Bangsa Arab di Mata Anak-Anak Israel

israel-girls.jpg
Yahya Bashir dalam tulisannya (Adabul Athfal Ashuhyuni ‘adwan la insani, Manarul Islam, edisi 362) mengutip informasi dari beberapa peneliti yang berhasil mengungkap bahwa buku-buku yang dijadikan panduan dan pijakan dalam pendidikan anak-anak di Israel bertujuan untuk menanamkan benih permusuhan terhadap Palestina dan dunia Islam, buku-buku inilah yang telah membentuk pemikiran mereka.

Salah satu diantara mereka adalah Prof. Husain Muhammad Hasanin dalam karya tulisnya yang berjudul Ta’tsirul Ikhtilal ‘ala adabill Athfal (Dampak Pendudukan Terhadab Perilaku Anak-Anak) menyebutkan bahwa Zzionis disamping menanamkan pemikiran melewati sarana pendididikan dan pengajaran untuk menggiring agar anak-anak agar memiliki loyalitas terhadap zionisme juga menanamkan pada anak-anak perasaan superioritas Israel atas bangsa-bangsa Arab, serta menanamkan rasa benci terhadap mereka dan keyakinan bahwa kemenangan selalu berpihak pada Israel (lihat, Adabul Athfal fil Urdun, 210)

Prof. Danial Barthol dari Fakultas Pendidikan Universitas Tel Aviv juga telah memeriksa kandungan semua buku pelajaran, dari kelas 1 hingga kelas 11, baik materi bahasa, sejarah, geografi maupun pendidikan kebangsaan. Ia menemui buku-buku tersebut menggambarkan bangsa Arab sebagai bangsa yang tidak memiliki rasa kemanusiaan, nuansa itu semakin terlihat kental dalam materi yang menyinggung masalah intifadah (Manarul Islam, edisi 361)

Lalu, apa yang telah dikatakan buku-buku tersebut? Berikut ini beberapa contoh:

Cerita “Hasambah dan Pencuri Kuda” yang ditulis oleh penulis Israel, Ijal Musinzun. Diceritakan di dalamnya, bahwa ketika Musthofa menyelinap ke dalam sebuah kandang untuk mencuri kuda, seseorang yang bernama Manshah (salah satu pahlawan dalam cerita) memergokinya, lalu berkata si Musthafa, aku tidak menemukan kuda, aku tidak tahu apa-apa, kuda ini datang sendiri menyerahkan dirinya, aku hanya mencari tali kekangku, nenekku sakit, tapi ketika kamu meletakkan dua puluh tali kekang di atas penggungnya maka dia akan bangkit dari tempat tidurnya (sembuh). (Majalah Cairo, edisi 109)

Jelas, dari cerita ini anak-anak Israel akan merasa bahwa musuh mereka, kaum Arab, hanyalah kaum yang memiliki perangai buruk dan buta peradaban, serta bodoh, sehingga mereka merasa bahwa keberadaan mereka di Palestina bukan hal yang dholim, tapi malah menguntungkan Palestina, karena akan membuat mereka labih “maju”.

Cerita lain adalah “Tahya Sang Pemberani”, ditulis oleh penulis Israel, Manahim Talmi, untuk menggambarkan kebengisan tentara Arab. Si penulis membuat-buat percakapan antar tentara Arab. Ketika para tentara itu melihat seoang wanita, salah satu diantara mereka mengatakan, “dia adalah ghonimah bagi kita, kita akan mengambil sebagian dari sapi-sapi mereka dan susunya, aku akan mengambil salah satu dari gadis-gadis mereka!” (Majalah Cairo, edisi 109)

Jika gambaran bangsa Arab di mata anak-anak Israel seperti yang digambarkan di buku bacaan wajib mereka, maka tentu mereka akan bersemangat untuk memberi balasan “setimpal” kepada bangsa Arab, ini sudah bisa dilihat bagaimana mereka memperlakukan tawanan Arab dalam penjara-penjara mereka.

Ada pula kisah “Petualangan Uziyauz” oleh penulis Israel, Hazy Labin. Pahlawannya adalah seorang anak Israel yang menyerang musuhnya, yaitu kaum Arab, dan ia selalu menang dalam perempuran, musuh mereka hanyalah para pengecut, yang tidak mampu berbuat apa-apa untuk memenuhi rasa puas mereka untuk membunuh!

Tentu jika bangsa Arab di mata mereka hanya sebagai bangsa pembunuh, maka membantai bangsa Arab bagi mereka bukan merupakan suatu kesalahan yang harus disesali, bahkan merupakan sebuah jasa. Tidaklah mengherankan, ketika terjadi peristiwa pembantaian Kafr Qosim tahun 1956 salah seorang wartawan mewawancarai tentara Yahudi yang bernama Malinki, “Apakah anda menyesali apa yang telah Anda lakukan?” Ia menjawab, “sebaliknya, karena kematian orang Arab di Israel adalah kehidupan orang Israel, dan kematian orang Arab di luar Israel adalah kehidupan seluruh keturunan Bani Israel!” Kemudian ditanya, “Bagaimana perasaan Anda ketika melakukan hal itu?” Ia menjawab, “aku sedang kehausan darah orang Arab, dan aku telah telah mereguk darah mereka hingga aku mabuk!” (dinukil oleh penulis ‘Amaliyah Istishadiyah fi Mizanil Fiqh hal. 24)

Adapun untuk anak-anak Yahudi yang tinggal di negara-negara luar Israel, organisasi-organisasi zionis telah menebarkan ratusan buku untuk mengukuhkan misi mereka. Salah satu contoh dari buku tersebut adalah buku “Daud Kecil” yang menghubungkan antara bangsa Arab dengan Hitler, dan orang-orang Jerman itu menggunakan tharbus (sejenis songkok khas Arab) setelah mereka menyerang Yahudi.

Di salah satu pameran anak-anak di sebuah negara Eropa Israel mempromosikan cerita seekor anak ayam yang tengah berada di antara ayam-ayam jantan yang bengis, si ayam jantan bertanya kepadanya, “apakah kamu hendak menyerang kami?” Anak ayam berkata bahwa dia tidak ingin apa-apa, ia hanya ingin tetap hidup dan selamat diantara para ayam jantan yang bangis. Tentu jika anak kecil membaca cerita ini ia akan memihak anak ayam (Israel) dan membenci ayam-ayam jantan yang bengis (Arab) dan berusaha membalikkan keadaan dalam cerita di masa depan.

Dan hal ini memang sudah direncanakan dengan rapi, karena para penulisnya pun mereka yang telah berkecimpung dalam dunia militer. Koran Israel, Hertz (20/9/1974), menyebutkan bahwa ‘Idan Sitr adalah mantan ketua redaksi sebuah majalah militer sedangkan Hazy Labin (penulis “Petualangan Uziyauz”) adalah veteran perang 1948.

Rupanya cerita-cerita itu telah menunjukan buahnya, peperangan, pembantaian, pengusiran, penggusuran yang ditujukan kepada bangsa Arab semakin lama semakin kentara. Bahkan menurut sebuah penelitian (lihat, Manarul Islam, edisi 362) yang ditujukan terhadap murid-murid sekolah dasar Israel menghasilkan bahwa 60% dari 1066 siswa yang rata-rata masih berumur 9-14 tahun telah memberi dukungan untuk membasmi semua pemukim Arab yang tinggal di wilayah pendudukan! (Hidayatullah.com)

1 Response to “Bangsa Arab di Mata Anak-Anak Israel”


  1. 1 sangkala Februari 27, 2009 pukul 5:06 am

    keadilan seadil-adilnya datangnya dari Allah Swt. maka semua tipu daya orang yang belum bertobat termasuk Yahudi Allah pasti memperlihatkannya…
    __________
    Thoriq: Benar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: