Pengakuan Karena Paksaan Tidak Sah

Para ulama madzhab 4 telah bersepakat bahwa pengakuan yang disebabkan paksaan tidak bisa dijadikan dasar untuk menjatuhkan hukuman. Berikut, pandapat mereka:

Madzhab Hanafi
Al Kasani menyebutkan, bahwa kerelaan adalah salah satu aspek yang menentukan bahwa sebuah pengakuan itu sah atau tidak, dengan demikian, maka pengakuan orang yang dipaksa tidak sah. (Bada’i’ As Shana’i’, 7/224).

Madzhab Maliki
Qadhi Sahnun menyebutkan masalah hukum pihak yang mengaku setelah diancam, baik dengan diikat, dipenjara serta dipukul, tidak berlaku hadd. Imam Malik mengatakan,”Tidak diberlakukan kepadanya hadd, kecuali ia mengakui hal itu dengan rasa aman dan tanpa rasa takut.” (Al Mudawwanah, 16/93).

Madzhab Syafi’i
Al Imrani mengatakan,”Tidak diterima pengakuan orang yang dipaksa, Sabda Rasulullah (SAW),’dingkat (dimaafkan) untuk umatku kesalahan, lupa dan apa yang dipaksakan kepadanya.’ Dan karena orang yang dipaksa tidak masuk dalam golongkan mukallaf. (Al Bayan, 13/418).

Madzhab Hanbali
Ibnu Qudamah mengatakan,”Kalau seorang laki-laki dipukul, agar ia mengaku berzina, tidak wajib atasnya hadd, dan tidak bisa ditetapkan bahwa ia berzina. Saya tidak mengetahui para ulama khilaf, bahwa seorang yang dipaksa mengaku tidak tidak wajib atasnya hadd.” (Al Mughni, 9/7181).

0 Responses to “Pengakuan Karena Paksaan Tidak Sah”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: