Para Ulama (Mestinya) Tak Takut Penguasa

Para ulama terdahulu berani mengingatkan penguasa yang berbuat salah. Tak jarang karena enggan diajak kompromi, mereka akhirnya berhadapan dengan ”siksaan” . Dan itu semua dihadapi dengan penih ketegaran

Dengan menjaga jarak terhadap penguasa, para ulama tidak terbebani, ketika harus melakukan amar ma’ruf nahi mungkar kepada mereka. Bahkan kerap kali para ulama harus berhadapan dengan resiko yang besar, ketika melakukan hal itu, akan tetapi, mereka tidak pernah gentar.

Di Afrika, di zaman pemerintahan Muhammad bin Muqatil Al Akki, ada seorang ulama sahabat Imam Malik yang terkenal dengan sebutan Imam Al Buhlul Al Qairawani (183 H). Beliau tergolong para ulama yang tidak takut terhadap resiko beramar ma’ruf nahi mungkar terhadap penguasa. Suatu saat ia memperoleh kabar bahwa penguasa Afrika waktu itu setuju ketika diminta oleh pengusa Kafir Isbaniyol (kini Eropa) untuk mengirim besi, tembaga serta senjata. Tentu sikap yang diambil penguasa ini amat berbahaya bagi umat Islam, karena bahan-bahan itu digunakan untuk memerangi kaum Muslim. Al Buhlul tidak bisa tinggal diam, ia mengatakan kepada Al Akki bahwa perbuatannya bisa menyebabkan orang-orang kafir lebih mudah menguasai kaum Muslim.

Akan tetapi nasehat itu tidak direspon dengan baik, Al Akki marah dan memerintahkan utusannya untuk ”mengambil” Al Buhlul dan membawanya, untuk menghadap Al Akki.

Akan tapi rakyat berpihak kepada Al Buhlul, mereka melindungi ulama ini. Keadaan ini menyebabkan kemarahan penguasa semakin memuncak. Maka, dikirimkanlah bala tentara. Setelah mampu melumpuhkan rakyat, mereka memerintahkan agar Al Buhlul melepaskan pakaian dan mencambuknya. 20 cambukan mendera tubuh ulama ini. Tidak hanya terkena sasaran cambuk, Al Buhlul juga dipenjara setelah itu.

Setelah bebas dari jeruji besi, luka cambukan ternyata masih belum sembuh, malahan semakin parah. Luka itulah yang menyebabkan wafatnya ulama madzhab Maliki ini. Kisah mengharukan ini disebutkan dalam Tartib Al Madarik (3/98-101).

Imam Bukhari (256 H) juga pernah mendapat perlakuan kejam dari penguasa. Dalam Hadyu As Sari (226) disebutkan, ketika beliau memasuki Bukhara, semua mata manusia tertuju kepadanya, termasuk penguasa negeri itu, Khalid bin Ahmad bin Khalfah bin Thahir. Akhirnya ia meminta Imam Bukhari datang ke istana dan mengajarkan Shahih dan Tarikh Al Bukhari. Tentu Imam Bukhari menolak. Bukan hendak menutup pintu ilmu bagi mereka, akan tetapi beliau tidak mau mengajar kaum bangsawan, dengan meninggalkan para pencari ilmu dari kalangan rakyat jelata.

Dalam riawayat yang lain disebutkan bahwa Imam Bukhari mengatakan, kepada utusan Sultan,”Katakan kepadanya, saya tidak akan merendahkan ilmu, dan membawanya ke pintu-pintu istana, jika ia membutuhkan suatu darinya (ilmu) maka datanglah ke masjid atau rumahku.”

Sikap Imam Bukhari ini membuat penguasa marah dan mengusir ulama hadits ini dari Bukhara. Di sebuah desa kecil di wilayah Samarkand beliau memutuskan untuk tinggal. Di desa itu pula, sebulan kemudian beliau wafat.

Keberanian Imam An Nawawi (676 H) dalam menolak kebijakan penguasa, juga terlalu penting untuk dilewatkan. Saat Dhahir Bebres usai menghadapi pasukan Tatar di Syam, ia meminta fatwa para ulama wilayah itu tentang bolehnya mengambil pajak dari rakyat guna membantu peperangan. Para Fuqaha Syam pun membolehkan.

“Masih tersisa ada ulama lain?” Tanya Dhahir.
”Iya, tinggal Syaikh Muhyiddin An Nawawi” Jawab salah satu dari mereka
Akhirnya Imam Nawawi diminta datang. Setelah itu, Dhahir meminta agar beliau ikut menulis fatwa yang isinya sama seperti ulama yang lain. Tapi apa yang terjadi? Ternyata Imam Nawawi menolak.

Beliau malah mengingatkan Dhahir, bahwa ia memiliki seribu budak, tiap budak membawa emas serta dua ratus budak perempuan, masing-masing mengenakan gelang emas. “Jika engkau telah gunakan itu semua, dan tinggal para budak laki-laki dan budak perempuan yang masih lengkap dengan pakaian tanpa gelang. Maka saya baru akan memfatwakan boleh mengambil pajak dari rakyat.” Tutur An Nawawi.

Seelah mendengar jawaban Imam Nawawi, Dhahir marah, ”Kaluar dari negeriku!” Perintahnya kepada Imam Nawani.
”Saya mendengar dan mentaati.” Jawab ulama besar ini. Kemudian, penulis ktab Al Adzkar ini keluar dari kota Damaskus menuju desa Nawa.

Setelah peristiwa itu, para ulama merasa kehilangan, mereka menyatakan kepada Dhahir,”Nawawi termasuk orang shalih dan ulama besar kami, yang kami jadikan tauladan, kembalikan dia ke Damaskus.”

Kamudian, Imam Nawawi diminta kembali, tapi beliau enggan dan menjawab,”Saya tidak akan masuk Damaskus, selama Dhahir masih di sana.” Setelah itu, satu bulan kemudian, Imam Nawawi wafat.

Syeikh Nuruddin Al Bakri (727H) adalah ulama Mesir, yang juga istiqamah melakukan amar ma’ruf nahi mungkar. Pernah sekali ia berhadapan dengan penguasa waktu itu, yakni, Sultan Ibnu Qalawun, disebabkan perbuatan beberapa orang Nasrani.

Awalnya, orang-orang Nasrani meminjam beberapa lampu masjid Amru bin Ash. Bukan untuk keperluan pribadi, tapi untuk menerangi gereja mereka. Ini yang membuat umat Islam merasa dilecehkan, sehingga berkumpullah umat Islam dalam jumlah yang besar, mereka kemudian menyerang gereja.

Orang-orang Nasrani Qibthi juga tidak diam, mereka mengadu kepada Ibnu Qalawun, hingga keluarlah perintah agar perkara ini diselesaikan lewat pengadilan. Al Bakri, setelah mendengar hal ini, mendatangi Ibnu Qalwanun dengan mengatakan,”Seafdhal-afdhalnya jihad, adalah mengatakan haq kepada sultan yang bodoh.”

“Saya bodoh?” Tanya Ibnu Qalawun.
“Iya, Anda telah membiarkan orang-orang Qibthi, memiliki kekuasan terhadap umat Islam.” Jawab Al Bakri.

Ibnu Qalawun marah, hingga keluarlah perintah untuk memotong lidah Syaikh Al Bakri. Akan tetapi, perintah itu tidak terlaksana, karena Syeikh Shadruddin bin Al Murahhil mendatangi Sultan, dan memohon agar melepaskan Al Bakri. Akhirnya ulama mazhab Syafi’i ini terbebas. Kisah ini disebutkan dalam Thabaqat As Syafi’iyah ( 9/1399).

Yang dialami Bunan Al Hammal Al Baghdadi (257 H) tidak kalah mengerikan. Sebagaimana disebutkan dalam Tarikh Al Baghdadi (7/101), suatu saat, beliau mengkritik Ibnu Thulun, tapi penguasa Mesir itu tidak menerimanya dan hal itu malah membuatnya murka. Hingga ia memerintahkan para prajurit untuk memasukkan Bunan Al Hammal ke dalam kandang singa.

Tapi, peristiwa aneh terjadi. Singa yang sebelumnya tampak buas hanya mengendusnya saja, dan enggan melukainya, dan itu berlangsung lama, hingga akhirnya ia dibebaskan. Masyarakat terheran-heran, hingga mereka bertanya kepada Bunan, ”Bagaimana perasaan Anda saat singa itu mengendus badan Anda?”

”Saat itu saya berfikir, mengenai khilaf para ulama tentang hukum liur binatang buas, najis atau tidak.” Jawab Bunan.

0 Responses to “Para Ulama (Mestinya) Tak Takut Penguasa”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: