Arsip untuk November, 2006

Beda Seni di Mata Barat dan Islam

Kasus kartun yang melecehkan Rasulullah saw, Satanic Verses Salman Rusdi, film Buruan Cium Gue, rencana majalah Playboy versi Indonesia, kasus Anjasmara ‘telanjang’, penolakan terhadap RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi yang dilakukan LSM-LSM feminis dan mereka yang mengatakan diri sebagai pekerja seni, serta puluhan kasus serupa yang telah menimbulkan keresahan masyarakat-hingga menyebabkan terjadinya demonstrasi dalam skala internasional, terjadi bisa dikarenakan akibat dari merebaknya ideologi kebebasan berekspresi, yakni paham liberal.

Paham ini, adalah sebuah ideologi “mentah” yang dipaksakan oleh negara-negara besar terhadap dunia ketiga.

Penulis mengatakan mentah karena ideologi ini dibiarkan cair tanpa batasan-batasan yang jelas, tidak heran jika di Barat ada konvoi wanita telanjang di jalan-jalan umum, ada pesta kaum nudis ada partysex, semuanya, berdalih ‘kebebasan ekspresi dan seni’.

Mentah, juga karena tidak mungkin diterapkan secara fair karena jika hendak diterapkan secara fair maka mau tidak mau Barat juga harus bisa menerima “kebebasan ekspresi balasan”. Walhasil ideologi kebebasan berekspresi versi Barat hanyalah teori di awang-awang, yang tidak bisa diterapkan kecuali dengan senjata dan standar ganda.

Kerusakan moral adalah penyakit serius yang sedang menjangkiti Barat akibat penerapan ideologi mentah ini, maka ketika mereka tidak bisa lagi mengatasi problem. Mau tidak mau, untuk menutupi semua borok, mereka memoles ideologi ini dengan jargon-jargon indah, serta mulai melakukan pemaksaan terhadap negara-negara Muslim untuk mengikutinya. Bahkan ada pihak-pihak yang berani memutar balikkan ayat serta maqasid syari’ah supaya umat Islam ramai-ramai menyambut hiruk-pikuk ideologi ini.

Lanjutkan membaca ‘Beda Seni di Mata Barat dan Islam’

Iklan

Ketabahan dan Kesabaran Imam Thobari (Radhiallahu ‘anhu)

mosque.jpg Imam Thobari, salah satu ulama’ mufassir, muhadist sekaligus muarikh. Lahir di Thabaristan (sebuah wilayah di negeri Parsi, yang terletak antara Jurjan dan Dailam), pada tahun 224 H, dan meninggal di Baghdad pada tahun 310 H. Karya-karya yang telah ditulisnya adalah Jami’ul Bayan Fannu Ta’wili Ayil Qur’an yang lebih dikenal dengan Tafsir Thobari, Ikhtilaful Fuqaha’, Attarikh Atthabari, dll.

Dia adalah seorang ‘alim yang memiliki kepribadian yang muliya dan tawadhu’, baik terhadap para tamu dan murid-muridnya. Tidak memiliki sifat takabur atau menjadi sombong karena ilmu yang telah dimilikinya (Lihat, Al Imam At Thobari, karya Dr. Muhammad Zuhayli, hal. 79).

Berkata Abu Bakar bin Kamil, salah satu ulama’ yang hidup semasanya: “Aku menjenguk Abu Ja’far (Imam Thabari) ketika ia hendak meninggal, dan aku memintanya untuk mema’afkan semua orang yang telah memusuhinya. Aku berbuat demikian dikarenakan guruku, Abu Hasan bin Husain, dimana aku telah menimba ilmu tentang Al Qur’an darinya” (dan dia telah memusuhi Imam Thobari, dikarenakan Imam Thobari telah memuji Imam Abu Hanifah). Maka Imam Thobari pun menjawab permintaan Abu Bakar bin Kamil: “Semua yang telah memusuhiku telah aku ma’afkan, kecuali mereka yang telah menuduhku berbuat bid’ah” (Mu’jamul Addiba’, hal 84, vol.18).

Lanjutkan membaca ‘Ketabahan dan Kesabaran Imam Thobari (Radhiallahu ‘anhu)’

Benarkah Semua Pendapat Boleh Diambil?

 

Seorang penganut liberal telah mempublikasikan sebuah tulisan yang berjudul “Metodologi Berfatwa Dalam Islam”, katanya: “Setiap umat memiliki hak untuk mengikuti tafsir a la Sunni, a la Mu’tazilah, a la Syi’ah, a la Gus Dur, a la Cak Nur, a la kiai langitan, a la Jaringan Islam Liberal (JIL), a la Ahmadiyah, dan lain-lain. Wahai, serahkanlah kepada umat untuk memilih mana-mana tafsir yang terbaik untuk dirinya” (lihat, situs JIL, 23/9/2005).

Tampak jelas dalam penggalan di atas, si penulis memiliki pemahaman bahwa setiap orang boleh mengikuti tafsir siapa saja yang sesuai dengan kecenderungannya, tanpa ada rambu-rambu yang jelas, semuanya diserahkan kepada publik untuk memilih.

Dengan sikap yang seperti itu, si kandidat doktor ini juga secara tidak langsung beranggapan bahwa setiap pendapat layak diperhitungkan, tanpa melihat substansi atau kapasitas pencetusnya, tidak heran jika di kesempatan lain si penulis berpendapat bahwa di sana ada kelompok yang pro pluralisme, dan yang kontra pluralisme, sekaligus dalil kedua pihak (Media Indonesia 6/8/2004), tanpa melihat siapa yang pro-kontra, para fuqaha’ atau bukan, si penulis langsung memasukkannya dalam ‘wilayah khilaf’ yang layak diperhitungkan.

Bahkan dalam tulisan terakhir, si penulis “Metodologi Berfatwa” menyarankan agar umat islam mau mengadopsi pendapat non muslim (lihat, “Membentengi Islam?”, dipublikasikan dalam situs JIL, 28/8/2006).

Jika sikap “tidak jelas” ini terus-menerus dikembangkan, maka bisa-bisa perkawinan sesama jenis juga dihalalkan, karena toh bukankah ada beberapa mahasiswa syari’ah dari IAIN yang membolehkan? Walhasil, nalar seperti ini amatlah berbahaya.

Kapan Sebuah Pendapat Bisa Diterima?

Jika tidak semua pendapat boleh diambil, maka kapan suatu pendapat bisa diterima? Ada dua syarat yang harus dipenuhi, hingga sebuah pendapat boleh diambil: Pertama, pendapat tersebut tidak bertentangn dengan dalil qath’i. Kedua, pendapat itu lahir dari seorang mujtahid (lihat, Dirasat Fi Al Ikhtilafat Al ‘Ilmiyah, Dr. Muhammad Abu Al Fath Al Bayanuni, hal. 114)

Lanjutkan membaca ‘Benarkah Semua Pendapat Boleh Diambil?’

Imam Syafi’i dan Para Lawan Debatnya

almanar-1281.jpg

Imam Syafi’i, salah satu imam madzhab empat, mujtahid mutlak, lahir di Ghaza 150 H, wafat di Mesir 204 H. Beberapa karyanya antara lain Al Umm (fiqih), Ar Risalah (ushul fiqih), dll.Tidak diragukan lagi bahwa Imam Syafi’i amat akrab dengan perdebatan, beberapa ulama besar pun pernah terlibat perdebatan dengannya, seperti Muhammad bin Al Hasan, syaikh ahlu ra’yi, sahabat sekaligus “ustadz” Imam Syafi’i, juga Asbagh bin Al Farj bin Sa’di, faqih dari kibar ulama’ madzhab Maliki di Mesir, begitu pula pernah berdebat dengan Imam Ahmad bin Hambal tentang kekufuran mereka yang meninggalkan shalat.

Akan tetapi setiap ia berdebat dengan ulama’ lain ia selalu menggunakan adab dan sopan santun serta tidak mencela lawannya. Abu Utsman, putranya mengatakan: “Aku sekali-kali tidak pernah mendengar ayahku mendebat seseorang dengan meninggikan suaranya” (Tahdzibul Asma’ Wal Lughat, hal. 66, vol.1).

Ahmad bin Kholid bin Kholal berkata: “Aku mendengar Syafi’i berkata, “ketika aku mendebat seseorang aku tidak menginginkan dia jatuh kepada kesalahan.(Tawaliyut Ta’sis, hal. 65)

Syafi’i juga berkata: “Aku berdebat tidak untuk menjatuhkan orang” (Tahdzibul Asma Wal Lughat, hal 66, vol.1)

Lanjutkan membaca ‘Imam Syafi’i dan Para Lawan Debatnya’

Bangsa Arab di Mata Anak-Anak Israel

israel-girls.jpg
Yahya Bashir dalam tulisannya (Adabul Athfal Ashuhyuni ‘adwan la insani, Manarul Islam, edisi 362) mengutip informasi dari beberapa peneliti yang berhasil mengungkap bahwa buku-buku yang dijadikan panduan dan pijakan dalam pendidikan anak-anak di Israel bertujuan untuk menanamkan benih permusuhan terhadap Palestina dan dunia Islam, buku-buku inilah yang telah membentuk pemikiran mereka.

Salah satu diantara mereka adalah Prof. Husain Muhammad Hasanin dalam karya tulisnya yang berjudul Ta’tsirul Ikhtilal ‘ala adabill Athfal (Dampak Pendudukan Terhadab Perilaku Anak-Anak) menyebutkan bahwa Zzionis disamping menanamkan pemikiran melewati sarana pendididikan dan pengajaran untuk menggiring agar anak-anak agar memiliki loyalitas terhadap zionisme juga menanamkan pada anak-anak perasaan superioritas Israel atas bangsa-bangsa Arab, serta menanamkan rasa benci terhadap mereka dan keyakinan bahwa kemenangan selalu berpihak pada Israel (lihat, Adabul Athfal fil Urdun, 210)

Lanjutkan membaca ‘Bangsa Arab di Mata Anak-Anak Israel’