Kedudukan Fatwa dalam Islam

Kedudukan fatwa dalam islam sangatlah penting dan tidak bisa dengan mudah diabaikan, apalagi digugurkan. Karena sangat pentingnya dengan keberadaan fatwa dalam Islam, sampai-sampai beberapa ulama berpendapat diharamkan tinggal di sebuah tempat yang tidak terdapat seorang mufti yang bisa dijadikan tempat bertanya tentang persoalan agama (Lihat Al Bahr Ar Ra’iq 6/260, Al Furu’ 4/119, Al Majmu’ 1/47, Kasyaf Al Qana’ 4/177).

Maka dari itu, wajib bagi penguasa untuk memperhatikan sarana-sarana penting guna mempersiapkan para mufti dalam rangka menciptakan kemaslahatan bagi masyarakat, sekaligus melarang bagi mereka yang tidak mempunyai keahlian dalam berfatwa. (Lihat Al Majmu’ 1/ 69, I’lam Al Muwaqqi’in 4/214, Al Faqih wa Al Mutafaqqih 2/55, Al Ahkam Al Sulthoniyah, 55).

Karena sangat pentingnya bahwa mufti di hadapan umat memiliki posisi seperti halnya nabi di hadapan umat, karena mufti memberi kabar dari Allah Subhana wa ta’ala seperti nabi. Oleh karena itu, mereka dinamakan ulil amri yang mana ketaatan pada mereka disejajarkan dengan taatnya seorang hamba kepada Allah dan RasulNya. Dalam Al Qur’an surat An Nisa’ 59 Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kalian kepada Rasul beserta ulil amri dari kalian” (Lihat Al Muwafaqat 4/178-179).

Kapan fatwa mengikat?

Memang ada perbedaan karakter antara fatwa yang dikeluarkan oleh para mufti dengan keputusan seorang hakim. Yang mana, keputusan seorang hakim bersifat mulzim, sedangkan fatwa tidaklah demikian. Akan tetapi kaidah ini tidaklah mutlak. Dalam beberapa keadaan sebuah fatwa bisa bersifat mulzim, dalam artian, jika fatwa itu tidak ditaati, maka si mustafti (peminta fatwa) telah melakukan maksiat.

Hal itu terjadi dalam beberapa keadaan-sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Shalah, Ibnu Hamdan, Al Khatib Al Baghdadi serta Ibnu Qayyim Al Jauziyah-. Pertama, jika di suatu tempat hanya ada seorang mufti, yang berfatwa mengenai masalah tersebut. Kedua, Jika mufti tersebut mengharuskan kepada mustafti mengamalkan fatwa. Ketiga, mustafti telah mengamalkan atau meyakini fatwa itu sebelumnya. Keempat, Jika mustafti itu meyakini bahwa fatwa itu benar (Lihat I’lamu Al Muwaqqi’in 4/ 493,494, Al Faqih wa Al Mutafaqqih 2/ 183, Shifat Al Fatawa wa Al Mufti wa Al Mustafti oleh Ibnu Shalah, 160, juga judul yang sama ditulis oleh Ibnu Hamdan, 82).

0 Responses to “Kedudukan Fatwa dalam Islam”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: