Arsip untuk April, 2009

Izzuddin bin Abdissalam: Para Penguasa Bertekuk Lutut di Hadapannya

Izzuddin adalah ulama yang berwibawa di hadapan penguasa dan dicintai oleh rakyatnya. Para penguasa Mesir tidak berani menyelisihi permintaan beliau. Sekali menentang, maka kekuasaan mereka akan terancam Lanjutkan membaca ‘Izzuddin bin Abdissalam: Para Penguasa Bertekuk Lutut di Hadapannya’

Iklan

Hadits Dhoif dalam Fadhail dan Ijma Boleh Menggunakannya

Beberapa pihak menilai pernyataan Imam An Nawawi mengenai ijma’ ulama mengenai bolehnya pengamalan hadits dhaif, lemah, dengan alasan, karena sejumlah huffadz jelas-jelas melarang. Benarkah? Lanjutkan membaca ‘Hadits Dhoif dalam Fadhail dan Ijma Boleh Menggunakannya’

As Salafi atau As Silafi?

Ada yang berpendapat bahwa nama Abu Thahir As Silafi dinisbatkan kepada salaf, benarkah demikian?

Kini kita berbicara menganai ulama dan muhadits madzhab As Syafi’i, Abu Thahir bin Abi Ahmad As Silafi Al Ashbahani Al Jarwani, yang lahir kira-kira pada 472 H dan wafat pada 577. Lanjutkan membaca ‘As Salafi atau As Silafi?’

Para Ulama (Mestinya) Tak Takut Penguasa

Para ulama terdahulu berani mengingatkan penguasa yang berbuat salah. Tak jarang karena enggan diajak kompromi, mereka akhirnya berhadapan dengan ”siksaan” . Dan itu semua dihadapi dengan penih ketegaran
Lanjutkan membaca ‘Para Ulama (Mestinya) Tak Takut Penguasa’

Hukum Bekerja di Bawah Pemerintahan Dhalim

Salah satu ulama yang membahas mengenai hukum bekerja dalam pemerintahan penguasa dhalim adalah Imam Al Mawardi. Dalam kitab beliau yang berjudul Nashihah Al Muluk beliau menyampaikan bahwa para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini, dan masing-masing memiliki dalil. Lanjutkan membaca ‘Hukum Bekerja di Bawah Pemerintahan Dhalim’

Para Salaf dan Ulama Jaga Jarak dengan Penguasa

Ulama terdahulu, tidak hanya menjalankan tugas mereka sebagai penyebar ilmu atau pembimbing umat. Lebih dari itu, mereka juga berfungsi sebagai alat kontrol terhadap kebijakan para penguasa.

Tugas ini mustahil bisa dilakukan jika mereka sendiri menjadi kroni atau bahkan menggantungkan kehidupan kapada penguasa. Oleh sebab itu, para ulama saat itu selalau menjaga agar mereka senantiasa bersikap obyektif, tidak membedakan panguasa atau rakyat jelata dan tidak pula menerima imbalan serta hadiah dari para penguasa. Lanjutkan membaca ‘Para Salaf dan Ulama Jaga Jarak dengan Penguasa’