Arsip untuk Februari, 2008

Hukum Safar Saat Masuk Waktu Shalat Jumat

Safar tetap dibolehkan pada hari Jumat, yang terjadi khilaf adalah hukum safar di saat waktu shalat Jumat sudah masuk. Syeikh Al Islam Ibnu Qudamah menyebutkan bahwa dalam masalah ini ada dua pendapat. Imam Syafi’i, Ishaq dan Ibnu Mundir melarang, Ibnu Qudamah sendiri merajihkan pendapat ini. Lanjutkan membaca ‘Hukum Safar Saat Masuk Waktu Shalat Jumat’

Iklan

Hadist Dhoif dalam Tafsir Ibnu Katsir

Mungkin banyak yang bertanya-tanya, kenapa dalam Tafisr Ibnu Katsir banyak hadits dhoif? Padahal Ibnu Katsir adalah seoarang hafidz sekaligus mufassir. Dan dia memiliki kapasitas untuk membedakan mana hadits dhoif dan mana hadits shahih. Lanjutkan membaca ‘Hadist Dhoif dalam Tafsir Ibnu Katsir’

Dalil Hadits Mengamini Doa dan Kedudukannya

Dari Habib bin Maslamah Al Fihri, ia mengatakan, “aku telah mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda:”Tidak berkumpul sebuah kaum muslim, berdoa sebagian dari mereka dan mengamini sebagian yang lain, kecuali Allah Ta’ala menjawab doa mereka” Lanjutkan membaca ‘Dalil Hadits Mengamini Doa dan Kedudukannya’

Boleh Berbicara Kepada Khatib Jum’at Jika Sangat Diperlukan

Syeikh Al Islam Ibnu Qudamah mengatakan:”Tidak diharamkan berbicara atas khatib dan mereka yang ditanya khatib, karena Nabi shalallahu alaihi wasalam bertanya kepada Sulaik, yang masuk masjid ketika beliau berkhutbah:”Apakah kamu sudah shalat?” Ia menjawab:”Belum”. Lanjutkan membaca ‘Boleh Berbicara Kepada Khatib Jum’at Jika Sangat Diperlukan’

Tujuh Ulama Bergelar Syaikh Al-Islam

Tidak sembarang ulama yang memperoleh gelar Syaikh al-Islam. Ulama yang memiliki ketinggian ilmu saja yang pantas menyandangnya.

Lanjutkan membaca ‘Tujuh Ulama Bergelar Syaikh Al-Islam’

Mengetahui Derajat Hadits Sunan Abu Dawud

Imam Nawawi mengatakan:”Ketahuilah, bahwa Sunan Abu Dawud, yang banyak kami menukil hadits darinya, telah kami riwayatkan darinya (Abu Dawud), bahwa dia pernah mengatakan:”Aku telah menyebutkan dalam kitabku hadits-hadits shahih, semisalnya atau mendekatinya, dan jika ada hadits dhoif parah maka aku menjelaskannya, dan jika aku tidak mengomantarinya, maka hadits itu shalih, dan sebagian hadits lebih shahih dari yang lain”.

Imam Nawawi mengatakan:”Ini adalah perkataan Abu Dawud. Ada faidah yang bagus bagi pemilik buku ini dan yang lain yaitu, bahwa apa yang diriwayatkan Abu Dawud dalam Sunannya dan tidak menjelaskan bahwa itu dhoif, maka itu shahih atau hasan menurut penilaiannya. Dan keduanya (shahih atau hasan) bisa dijadikan hujjah untuk masalah hukum, lebih-lebih dalam masalah fadhail. (Al Adzkar, hal 47, Dar Al Minhaj, 2005)

Memahami Perkataan As Syafi’i: “Jika Sebuah Hadits Shahih, maka Itulah Madzhabku”

Memang benar bahwa Imam Syafi’i mengatakan:”Jika kalian menemui dalam bukuku seuatu yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah, maka berkatalah dengan Sunnah dan tinggalkan perkataanku”. Juga diriwayatkan dari beliau, jika sebuah hadits shahih, maka itulah madzhabku. Perkataan sejenis juga diriwayatkan dari para ulama madzhab empat.

Akan tetapi banyak kalangan yang tidak memahami dengan benar perkataan ini. Sehingga, jika yang bersangkutan menemukan sebuah hadits shahih yang bertentangan dengan pendapat madzhab Syafi’i maka yang bersangkutan langsung menyatakan bahwa pendapat madzhab itu tidak benar, karena Imam Syafi’i sendiri mengatakan bahwa hadits shahih adalah madzhab beliau. Atau ketika seseorang menemukan sebuah hadits yang shahih, yang bersangkutan langsung mengklaim, bahwa ini adalah madzhab Syafi’i.

Lanjutkan membaca ‘Memahami Perkataan As Syafi’i: “Jika Sebuah Hadits Shahih, maka Itulah Madzhabku”’