Ketabahan dan Kesabaran Imam Thobari (Radhiallahu ‘anhu)

mosque.jpg Imam Thobari, salah satu ulama’ mufassir, muhadist sekaligus muarikh. Lahir di Thabaristan (sebuah wilayah di negeri Parsi, yang terletak antara Jurjan dan Dailam), pada tahun 224 H, dan meninggal di Baghdad pada tahun 310 H. Karya-karya yang telah ditulisnya adalah Jami’ul Bayan Fannu Ta’wili Ayil Qur’an yang lebih dikenal dengan Tafsir Thobari, Ikhtilaful Fuqaha’, Attarikh Atthabari, dll.

Dia adalah seorang ‘alim yang memiliki kepribadian yang muliya dan tawadhu’, baik terhadap para tamu dan murid-muridnya. Tidak memiliki sifat takabur atau menjadi sombong karena ilmu yang telah dimilikinya (Lihat, Al Imam At Thobari, karya Dr. Muhammad Zuhayli, hal. 79).

Berkata Abu Bakar bin Kamil, salah satu ulama’ yang hidup semasanya: “Aku menjenguk Abu Ja’far (Imam Thabari) ketika ia hendak meninggal, dan aku memintanya untuk mema’afkan semua orang yang telah memusuhinya. Aku berbuat demikian dikarenakan guruku, Abu Hasan bin Husain, dimana aku telah menimba ilmu tentang Al Qur’an darinya” (dan dia telah memusuhi Imam Thobari, dikarenakan Imam Thobari telah memuji Imam Abu Hanifah). Maka Imam Thobari pun menjawab permintaan Abu Bakar bin Kamil: “Semua yang telah memusuhiku telah aku ma’afkan, kecuali mereka yang telah menuduhku berbuat bid’ah” (Mu’jamul Addiba’, hal 84, vol.18).

Muhammad bin Dawun Adhahiri, salah satu ulama’ madzhab Dhahiri, anak dari Dawud Adhahiri, pendiri madzhab Dhahiri, telah telah menuduh Imam Thabari dengan beberapa-tuduhan batil, mencelanya dan mengkritiknya. Hal itu dikarenakan Imam Thabari telah mendebat ayah Muhammad bin Dawud. Namun setelah Imam Thabari bertemu dengan Muhammad bin Dawud ia mema’afkannya seluruh perbuatan si anak dan ia memuji ayahnya, sehingga Muhammad bin Dawud tidak lagi melemparkan tuduhan buruk terhadap Thobari (Al Imam At Thobari hal. 76, lihat juga Mu’jamul Addiba’ hal. 80, vol 18).

Ketika Imam Thobari sampai ke Bagdad dari Thabaristan, para pengikut madzhab Hambali menanyakan kepadanya beberapa hal, salah satunya adalah sebab Imam Thobari tidak mencantumkan nama Imam Ahmad dalam kitabnya, Ikhtilaful Fuqaha’. Maka Imam Thobari menjawab: “Adapun Imam Ahmad tidak dihitung khilafnya”. Lalu mereka menyanggah: “Tapi para ulama’ menyebutnya dalam ikhtilaf”. Dijawab Oleh Imam Thobari: “Aku tidak melihat bahwa hal itu diriwayatkan dari Imam Ahmad, dan aku juga tidak melihat para sahabatnya merujuk kepadanya dalam masalah fiqih, adapun Imam Ahmad adalah imam dalam hadits dab tidak membangun sebuah madzhab fiqih”. Maka ketika mereka mendengar jawaban Imam Thabari mereka menganiayanya dan melempari pintu rumahnya dengan bebatuan.

Tidaklah Imam Thabari kecuali berbicara kepada mereka sesuai dengan akal, pemahaman dan ta’ashub mereka. Dan ia menulis sebuah buku untuk menjelaskan alasannya, lalu ia menyebut madzhab dan akidahnya yang sesuai dengan madzhab dan aqidah Imam Ahmad dan salaf, lalu membacakan buku ityu untuk mereka. Maka usailah perselisihan.

Akan tetapi sebagian dari sebagian dari kaum awam mdzhab Hambali tetap tetap memperlakukan Imam Thabari, ketika ia sudah wafat, mereka melarang penguburan jenazhanya di siang hari dan munuduhnya sebagai pengikut Rafidhan dan orang-orang bodoh mennuduhnya sebagai orang yang telah murtad. Hingga akhirnya jenazah Imam Thobarai dikebumikan di dalam rumahnya (Lihat Mu’jamul Addiba’ hal. 59, vol. 18, juga At Thabaqah As Syafi’iyah Al Kubra, hal. 124, vol. 3, juga Al Bidayah wan Nihayah, hal. 146, vol. 11).

Ibnu Katsir, dalam kitabnya, Al Bidayah wan Nihayah menyanggah tuduhan itu, ia mengatakan: “Hal itu merupakan hal yang mustahil terdapat pada diri Imam Thobari akan tetapi sebaliknya, ia adalah salah satu ulama’ dan imam umat Islam, yang beramal berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah (Al Bidayah wan Nihayah, hal. 154, vol. 11).

Bahkan beberapa ulama’ menyampaikan pujian untuknya, salah satunya adala Imam Ad Dzahabi, ia berkata dalam Mizanul I’tidal: “Seorang imam besar, mufassir, Abu Ja’far, pemilik banyak karya tertulis…, salah satu dari ulama’ besar yang dijadikan rujukan (Mizanul I’tidal )

1 Response to “Ketabahan dan Kesabaran Imam Thobari (Radhiallahu ‘anhu)”


  1. 1 dusam Juli 20, 2014 pukul 1:47 am

    imam besar.tidak lufut dari cobaan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: