Tetap Belajar Walau Ajal di Depan Mata

Saat berada di ambang kematian pun, beberapa ulama masih berusaha memanfaatkan waktu. Ada yang berdikusi masalah fiqh, menghafal beberapa bait syair, atau menukil ilmu.

Tetap Mengajar Walau Telah Diracun

Imam As Subki saat itu menderita demam selama beberapa hari. Beliau sendiri memiliki majelis yang membahas Sirah Ibnu Hisyam. Waktu itu, seorang penulis para periwayat datang dan ia tahu beliau sedang demam. “Orang-orang telah berkumpul, saya hampir saja membatalkannya.” Katanya. As Subki menjawab,”Demi Allah, saya tidak akan membatalkan majelis yang disebutkan di dalamnya perjalanan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam (SAW).” Akhirnya, beliau dengan kepayahan membaca di majelis tersebut.

Setelah beberapa bulan di Damaskus, beliau melakukan perjalanan ke Mesir. Beliau seakan-akan merasa bahwa ajal sudah dekat, hingga beliau mengatakan kepada putranya Taaj Ad Din As Subki, bahwa beliau tidak meninggal kecuali di negeri itu. Akhirnya, setelah sampai Mesir, beberapa hari kemudian beliau wafat. Peristiwa itu terjadi tahun 756 H.

Setelah ditelisik, diketahui, beliau sakit karena diracuni. Sebelum meninggal, beliau berpesan kepada beberapa sahabat, bahwa beliau telah diracuni, dan beliau sendiri mengetahui siapa pelakunya, tapi beliau enggan menyebutnya. (Thabaqat As Syafi’iyah Al Kubra, 10/315,316)

Berdebat Masalah Fiqih Sebelum Wafat

Adalah Imam Abu Yusuf, salah satu murid dan sahabat Abu Hanifah. Penyebar madzhab Hanafi ini diangkat menjadi hakim kekhalifahan Abbasiyah semasa pemerintahan Al Hadi, Al Mahdi dan Ar Rasyid.

Ulama yang lahir tahun 113 H ini masih terus menyebarkan ilmu, bahkan sampai di saat detik-datik akhir umurnya. Murid beliau, Qadhi Ibrahim bin Al Jirah Al Mishri menuturkan,”Abu Yusuf sakit, lalu saya datang untuk menjenguknya. Saya temui beliau dalam keadaan pingsan. Setelah sadar, beliau berkata kepada saya,’Wahai Ibrahim, bagaimana pendapatmu tentang sebuah kasus?’ Saya menjawab, ’Dalam keadaan seperti ini?!’ Beliau membalas,’Tidak mengapa, mudah-mudahan hal itu bisa menyelamatkan.’”

Abu Yusuf mengatakan,”Wahai Ibrahim, mana yang lebih utama, melempar jimarat dengan berjalan kaki atau melempar dengan naik kendaraan?” Ibrahim menjawab,”Naik kendaraan.” Beliau mengatakan,”Salah.” Ibrahim menjawab, ”Berjalan.” Beliau mengatakan, ”Salah.” Ibrahim akhirnya mengatakan,”Sampaikan pendapat Anda mengenai masalah ini, semoga Allah meridhai Anda.”

Lalu Abu Yusuf mengatakan,” Jika bermaksud berhenti, untuk berdoa di tempat itu, maka labih utama berjalan. Jika tidak, maka lebih utama naik kendaraan.”

Setelah itu Ibrahim beranjak dari tempat duduk dan meninggalkan Abu Yusuf. Namun ketika sampai di pintu rumah gurunya itu, beliau mendengar suara jeritan untuk Abu Yusuf. Ternyata Abu Yusuf telah wafat. Rahimahullah Ta’ala. (Qimah Az Zaman indza Al Ulama’, hal. 28).

Mengutip Ilmu Sesaat Sebelum Meninggal

Ulama lain yang tidak membiarkan satu detik yang dimilikinya, kecuali untuk memperoleh ilmu, walau di saat ajal sudah dekat adalah Imam Ibnu Jarir Ath Thabari (310 H). Abu Ja’far mengisahkan, di saat Ibnu Jarir sakit, beliau menjenguknya. Di sana beliau sempat menunjukkan doa yang diriwayatkan Ja’far bin Muhammad. Beliau langsung meminta untuk diambilkan tampat tinta dan kertas, untuk menulisnya. Saat itu ada yang mengatakan kepada beliau.”Apakah saat ini tepat waktunya?” Beliau menjawab,”Tidak sepantasnya bagi manusia meninggalkan kutipan ilmu, hingga kematian menjemputnya.” Sesaat kemudian, Ibnu Jarir wafat. Rahimahullah Ta’ala. (Kunuz Al Ajdad, hal. 123).

Pantaslah, dengan kedisiplinan beliau, tiap harinya, beliau mampu menulis sebanyak 14 lembar. Total, seluruh karya beliau  mencapai 358 ribu lembar. Tarikh beliau kini dicetak dalam 10 jilid, sedangkan tafsir beliau mencapai 30 jilid.

Belajar Faraidh Saat Menjelang Ajal

Adalah Abu Ar Raihan Al Biruni, seorang ahli falak, sejarawan sekaligus sastrawan. Di hari-hari beliau, pena hampir tidak bisa berpisah dari tangan. Hanya setahun sekali mencari nafkah dengan mengikuti festival, sisanya beliau gunakan untuk mencari ilmu.

Penilaian seorang ulama fiqih, Abu Al Hasan Al Walwaliji mengenai semangat ulama yang lahir 362 H ini dalam mencari ilmu, cukup layak untuk disimak. Saat itu, tepatnya pada tahun 440H, beliau menjenguk Abu Raihan. Ulama ini sakit keras di tengah usianya yang mencapai 78 tahun. Kala itu nafasnya terdengar mengorok di tenggorokan dan beliau terlihat susah bernafas. Dalam keadaan demikian, beliau mengatakan kepada Al Walwaliji,”Apa yang pernah engkau katakan kepadaku pada suatu hari, mengenai pembagian jaddat fasidah (nenek dari jalur ibu)?”

”Apakah dalam kondisi seperti ini pantas (membahas hal itu)?” Jawab Al Walwaliji, menaruh belas kasihan. ”Wahai Al Walwaji! Saya meninggalkan dunia dalam keadaan mengetahui masalah ini, lebih baik daripada saya meninggalkannya dalam keadaan jahil terhadapnya.”

Akhirnya Al Walwaliji mengulangi apa yang pernah beliau sampaikan sebelumnya kepada Abu Raihan. Dan beliau menghafalnya. Tidak lama kemudian, Al Walwaliji keluar, dan saat di jalan beliau mendengar teriakan. Ternyata Abu Raihan telah wafat.  Rahimahullah Ta’ala. (Mu’jam Al Udaba`, 17/181,182).

Menghafal Delapan Bait di Hari Kematian

Diantara para ulama besar, yang tetap menjaga waktu mereka, walau ajal hendak menjemput adalah Ibnu Malik, ulama nahwu, yang lahir pada tahun 600 H. Ulama ini semasa hidupnya banyak membaca dan mengulang.

Fenomena yang mungkin amat aneh di zaman ini, adalah semangat beliau dalam memperoleh ilmu. Dimana beliau sempat menghafal delapan bait, di hari kematian beliau. Di saat beliau sedang sakit keras, putranya membantu mendiktekan bait tersebut. Rahimahullah Ta’ala. (Nafh At Thayib, 2/222, 229).

Kitab Alfiyah, yang kini menjadi salah satu referensi induk dalam bidang nahwu adalah salah satu karya beliau. Kini kitab itu digunakan di ratusan atau bahkan mungkin ribuan pesantren di dunia Islam. Kesungguhan Ibnu Malik telah memudahkan para pencari ilmu menghafal kaidah-kaidah bahasa Arab.

2 Responses to “Tetap Belajar Walau Ajal di Depan Mata”


  1. 1 abuhamzah April 1, 2011 pukul 3:36 am

    BarokaLLOHh sdh lama dinanti-nanti tulisan2 ustadz Thoriq terbaru, banyak manfaat untuk saya & umat, azzam tholabul ilmi & mengamalkannya sampai wafat…Amiin,jazakumulloh khoirn Ustadz

  2. 2 abuhamzah April 1, 2011 pukul 3:43 am

    Afwan Ustadz, apa dibenarkan & ada dasar hukumnya dlm syariat ttg anak yg menghadiahkan bacaan Al-Qur’an kpd orang tuanya yg telah meninggal dunia ? Jazakumulloh khoiron Ustadz Thoriq – Abuhamzah di ( abuhswr@gmail.com )


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: