Hadist Dhoif dalam Tafsir Ibnu Katsir

Mungkin banyak yang bertanya-tanya, kenapa dalam Tafisr Ibnu Katsir banyak hadits dhoif? Padahal Ibnu Katsir adalah seoarang hafidz sekaligus mufassir. Dan dia memiliki kapasitas untuk membedakan mana hadits dhoif dan mana hadits shahih.

Memang benar, bahwa Ibnu Katsir (774 H) adalah seorang hafidz, dan kemampuan beliau dalam menghukumi hadits tidak diragukan lagi, ini juga bisa dilihat dalam tafsir beliau, dimana beliau juga menghukumi derajat hadits-hadits yang berada dalam tafsirnya, walau tidak seluruhnya, hingga Imam Dzahabi memasukkan beliau dalam Tadzkirah Al Huffadz ( lihat, biografinya di hal 57-58). Banar adanya bahwa beliau menggunakan hadits dhoif juga dalam tafsir.

Sehingga, bagi mereka yang tidak setuju, Tafsir Ibnu Katsir dicetak dalam bentuk mukhtashar (ringkasan), yang sebetulnya, disamping meringkas juga menghilangkan hadits-hadits dhoif dan israiliyat (israiliyat insyaallah akan kita bahas di lain waktu).

Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita melihat pandangan para hufadz dan muhaditsin, tentang penggunaan hadits dhoif dalam tafsir.

Hafidz Al Baihaqi mengatakan dalam Al Madhal ila Dalail An Nubuwah (1/32-37), di sana Imam Baihaqi membagi hadist dhoif menjadi dua, setelah menyebut jenis pertama, beliau mengatakan:”Dan jenis, dimana periwayatnya tidak dituduh sebagai pemalsu, akan tetapi ia dikenal memiliki hafalan yang jelek, atau banyak kliru dalam periwayatan, atau tidak diketahui adallahnya, atau (tidak dikatahui adanya) syarat diterimanya khabar.

Lalu beliau mengatakan:”Hadits-hadits jenis ini tidak dipakai dalam hukum, sebagaimana tidak diterimanya kesaksian seperti mereka yang kesaksiannya diterima oleh hakim, akan tetapi terkadang dipakai dalam doa, targhib (motifasi) dan tarhib (ancaman), tafsir, maghazi, yang tidak berhubungan dengan hukum”.

Dari sini kita ketahui, bahwa Hafidz Ibnu Katsir memiliki pandangan serupa dengan Hafidz Al Baihaqi, yaitu boleh menggunakan hadits dhoif dalam tafsir.

Mengambil Tafsir dari Mereka yang Tidak Tsiqah dalam Hadits
Kemudian beliau menukil dari Yahya bin Said bin Qatthan:”Mereka (ulama) bermudah-mudah dalam tafsir terhadap mereka yang tidak ditsiqahkan dalam hadits”.

Lalu menyebutkan, Laits bin Abi Salim, Juwaibir bin Sa’id, Ad Dhahaq, Muhammad bin As Saib atau Al Kulabi lalu mengatakan:”Mereka tidak diambil haditsnya, akan tetapi ditulis dari mereka tafsir”.

Baihaqi mengatakan:”Mereka (ulama) bermudah-mudah dalam mengambil tafsir dari mereka dikarenakan apa yang mereka gunakan dalam penafsiran lafadh, bisa dijadikan sebagai syahid bahasa Arab”

Ini menunjukkan -wallahua’alam- bahwa segala hal yang menyangkut penafsiran ayat bisa diambil dari mereka yang tidak tsiqah. Karena lafadz-lafadz yang datang dari mereka, masih bisa digunakan dari segi bahasanya dalam menafsirkan. Dan ini tidak terjadi kecuali jika mereka mengambil dari generasi sebelumnya, baik itu sahabat, hadits dhoif atau syair-syair jahiliyah, dimana dengan hal itu bisa diketahui makna Al Qur’an dari segi bahasanya.

Baca juga : Hadits Dhoif dalam Fadhail dan Ijma’ Boleh Menggunakannya

0 Responses to “Hadist Dhoif dalam Tafsir Ibnu Katsir”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: