Dibolehkan Mengatakan Fulan Syahid

Hukum mengatakan, si Fulan syahid, masih jadi pro kontra di kalangan umat Islam. Sebagian mengatakan bahwa ucapan demikian dilarang, mereka yang berpendapat demikian merujuk Shahih Bukhari, yang menyebutkan “Bab La Yaqul Fulan Syahid”, Bab Tidak Dikatakan Kepada Fulan Syahid”, yang di dalamnya menyebut khutbah Umar bin Al Khattab

Kalian katakan didalam peperangan yang kalian ikuti, ‘Fulan Syahid’ dan ‘Si Fulan meninggal dunia sebagai Syahid’. Barangkali saja (hal itu karena) dia sudah membebani tunggangannya dengan beban yang berat. Ingat jangan katakan seperti itu akan tetapi katakanlah sebagaimana sabda Rasulullah SAW,

‘Man maata aw qutila fii sabiilillaHi fa Huwa syaHiidun’ yang artinya ‘Barangsiapa mati atau terbunuh di jalan Allah, maka dia syahid’

Dengan, merujuk bab ini, maka mereka menyimpulkan tidak boleh mengatakan si Fulan Syahid, secara mutlak.

Akan tetapi di sana juga ada pihak yang membolehkan. Salah satunya adalah Ibnu Hajar Al Asqalani, beliau menyatakan bahwa maksud ”Bab La Yaqul Fulan Syahid” (Tidak Diperbolehkan Mengatakan si Fulan Syahid), yang disebut Imam Bukhari, apabila ungkapan itu diucapkan untuk memastikan bahwa si fulan syahid secara qath’i.

Adapun menghukumi secara dhahir dan menyebut mereka yang meninggal karena berjihad melawan musuh, dengan sebutan syahid atau syuhada telah dilakukan para salaf, dimana mereka menyebut orang-orang yang terbunuh di perang Badar dan Uhud, serta peperangan yang lain dengan sebutan syuhada, dan itu berdasarkan hukum dhahir yang berpijak pada dhan ghalib (Lihat Fath Al Bari (6/103-104), Dar Al Hadits, cet. 2004)

Dr. Nawwaf Hail At Takruri, Ketua Rabithah Ulama Palestina di Syiria juga bependapat demikian, bahwa boleh menyebut seorang yang meninggal karena berjihad sebagai syahid dengan berpijak kepada hukum dhahir, bahwa mereka terbunuh sebagai mana terbunuhnya para syuada’ dangan tidak bermaksud bahwa sebutan itu sebagai sesuatu yang qath’i. Penulis menyakan hal ini saat beliau berkunjung ke Indonesia untuk menghadiri Mu’tamar Ad Dauli li Al Musannidah Dhahaya Al Ihtilal di bulan Oktober 2008 di Jakarta.

4 Responses to “Dibolehkan Mengatakan Fulan Syahid”


  1. 2 abuzaky September 21, 2009 pukul 12:51 pm

    Antum jangan menyebarkan kesalahan tentang membolehkannya Al Hafidz Ibnu Hajar mengatakan si fulan syahid. Download artikel berikut http://www.islamhouse.com/d/files/id/ih_fatawa/single/id_rule_say_so_sheed.pdf > Hudaniyallohu waiyyakum

    Thoriq: Saya tidak menyebarkan kesalahan, justru saya menyebarkannya karena meyakini pendapat inilah yang rajih. Dan saya menyebarkan, agar umat Islam mengetahui bahwa dalam masalah ini tidak hanya ada satu pendapat, banyak ulama kompeten yang berbicara masalah ini.

    Cuma karena baru sempat menulis yang di atas, saya hanya bisa ketengahkan pendapat Syaikhul Islam Ibnu Hajar Al Asqalani dan ulama kontemporer, yakni Dr. Nawaf Hail At Takruri.

    Sebenarnya Allamah Thahir bin Asyur dalam An Nadhr Al Fasikh Inda Madhayiq Al Andhar (hal. 118), tidak jauh berbeda dengan Ibnu Hajar, beliau juga menjelaskan Bab yang dibuat Imam Al Bukhari tersebut dengan mengatakan, bahwa maksud dari Bab yang disebutkan Al Bukhari adalah,”Bab tidak menyebut fulan syahid secara tajzim, kecuali dengan adanya khabar dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam”.

    Sebagaimana disebut oleh Syaikhul Islam, bahwa para salaf juga telah menyebut mereka yang wafat karena berjihad adalah syuhada.

    1. Haram bin Mulhan, paman Anas bin Malik yang terbunuh di Bi’r Ma’unah mengatakan, pada saat beliau terbunuh,”Fuztu, wa Rabbil Ka’bah.” atau aku telah menang demi Rabb Ka’bah. Ibnu Hajar menjelaskan, bahwa maksudnya bahwa beliau telah memperoleh kesyahidan. Dan dalam hal ini Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tidak mengingkari. (Shahih Al Bukhari)

    2. Ibnu Abbas mengatakan,”Telah terbunuh Abu Hudziafah bin Utbah bin Rabi’ah dalam peperangan Yamamah secara syahid”. (Al Mustadrak)

    3. Amru bin Ash, mengomentari Hisyam saudaranya yang terbunuh dalam pertempuran,”Ia telah diberi rizki berupa kesyahidan dan dimulyakan dengannya.” (Riwayat Ibnu Mubarak, isnad rijalnya tsiqat)

    4. Abdullah bin Jakfar, ketika ditanya tentang Qatsm bin Abbas, beliau mengatakan, “istushida” (ia telah meninggal dalam keadaan syahid). (Al Mustadrak, shahih isnad)

    5. Anas bin Malik menyebut saudara beliau Bara’ bin Malik, “Ia telah terbunuh syahid” (Al Mustadrak, Shahih Isnad)

    6. Al Mu’aqqil mengomentari menganai saudara beliau Nu’man bin Muqarrin yang terbunuh di peperangan Nahawanda.”Ini adalah amir kalian, yang Allah telah memperlihatkan kepadanya kemenangan, yang ditutup dengan kesyahidan.” (Zawaid Ibnu Hibban).

    Demikianlah pendangan para sahabat radhiyallahu anhum tentang masalah ini.

    Para ulama pun memiliki kebiasaan menyebut mereka yang terbunuh di dalam peperangan dengan syahid. Sebagai contoh saja, Yahya bin Ma’in menyebutkan bahwa Ahmad bin Yashr Al Marwazi, mendapatkan kesyahidan di akhir hayatnya (Siyar A’lam An Nubala). Pernyataan demikian banyak di dapati dalam kitab-kitab tarajum (bigrafi).

    Syukran juga atas link-nya, ana sudah lama membacanya. Allahu Ta’ala A’la wa A’lam

  2. 3 wahyu bin hadi Januari 14, 2010 pukul 4:50 pm

    tergantung niat. tergantung dr mana/sudut mana kita menilainya.
    akhir kata.
    wallahu’alamu bishowab…
    Allah Maha Tahu atas semua pengetahuan hamba2NYA…

  3. 4 abu dzaki Maret 14, 2010 pukul 12:04 am

    syukron akh, atas infonya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: