Arsip untuk Januari, 2008

Syahrur: Mengingkari Hadits Nabawi dan “Kumpul Kebo” Halal

Rujukan kaum liberal asal Suriah, Dr. Mohammad Syahrur di tengah kunjungannya di Emirat beberapa hari lalu mengeluarkan pendapat kntroversial. Ia mengatakan bahwa hadits Rasulullah saw. tidak harus diikuti, tidak mengakui fatwa ulama, serta mengatakan bahwa hubungan remaja lawan jenis tanpa didasari pernikahan, alias kumpul kebo hal yang “halal” menurutnya.

Ketika situs berita Al Arabiya menanyakan masalah pergaulan bebas yang banyak menjangkiti para remaja Suriah, Syahrur mengatakan bahwa apa yang dilakukan para remaja itu, jika hal itu sesuai dengan kemauan mereka, tanpa akad, atau tanpa didampingi seorang syekh atau tanpa mendapat izin, maka hal itu halal, katanya.

“Bacalah Kitabullah, jangan takut kepadanya, kamu semua bisa melakukan itu tanpa perantara dan tanpa guru, dan pergaulan bebas halal, dengan syarat ada persetujuan diantara kedua pihak,” ujarnya.

Ia menyatakan juga, bahwa pergaulan pergaulan bebas antara seorang laki-laki dan seorang perempuan adalah ganti atas pernikahan, dan tanpa akad tertulis, adalah “halal, secara syar’i.”

Sebagaimana diketahui, beberapa waktu lalu para praktisi hukum Suriah menyoroti fenomena kumpul kebo yang melanda remaja Suriah dan mereka menekankan, agar para pelakunya segera melakukan pernikahan, yang dilegalkan negara.

Lanjutkan membaca ‘Syahrur: Mengingkari Hadits Nabawi dan “Kumpul Kebo” Halal’

Iklan

Khilaf antara Badruddin Al Aini dengan Ibnu Hajar Al Atsqalani

Mereka berdua adalah sahabat dekat. Badrud Din Al ‘Aini pernah mengundang Ibnu Hajar agar berkunjung ke ‘Ainatab, dan Ibnu Hajar membacakan untuknya tiga hadits, satu dari Musnad Ahmad dan yang lain dari Sahih Muslim. Begitu pula ‘Aini, ia datang ke majelis imla’ Ibnu Hajar di Halab (Ibnu Hajar Al Atsqalani, Amirul Mukminin fil Hadits, karya Abdus Satar Syaikh, hal 342).

Ibnu Hajar Al Asqalani, lahir di Mesir tahun 773 H, wafat tahun 852 H di negeri yang sama. Seorang hafidz, muhadits, sekaligus faqih bermadzhab Syafi’i. Penulis Fathul Bari (syarh Sahih Bukhari), Bulughul Maram, Lisanul Mizan, dll.

Sedangkan Badrud Din Al ‘Aini lahir di ‘Ainatab, meninggal di Mesir pada tahun 855 H, muhadits, muarikh bermadzhab Hanafi, penulis ‘Umdatul Qari (syarh Sahih Bukhari).

Mereka berdua adalah sahabat dekat. Badrud Din Al ‘Aini pernah mengundang Ibnu Hajar agar berkunjung ke ‘Ainatab, dan Ibnu Hajar membacakan untuknya tiga hadits, satu dari Musnad Ahmad dan yang lain dari Sahih Muslim. Begitu pula ‘Aini, ia datang ke majelis imla’ Ibnu Hajar di Halab (Ibnu Hajar Al Atsqalani, Amirul Mukminin fil Hadits, karya Abdus Satar Syaikh, hal 342).

Walau mereka sahabat dekat, akan tetapi satu sama lain tetap saling mengkritisi. Ibnu Hajar sendiri telah memeriksa beberapa karya ‘Aini, salah satunya adalah Al Mu’ayid Syaikhul Mahmudi. Ibnu Hajar menemukan kurang lebih 400 bait yang tidak beraturan (Badrud Din Al ‘Aini Li Ma’tuq, hal. 165-168)

Lanjutkan membaca ‘Khilaf antara Badruddin Al Aini dengan Ibnu Hajar Al Atsqalani’