Al Muhaddits Anwar Syah Al Kasymiri

Saat itu, Syaikh Mu’adzam Syah, secara rutin mengajarkan kepada putra laki-lakinya kitab Mukhtashar Al Quduri, rujukan fiqih dalam madzhab Hanafi. Nyatanya, sang putra memang memiliki kecerdasan di atas rata-rata, banyak pertanyaan yang terlontar dari mulutnya di tengah-tengah proses belajar. Karena sulitnya menjawab pertanyaan si anak, pernah ulama Kashmir ini terpaksa harus menela’ah kitab Al Hidayah, rujukan dalam madzhab Hanafi yang lebih tinggi, untuk menjawabnya.

Mengetahui kelebihan si anak, ulama Kasymir yang dikenal sebagai ahli ibadah dan zuhud ini menyerahkan pendidikan anaknya kepada ulama lainnya. Tak lama kemudian, sang ayah mendengar keluhan dari sang guru, mengenai pertanyaan-pertanyaan sulit yang sering dilontarkan oleh putranya.

Pernah, Syaikh Mu’adzam Syah membawa putranya itu kepada seorang ulama ahli ibadah yang dikenal doanya sering terkabulkan. Saat melihat melihat putra beliau, ulama tersebut mengatakan,”Anak ini akan menjadi orang yang paling alim di masanya.”

Bahkan Syaikh Mu’adzam memperoleh informasi dari beberapa ulama dimasanya, bahwa sang putra bakal menjadi Ghazali atau Ar Razi di masanya. Penilaian itu berdasarkan catatan-catatan berbobot dalam buku-bukunnya pelajarannya, selama menuntut ilmu. Siapa si anak sebenarnya? Dia tidak lain adalah ulama yang memiliki nama Al Imam Al Muhaddits Anwar Syah Al Kasymiri.

Al Kashmiri, sebelum berumur 5 tahun beliau sudah menguasai sastra Persia dan menela’ah karya-karya Syaikh As Sa’di As Syairazi, An Nidzami, Al Jami serta Jalaluddin Ad Dawani serta sudah menghatamkan Al Qur`an.

Lantas beliau mempelajari disiplin ilmu yang lebih luas seperti, tafsir, ushul fiqh, fiqh, mantiq dan lainnya. Tingginya kemampuan memahami apa yang diajarkan tidak membuat Al Kasymiri kecil terlena. Beliau tetap sungguh-sungguh dalam belajar, hingga tidak pernah tidur dalam keadaan berbaring, kecuali pada hari Jumat. Seluruh waktunya digunakan untuk belajar, sehingga di saat rasa kantuk tidak sanggup ditahan, ia tertidur sambil duduk.

Dengan izin Allah, Al Kasymiri akhirnya menjadi seorang faqih dan mufti di Kasymir. Beliau pertama kali berfatwa saat berumur 12 tahun dan fatwa-fatwa beliau dijadikan rujukan para ulama. Namun, beliau masih haus akan ilmu. Setelah banyak menghabiskan masa belajarnya Kasymir, khususnya di madrasah Hizarah, perjalanan mencari ilmu diteruskan menuju pusat ilmu pengetahuan Islam di India yakni, Darul Ulum Deoband.

Di madrasah itu, beliau bertemu dengan para ulama seperti Syaikh Mahmud Hasan Ad Deobandi, seorang musannid (ulama hadits yang bersanad), yang menjadi guru bagi para ulama Arab maupun ‘ajam (non-Arab). Beliau juga berguru kepada Al Muhaddits Muhammad Ishaq Al Kasymiri. Dan kepada dua ulama ini beliau membaca Shahih Al Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Jami’ At Tirmidzi, Sunan An Nasa’i, serta Sunan Ibnu Majah.

Ulama yang lahir 1292 H ini akhirnya menyelesaikan belajarnya di Darul Ulum tahun 1313 H. Kemudian beliau mengajar di Abdu Arrab, New Delhi, lalu mendirikan Madrasah Al Aminiyah di sana.

Setelah menilai bahwa madrsah yang dirintis sudah mulai sempurna, Al Kasymiri kembali ke kampung halaman, dan merintis sebuah madrasah yang diberi nama Al Faidh Al ‘Am. Namun beliau tinggal di sana hanya tiga tahun. Setelah itu beliau melakukan perjalanan ke Makkah dan Madinah. Menimba ilmu masih terus dilakukan, hingga beliau bertemu dengan Syeikh Husain Al Jisr At Tharabulsi lalu berguru kepadanya. Di dua kota suci itu pula Al Kasymiri bertemu dengan para ulama lainnya dan memperoleh ilmu dari mereka.

Saat itu, Al Kasymiri berniat untuk menetap di Tanah Haram, namun sebelum melaksanakannya, beliau ingin mendapatkan restu dulu dari guru beliau di Deoband, yakni Syaikh Mahmud Hasan. Namun, sang guru menyarankan agar Al Kasymiri mengurungkan niatnya, dan malah memintanya untuk tetap tinggal di Deoband.

Saat itu, Syaikh Mahmud Al Hasan berniat untuk berangkat menuju Tanah Haram untuk berhaji dan bertemu dengan gubernur Hijaz lalu beliau menyerahkan kepemimpinan Darul Ulum Deoband kepada beliau. Belakangan diketahui bahwa Syaikh Mahmud Hasan tidak bisa kembali karena ditahan Inggris dan diasingkan di Malta.

Sejak saat itu, Darul Ulum Deoband akhirnya dipimpin oleh Syaikh Anwar Syah Al Kasymiri. Di sekolah itu, beliau mengajarkan hadits dalam kutub as sittah, serta kitab-kitab induk lainnya. Pada awalnya, tidak ada gaji, bagi pemimpin Darul Ulum, namun, saat Al Kasymiri Deoband menyediakan tidak lebih dari 50 rupe, untuk mencukupi kebutuhan keluarga beliau. Saat itu pula, sebuah sekolah tinggi di Kalkuta meminta beliau mengajar dengan gaji sebesar 900 rupee. Akan tetapi beliau membalas tawaran itu dengan mengatakan,”Cukup bagi saya apa yang ada, saya tidak membutuhkan hal di luar itu.” Bahkan, setelah tidak lagi mengajar di Deoband, beliau diminta mengajar di Pakistan dengan gaji 1000 rupee perbulan, namun beliau juga menolak.

Di masa menjalani kepemimpinan di Deoband, beliau membangkitkan umat untuk melawan gerakan Qadiyaniyah, baik itu melalui ceramah, pengajaran, hingga penulisan buku-buku. Tidak kurang dari 5 buku beliau yang membahas kesesatan sekte ini, diantaranya adalah, Ikfar Al Mulhiddin fi Dhoruriyat Ad Din serta Sad’u An Niqab ‘an Jisasah Al Funjab. Saat itu, serentak para ulama, jurnalis dan cendekiwan ikut bangkit menghadapi faham sesat yang bersumber dari Mirza Ghulam Ahmad ini.

Disamping menjadi pengajar, Al Kasymiri juga seorang ulama yang menulis banyak karya. Tidak kurang dari 34 buku yang berhasil beliau tulis. Dari jumlah itu, terdapat beberapa karya beliau yang berkenaan dengan syarh (penjelasan) hadits. Faidh Al Bari, adalah penjelasan bagi Shahih Al Bukhari, sedangkan Al Urf Asy Syadzi ‘ala Jami’ At Tirmidzi pejelasan untuk Jami’ At Tirmidzi. Disamping itu, ada pula Amali ‘ala Sunan Abu Dawud, Amali ‘ala Shahih Muslim, serta Hasyiyah ‘ala Sunan Ibni Majah. Tentu, sangat jarang ada ulama yang memiliki banyak karya mengenai penjelasan kitab hadits, lebih-lebih bagi mereka yang hidup di masa terakhir seperti beliau.

Setelah memimpin Darul Ulum Deoband, pada tahun 1346 H, Al Kasymiri menetap di Dabhel, yang berjarak 150 mil dari Bombai dan mendirikan sebuah madrasah yang bernama Jami’ah Al Islamiyah serta penerbitan Al Majlis Al Ilmi

5 tahun Al Kasymiri tinggal di Dabhel dengan aktivitas dakwah. Namun tak lama kemudian bilau diuji dengan penyakit bawasir yang kronis. Kemudian ulama ini kembali ke Deoband. Penyakit yang beliau derita semakin parah, hingga akhirnya beliau meninggal, tepatnya pada waktu sepertiga malam, hari Senin, 13 Shafar tahun 1302 H. Semoga Allah Ta’ala merahmati beliau.

Sumber:
1.Biografi Syeikh Anwar Syah Al Kasyimir, di Muqaddimah kitab Nuzul Al Masih, tahqiq Al Muhaddits Abdul Fattah Abu Ghuddah, cet. Dar As Salam, Kairo.
2.Website: http://www.darululoom-deoband.com

0 Responses to “Al Muhaddits Anwar Syah Al Kasymiri”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: