Keputusan Majma’ Fiqh Al Islami tentang Masalah Al Qadiyaniyah

Amma ba’du
Bahwa Majelis Majma Fiqh Al Islami dari Munadzamah Al Mu’tamar Al Islami dalam pertemuan muktamar ke 2 di Jeddah, 10-16 Rabi’ Tsani 1406 H/22-28 Desember 1985.

Setelah melihat dengan seksama istifta’ (permohonan fatwa) yang diajukan kepadanya (Mejelis Majma’) dari Majelis Al Fiqh Al Islami di Cape Town Afrika Selatan, mengenai kedudukan Al Qadiyaniyah dalam pandangan hukum, begitu pula kelompok yang lahir darinya, yaitu Al Lahuriyah (Lahore), dari segi kedudukan mereka sebagai bagian dari kaum Muslim atau bukan.

Atas dasar hal itu, anggota Al Majma melakukan studi berkenaan dengan masalah ini, tentang Mirza Ghulam Ahmad Al Qadiyani, yang muncul di India beberapa waktu lalu, dan kepadanya dinisbatkan ajaran Al Qadiyaniyah dan Al Lahuriyah.

Setelah melakukan penelitian dengan seksama tentang informasi yang menyangkut kedua kelompok ini, serta setelah meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad telah mengaku mendapat kenabian, bahwa ia adalah utusan yang diberi wahyu, dan informasi ini diperoleh dari buku-bukunya yang mengklaim bahwa sebagian isinya adalah wahyu yang telah diturunkan kepadanya, dan sepanjang hidupnya ia menyebarkan klaim ini, dan mengajak kepada manusia dalam buku-buku serta ucapannya untuk berkeyakinan mengenai kenabian dan kerasulannya, sebagaimana ia juga mengingkari banyak ajaran agama yang sudah diketahui kelazimannya seperti jihad.

Dan setelah Al Majma’ mempelajari keputusan yang dikeluarkan oleh Al Majma’ Fiqh Makkah Al Mukarramah dalam masalah yang sama. Maka Al Majma’ memutuskan:

1. Bahwa yang diklaim oleh Mirza Ghulam Ahmad tentang kenabian dan kerasulan serta turunnya wahyu kepadanya merupakan pengingkaran secara terang-terangan terhadap apa yang telah ditetapkan secara qath’i yakin dalam agama, bahwa risalah kenabian telah ditutup oleh Sayiduna Muhammad shalallahu alaihi wasalam, dan tidak turun wahyu kepada seseorang setelah beliau. Dan klaim Mirza Ghulam Ahmad telah menyebabkannya dan mereka yang satu keyakinan dengannya menjadi murtad, keluar dari Islam. Adapun Al Lahuriyah, mereka juga sama dengan Al Qadiyaniyah secara hukum, yaitu murtad, walapun mereka mensifati bahwa Mirza datang di bawah syariat Nabi Muhammad shalallhu alaihi wasallam.

2. Mahkamah non Islam atau hakim non Islam tidak boleh mengeluarkan keputusan tentang Islam atau murtad, apalagi terhadap hal-hal yang menyelisihi ijma’ umat Islam. Hal itu dikarenakan penghukuman murtad atau muslim tidak diterima, kecuali datang dari Muslim yang mengetahui dengan seksama hal-hal yang bisa membuat seorang menjadi Muslim atau keluar dari Islam, dan mengetahui hakikat Islam dan kekufuran, serta menguasai hal-hal yang telah ditetapkan oleh Al Qur’an, Sunnah dan ijma. Hukum yang dikeluarkan dari mahkamah ini (mahkamah non syar’i) batil.

Wallahu ‘alam

(Dinukil oleh Prof. Dr. Wahbah Az Zuhaili (ulama anggota Majma’ Fiqh Al Islami), dalam Al Fiqh Al Islami wa Adillatuh, 8/5082)

0 Responses to “Keputusan Majma’ Fiqh Al Islami tentang Masalah Al Qadiyaniyah”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: