi’i, sedangkan 30 juz Al Qur`an sudah beliau hafal sejak kanak-kanak dan dalam satu hari bacaan Al Quran beliau bisa mencapai 30 juz? Dan hadits yang beliau hafal sebanyak 400 ribu hadits atau lebih.

    Kita belum sampai tingakatan itu, makanya lebih percaya terhadap pemahaman Al Quran dan As Sunnah yang dipahami Imam As Syafi’i, daripada pemahaman sendiri terhadap Al Qur`an dan Sunnah. Beda kalau seandainya kita sudah memiliki kemampuan setaraf beliau….

    Memang, Imam As Syafi’i tidaklah maksum, kita pula juga tidak maksum. Bedanya Imam As Syafi’i seorang mujtahid, namun kita tidak. Tentu pemahaman mengenai Al Qur`an dan Sunnah yang dimiliki Imam As Syafi’i jauuuuuuuuuh labih baik daripada pemahaman kita sendiri yang bukan alim apalagi mujtahid mutlak.

    Mudah-mudahan paparan ini bermanfaat.

  3. 4 Abdul Halim Juni 22, 2011 pukul 7:57 pm

    Saya sudah terjemah artikel ini ke dalam English, sila betulkan jika ada silap ya.. harap disebarkan juga jika pass quality check nya… Syukron.

    Imam As Syafi’i and Sufis

    In various articles, Imam Asy-Syafi’I gave evaluations regarding Sufis. The ones often mentioned regarding the latter is sourced from the Biography of Asy-Syafi’I (Manaqib Imam Asy-Syafi’i) which is written by Imam Al-Bayhaqi.

    In the book, Imam Asy-Syafi’I said ‘If there is a man who is practicing Tasawwuf early in the morning, Zhuhr (the time in the noon) will not reach him except that he’ll become a Hamqa (which means mental defiency). (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)

    He (Imam Asy-Syafi’i) also said “I didn’t knew any sound Sufi, except that he’s a Muslim which is Khawwas” (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207

    Some people hasten to make conclusions from these words that this means Imam As Syafi’i condemns Sufi as a whole. This is untrue, since he only targeted the ones who claim to practice Tasawwuf but didn’t really emulated the practice itself. (In other words, a wannabe Sufi).
    This statement is backed up by Imam Al-Bayhaqi’s explanation: “Verily, the ones who are meant with these words are the ones who “signed up” for Sufi practices and sufficed the verbal statements of Sufism for himself, and writings of its Essence, whereas they abandon the efforts to make a living and became parasites to the Muslims, where they didn’t care about them (Muslims) and didn’t respect their rights, and didn’t concentrate in their pursue for the Knowledge of Deen and prayers, as he characterized (the meaning of his condemnation) in times when he had a chance to do so. (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/208)

    Clearly, from the elaboration from Imam Al-Bayhaqi above, the ones who are condemned are Sufis who only claim to practice its teachings but didn’t truly do so.

    Imam Asy Syafi’I also said, “A Sufi will not become a Sufi until he attains 4 things; Laziness, Eating excessively, Sleeping excessively and excesses in everything else (which is unnecessary for him)” (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)

    Imam Al-Bayhaqi explained these words from As Syafi’i: “Verily, the condemnation is targeted towards the ones who actually have these characteristics. The ones who are Pure in their Sufism with Tawakkal to Allah Azza Wa Jalla totally, and uses the means of the Syari’ah in his Mu’amalah towards Allah Azza Wa Jalla in their ‘Ibadah, and their Mu’amalah with humankind in their social activities, therefore it is narrated from Al Imam As Syafi’i that he himself made acquaintance with them and obtained (knowledge) from them. (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)

    Then, Imam Al Baihaqi mentioned a narration, that Imam As Syafi’i once said “I’ve befriended with Sufis for thirty years, and I’ve not obtained from them except two sentences, (which is); “Time is (like a) sword” and “It is part of Ma’sum, (where) you’ll not be able (to do so)” (Which means, mankind are always prone towards sins, but Allah has prohibited him to do so, therefore Man couldn’t do it, which results in them refraining to commit the sins)

    It is clear that Imam AL-Baihaqi understood that Imam As Syafi’I takes valuable lessons from Sufis. And he evaluated that Imam As Syafi’I stated as above in accordance to the habit of certain people who elevated Sufis unnecessarily, but Imam As Syafi’i witnessed from them things which he didn’t like. (See Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)

    Moreover, Ibnul Qayyim Al Jauziyah evaluated Imam As Syafi’i’s statement where he quoted two or three other narrations from Sufis as a compliment to these people; for example “O you people, for two Words which bring more benefit and more complete. Both of these things show how high his opinion (towards these people) and (a manifestation of) realization of the very person who said these words (Imam Asy Syafi’i). The praise As Syafi’i expressed for these people is sufficient enough, which goes according to their sayings. (See Madarij As Salikin, 3/129)

    Imam Asy Syafi’i Praises Sufi Ulama’
    Moreover, in another incident, Imam As Syafi’I praised one of the Alim of Qira’ah among the Sufis. . Ismail bin At Thayyan Ar Razi once said, “I reached Makkah and met with Asy Syafi’i. He asked “Did you know Musa Ar Razi? There is not a person who came to us from the east who knew more about Qur’an than him.” I then asked, “O Abu Abdillah, describe him to me”. He answered, “He’s aged from 30 to 50 years, and he’s from Ar-Ray. Then he described more about him, and I came to know that the person he described is none other than Abu Imran As Sufi himself. I answered, “I know who he is, he’s Abu Imran As Sufi.”. Asy Syafi’I replied “That’s him”. (Adab As Syafi’i wa Manaqibuhu, pg. 164)

    Amazingly, while condemning some Sufis, Imam Asy Syafi’i also praised other Sufis as well. And Al-Bayhaqi concluded that his condemnations are only directed toward the Sufis who claim to practice it through their tongues, but didn’t practice it in essence, and verily, Imam Asy Syafi’I also interacted and took benefit from them. While Ibnul Qayyim also concluded that Imam Asy Syafi’I also praised Sufis.
    For that, the statements which claimed that Imam As Syafi’i despised Sufis is not with accordance with historical data, and it is also not in accordance with the understanding of the Ulama in understanding Imam As Syafi’i. And Only Allah Knows Best.

    References:
    1. Manaqib Al Imam As Syafi’i, by Al Baihaqi, t. As Sayyid Ahmad Shaqr, Dar At Turats cairo, yr.1390 H.
    2. Madarij As Salikin, by Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Al Mathba’ah As Sunnah Al Muhamadiyah, yr. 1375 H.
    3. Adab As Syafi’I wa Manaqibuhu, by Ibnu Abi Hatim Ar Razi, Dar Al Kutub Al Ilmiyah, yr. 1424 H.

    Translated by Abdul Halim Poh Yuen Wu (Malaysia)
    Please make du’aa for me. 
    ______________________________
    Thoriq: Silahkan disebarkan…sama-sama, mohon doa untuk kami agar diberi Taufiq dari Allah…

  4. 5 yung November 20, 2011 pukul 4:17 pm

    Imam Syafiie sendiri seorang sufi bukan ?
    ____________________________________
    Thoriq: Taruhlah, beliau bukan Sufi,namun apakah hal itu menyebabkan pernyataan posistif beliau tentang sufi yang murni menjadi gugur? Tentu tidak.

    • 6 taufiqurrahman al bhuguriy April 22, 2013 pukul 7:53 am

      imam syafi’ie masuk kedallam ketegori auliya allah, entah itu yang ausath atau yang autad, tidak banyak ulama yang mengetahui karena ke sufi’an beliau tertutupi oleh ilmu2 sya’riat yang beliau miliki . dalam kitab2 pencirian para auliya ada,

  5. 8 rofi Oktober 3, 2012 pukul 4:07 am

    Imam Al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanadnya dari Yunus bin Abdil A’la, dia berkata: Aku mendengar Imam Asy-Syafii berkata: “Kalau seorang menganut ajaran tasawuf (tashawwuf) pada awal siang hari, tidak datang waktu zhuhur kepadanya melainkan engkau mendapatkan dia menjadi dungu.” (Manaqib Imam As-Syafii 2/207, karya Imam Al-Baihaqi).

    Imam Asy-Syafii mengatakan: “Tidaklah aku melihat seorang sufi yang berakal sama sekali.” (Manaqib Imam As-Syafii 2/207, karya Imam Al-Baihaqi).

    Imam Asy-Syafii juga berkata: “Dasar landasan tasawwuf adalah kemalasan.” (Al-Hilyah 9/136-137).

    suatu waktu Imam Waki’ (salah satu guru Imam Asy-Syafii) berkata kepada Sufyan bin ‘Ashim: “Kenapa engkau meninggalkan hadits Hisyam?” Sufyan bin Ashim menjawab: “Aku berteman dengan satu kaum dari sufiyyah, dan aku merasa kagum dengan mereka, kemudian mereka berkata: ‘Jika kamu tidak menghapus hadits Hisyam, kami akan berpisah denganmu’.” Maka Imam Waki’ berkata: “Sesungguhnya ada kedunguan pada mereka.” (Talbis Iblis hal 371-372)

    _________________________________
    Thoriq: Wah, nukilan antum dah terjawab tuh di atas. Imam Al Baihaqi telah menjelaskan maksud dari pernyataan Imam As Syafi’i yang antum nukil itu.

    • 9 rofi Oktober 3, 2012 pukul 11:30 am

      Nukilan dibawah ini belum dijawab?

      Imam Asy-Syafii juga berkata: “Dasar landasan tasawwuf adalah kemalasan.” (Al-Hilyah 9/136-137).
      _________________________
      Sudah dijawab juga meski tidak persis pernyataan Imam As Syafi’i yang serupa Imam As Syafi’i menyatakan,”Seorang sufi tidak menjadi sufi hingga ada pada dirinya 4 perkara, malas, suka makan, suka tidur dan berlebih-lebihan.” (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)

      Imam Al Baihaqi menjelaskan maksud perkataan Imam As Syafi’i tersebut,”Sesungguhnya yang beliau ingin cela adalah siapa dari mereka yang memiliki sifat ini. Adapun siapa yang bersih kesufiannya dengan benar-benar tawakkal kepada Allah Azza wa Jalla, dan menggunakan adab syari’ah dalam muamalahnya kepada Allah Azza wa Jalla dalam beribadah serta mummalah mereka dengan manusia dalam pergaulan, maka telah dikisahkan dari beliau (Imam As Syafi’i) bahwa beliau bergaul dengan mereka dan mengambil (ilmu) dari mereka. (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)

      • 10 rofi Oktober 3, 2012 pukul 11:35 am

        Lihat/baca, Imam Asy-Syafii tidak berkata pribadi orang sufinya, tapi ajaran sufinya “tasawwuf”
        _____________________
        Shufi adalah pelaku tasawuf adalah lelaku.

  6. 11 rofi Oktober 4, 2012 pukul 3:11 am

    suatu waktu Imam Waki’ (salah satu guru Imam Asy-Syafii) berkata kepada Sufyan bin ‘Ashim: “Kenapa engkau meninggalkan hadits Hisyam?” Sufyan bin Ashim menjawab: “Aku berteman dengan satu kaum dari sufiyyah, dan aku merasa kagum dengan mereka, kemudian mereka berkata: ‘Jika kamu tidak menghapus hadits Hisyam, kami akan berpisah denganmu’.” Maka Imam Waki’ berkata: “Sesungguhnya ada kedunguan pada mereka.” (Talbis Iblis hal 371-372)
    _______________________
    Yang dimaksud dungu di situ dah jelas para shufi teman Sufyan bin Ashim, kenapa dungu? Karena mereka menolak hadits Hisyam. Dah jelas sebab pencelaan Imam Waqi’. Sehingga para shufi lurus seperti yang dijelaskan oleh Imam Al Baihaqitidak termasuk, karena mereka tidak menolak Syari’ah.

    Adanya kelompok shufi yang melenceng tidak otomatis mencatati tashawuf dan para shufi yang lurus, sebagaimana ketika ada perawi hadits yang melenceng (memelasukan hadits) tidak mencacati para muhaddits secara keseluruhan.

  7. 12 rofi Oktober 4, 2012 pukul 3:27 am

    Tidak ada satu pun perkataan Positif dari Guru Imam Syafii dan Imam Syafii tentang sufi dan tasawwufnya
    ___________________________
    Dibaca dulu dong, baru ngebantah. Apa yang antum sampaikan terjawab oleh tulisan di atas. Ibnu Qayyim Al Jauziyah menilai bahwa pernyataan Imam As Syafi’i yang menyebutkan behwa beliau mengambil dari para sufi dua hal atau tiga hal dalam periwayatan yang lain, sebagai bentuk pujian beliau terhadap kaum ini,”Wahai, bagi dua kalimat yang betapa lebih bermanfaat dan lebih menyeluruh. Kedua hal itu menunjukkan tingginya himmah dan kesadaran siapa yang mengatakannya. Cukup di sini pujian As Syafi’i untuk kelompok tersebut sesuai dengan bobot perkataan mereka.” (lihat, Madarij As Salikin, 3/129).

    Untuk postingan yang tidak berkaitan dengan pendapat Imam As Syafi’i apalagi hanya kopas terpaksa dihapus karena tidak sesuai dengan tema dan kami anggap sebagai spam. Syukran….

  8. 13 rofi Oktober 5, 2012 pukul 3:13 am

    Tidak sesuai? aneh, lihat judulnya Para Sufi…..
    Takut dibaca orang lain ya?
    _______________
    Judulnya “Imam As Syafi’i dan Para Sufi” yang membahas pendapat Imam As Syafi’i terhadap shufi. Bukan pendapat ulama lainnya mengenai shufi. Adapun pendapat Imam Malik, Imam Ahmad dll mengenai shufi atau pembahasan shufi secara luas merupakan pembahasan tersendiri yang isnya’allah kita bahas di tulisan yang lain, so tunggu saja gilirannya.

  9. 14 abu hamzah Maret 6, 2013 pukul 1:12 am

    Begitulah Insofnya Ahlu Sunnah (SIkap Pertengahan) apabila ada kebaikan dan keburukan pd diri seseorang diungkapkan sebagimana sikapnya AL Imam As Syafii.
    Pertanyaanya Sufi/tasawuf yg bagaimana yg kamu ikuti?
    bagaimana kita bisa menilai ajaran sufi itu bagus kalo g pernah faham dengan ajaran islam dulu sebagai landasan?
    Pernah kah imam syafiii memerintahkan muridnya untuk belajar sama org sufi?

  10. 15 global ims media marketing Juli 9, 2013 pukul 8:19 pm

    What I am talking about, is marketing. If you go to the localfast foodrestaurant,
    you are probably interested to make considerably larger income than you are earning money with your Twitter or Facebook a second thought.
    Knowing the relationship between volume, value and competition indexes helps keyword research
    develop profitable content niches, using the correct SEO tools.

    Whatever happened to those ideas that I say that
    there is an alternative.

  11. 16 Yantoro November 13, 2013 pukul 3:40 am

    Saudaraku Ulama adalah pewaris para Nabi,….Betul dengan Al-quran sudah lebih dari cukup,….kalau kita mau jujur kita bica baca Al-Quran melalui peran guru, ustat atau Ulama,…dan mengambil hikmah dari al-quran-pun butuh para ulama (BUKANKAH IMAM SAFII JUGA ULAMA) hanya setanlah yang tidak suka terhadap ulama.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: