Memahami Perkataan As Syafi’i: “Jika Sebuah Hadits Shahih, maka Itulah Madzhabku”

Memang benar bahwa Imam Syafi’i mengatakan:”Jika kalian menemui dalam bukuku seuatu yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah, maka berkatalah dengan Sunnah dan tinggalkan perkataanku”. Juga diriwayatkan dari beliau, jika sebuah hadits shahih, maka itulah madzhabku. Perkataan sejenis juga diriwayatkan dari para ulama madzhab empat.

Akan tetapi banyak kalangan yang tidak memahami dengan benar perkataan ini. Sehingga, jika yang bersangkutan menemukan sebuah hadits shahih yang bertentangan dengan pendapat madzhab Syafi’i maka yang bersangkutan langsung menyatakan bahwa pendapat madzhab itu tidak benar, karena Imam Syafi’i sendiri mengatakan bahwa hadits shahih adalah madzhab beliau. Atau ketika seseorang menemukan sebuah hadits yang shahih, yang bersangkutan langsung mengklaim, bahwa ini adalah madzhab Syafi’i.

Imam Nawawi menyebutkan dalam Majmu’ Syarh Al Muhadzab, bahwa pendapat beliau tidak keluar dari Sunnah, kecuali hanya sebagian kecil. Ini memang terjadi di beberapa masalah, seperti masalah tatswib dalam adzan shubuh (bacaan ashalatu khoirum min annaum), Imam Syafi’i memakruhkan hal itu dalam qoul jadidnya. Akan tetapi para ulama madzhab Syafi’i memilih sunnahnya tatswib, karena hadits shahih mendasari amalan itu.

Akan tetapi tidak bisa sembarang orang mengatakan demikian. Imam Nawawi menyebutkan beberapa syarat. “Sesungguhnya untuk hal ini, dibutuhkan seseorang yang memiliki tingkatan sebagai mujtahid dalam madzhab yang telah dijelaskan sebelumnya, dan dan ia harus berbaik sangka bahwa Imam Syafi’i belum sampai kepada hadits tersebut, atau belum mengetahui keshahihan hadits itu, dan ini hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang telah menela’ah semua buku-buku milik Imam Syafi’i dan buku-buku para sahabat yang mengambil darinya, dan syarat ini sulit, serta sedikit orang yang sampai pada tingkatan ini. Syarat ini kami sebutkan karena, Imam Syafi’i tidak mengamalkan dhahir hadits yang telah beliau ketahui, akan tetapi ada dalil lain yang mencacatkan hadits itu, atau yang menaskh hadits itu, atau yang mentakhis atau yang menta’wilkan hadits itu”.

Pernah ada seorang bermadzhab Syafi’i, Abu Walid Musa bin Abi Jarud mengatakan:” Hadits tentang berbukanya orang yang membekam maupun yang dibekam shahih, maka aku mengatakan bahwa Syafi’I telah mengatakan: “Orang yang berbekam dan dibekam telah berbuka (batal)”. Maka para ulama Syafi’i mengkritik pendapat itu, karena Imam Syafi’I sendiri mengatahui bahwa hadits itu shahih, akan tetapi beliau meninggalkannya, karena beliau memiliki hujjah bahwa hadits itu mansukh””.

Syeikh Abu Amru mengatakan:”Barang siapa menemui dari Syafi’i sebuah hadits yang bertentangan dengan madzhab beliau, jika engkau sudah mencapai derajat mujtahid mutlak, dalam bab, atau maslah itu, maka silahkan mengamalkan hal itu. Akan tetapi jika tidak sampai derajat itu dan mereka yang menentang tidak pula memiliki jawaban yang memuaskan, maka jika itu diamalkan oleh mujtahid madzhab lain, boleh ia melakukan, dan itu adalah sebuah udzur dimana ia meninggalkan salah satu pendapat madzhab Imamnya”. Imam Nawawi mengatakan bahwa yang dikatakan Syeikh Abu Amru ini merupakan perkataan yang cukup baik.

Walhasil, tidak perkataan As Syafi’i tersebut sejatinya hanya untuk “dikosumsi” para ulama mujtahid madzhab. Dan ulama sekaliber Imam An Nawawi sendiri mengatakan bahwa untuk mencapai tingkatan itu amatlah sulit. Sehingga tidak dibernarkan para awam mengambil perkataan As Syafi’i, hingga mereka bisa melakukan apa yang bisa dilakukan para mujtahid madzhab.

Jangankan untuk mencapai tingkatan mujtahid madzhab, untuk menjadi mufti muqallid, yang merupakan tingkatan ulama paling bawah dalam madzhab pun tidak mudah dilakukan, khususnya untuk ukuran orang-orang zaman sekarang. Karena sebagaimana dikatakan Imam An Nawawi saat menerangkan tingkatan mufti, mufti muqallid harus mengetahui dengan baik pandangan imam madzhab dan para ulama madzhab yang berada dalam tingkatan mujtahid, baik untuk masalah simpel maupun masalah pelik. Dan semua tingkatan, baik mujtahid madzhab maupun mujtahid mustaqil harus mememiliki pengetahuan yang dimiliki oleh mufti muqallid.

Namun, sungguh ironis, kabanyakan yang memposisikan darinya sebagai mujtahid madzhab, malah mengklaim tidak bermadzhab dan tidak pernah menghabiskan satu kitab saja dalam madzhab As Syafi’i. Sehingga terhitung sebagai mufti muqallid pun tidak. Orang-orang seperti ini penukilannya terhadap madzhab Syafi’i tidak dianggap. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam An Nawawi dalam Al Majmu’ (1/72)

(Dinukil dari Muqadimah Al Majmu Syarh Al Muhadzab (1/99-100), Terbitan Dar Al Fikr 1426 H, Tahqiq Dr. Mahmud Mathraji)

0 Responses to “Memahami Perkataan As Syafi’i: “Jika Sebuah Hadits Shahih, maka Itulah Madzhabku””



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: