<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Buletin Islam Al Manar</title>
	<atom:link href="http://almanar.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://almanar.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Tue, 21 Feb 2012 10:46:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='almanar.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Buletin Islam Al Manar</title>
		<link>http://almanar.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://almanar.wordpress.com/osd.xml" title="Buletin Islam Al Manar" />
	<atom:link rel='hub' href='http://almanar.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Diangkat Taklif Bagi Wali, Berarti Tinggalkan Syariat?</title>
		<link>http://almanar.wordpress.com/2012/01/23/diangkat-taklif-bagi-wali-berarti-tinggalkan-syariat/</link>
		<comments>http://almanar.wordpress.com/2012/01/23/diangkat-taklif-bagi-wali-berarti-tinggalkan-syariat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jan 2012 04:04:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almanar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tarbiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://almanar.wordpress.com/?p=431</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa kelompok amat bermudah-mudah menyesatkan pihak lain karena didasari ketidak pahaman mengenai makna istilah yang biasa digunakan komunitas tertentu. Sebagai contoh dalam kasus istilah irtifa` taklif atau hilangnya taklif bagi para wali Allah, yang biasa digunakan para sufi. Mereka menyimpulkan dari istilah itu bahwa para sufi memiliki keyakinan bahwa dalam tingkatan tertentu seseorang boleh meninggalkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=almanar.wordpress.com&amp;blog=524942&amp;post=431&amp;subd=almanar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa kelompok amat bermudah-mudah menyesatkan pihak lain karena didasari ketidak pahaman mengenai makna istilah yang biasa digunakan komunitas tertentu. Sebagai contoh dalam kasus istilah <em>irtifa</em>`<em> taklif</em> atau hilangnya taklif bagi para wali Allah, yang biasa digunakan para sufi. <span id="more-431"></span>Mereka menyimpulkan dari istilah itu bahwa para sufi memiliki keyakinan bahwa dalam tingkatan tertentu seseorang boleh meninggalkan syari’at alias meninggalkan hal-hal yang wajib dan melakukan larangan-larangan karena keyakinan telah hilangnya taklif. Dengan dasar pandangan itulah akhirnya mereka menyesatkan para sufi secara keseluruhan.</p>
<p><a href="http://almanar.files.wordpress.com/2012/01/unduhan-2.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-433" title="unduhan 2" src="http://almanar.files.wordpress.com/2012/01/unduhan-2.jpg?w=550" alt=""   /></a>Apakah kesimpulan bahwa seseorang jika sudah mencapai tingkatan<em> irtifa’ at taklif</em> bermakna bahwa ia sudah terlepas dari hukum syariat? Jawabannya tentu kita kembalikan kepada para pengguna istilah tersebut, yakni para sufi. Karena setiap kaum memiliki istilah masing-masing, seperti istilah-istilah khusus para fuqaha, muhaddits, para dokter demikian juga para sufi.  Nah, apa yang dimaksud <em>irtifa’ taklif</em> dalam dunia tahsawuf?</p>
<p>Imam Al Ghazali menyatakan dalam fatwa beliau yang dinukil oleh Imam Tajuddin As Subki dalam Thabaqat As Syafi’iyah Al Kubra (6/279). Imam Al Ghazali menjelaskan:</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Adapun makna hilangnya taklif (irtifa’ taklif) dari wali yakni, sesungguhnya ibadah sudah menjadi aktivitas yang disukai, serta gizi bagi jiwanya, dimana ia tidak sabar untuk melakukannya, maka baginya hal itu tidaklah menjadi beban (kulfah)</span>. Seperti anak kecil yang dibebani untuk datang ke sekolah, dan di bawa paksa ke tempat itu, jika ia sudah memiliki pengetahuan, maka aktivitas itu adalah hal yang paling nikmat baginya, ia tidak sabar untuk melakukannya dan tidak ada beban padanya. Dan taklif (pembebanan) orang yang sedang kelaparan untuk makan makanan yang lezat adalah perkara yang mustahil, karena ia makan dengan syahwatnya dan menikmati aktivitas itu, maka apa artinya pembebanan baginya?</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Jika demikian maka taklif terhadap wali adalah hal yang mustahil, dan taklif hilang dari wali dalam makna yang demikian, bukan bermakna bahwa ia tidak puasa dan tidak melaksanakan shalat, meminum khamr atau berzina.</span></p>
<p>Sebagaimana mustahil membebani perindu untuk melihat pihak yang dirindukan dan mencium kedua kakinya serta bertawadhu’ kepadanya, karena hal itu merupakan puncak kenikmatan dan syahwatnya. Maka demikianlah gizi jiwa seorang wali dalam mengingat (yang dirindukan) secara terus menerus, sarta mengerjakan perintah dan bertawadhu’ dengan hatinya. Tidak mengkin baginya menyertakan badan dan hati untuk merendah kacuali dengan bentuk sujud, hingga hal itu menjadi kenikmatan yang sempurna dalam merendahkan diri dan penghormatan sampai bersatunya kenikmatan badan dan hati.</p>
<p>Bahkan karena kenikmatan seorang wali dari melakukan qiyam untuk Allah dengan berqunut dan bermunajat hingga ia tidak merasakan sakit yang disebabkan bengkak di kaki, hingga dikatakan padanya,”Bukankah Allah telah mengampuni engkau terhadap apa yang telah engkau perbuat dan yang belum?”Maka ia mengatakan,”Apakah aku tidak boleh menjadi seorang hamab yang bersyukur?”</p>
<p>Dari pemaparan Imam Al Ghazali di atas cukup jelas mereka yang menyangka bahwa istilah <em>irtifa’ taklif</em>  yang digunakan para sufi bermakna bahwa mereka tidak mengerjakan perintah dan tidak menjauhi larangan adalah sangkaan yang jauh dari kebenaran.</p>
<p>________________</p>
<p>Merujuk kepada Thabaqat As Syafi’iyah, karya Imam Tajuddin As Subki, Hijr Mesir, t. Dr, Abdul Fattah Muhammad Al Hulwu, Dr. Mahmud Muhammad Ath Thanahi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />Filed under: <a href='http://almanar.wordpress.com/category/tarbiyah/'>Tarbiyah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/almanar.wordpress.com/431/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/almanar.wordpress.com/431/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/almanar.wordpress.com/431/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/almanar.wordpress.com/431/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/almanar.wordpress.com/431/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/almanar.wordpress.com/431/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/almanar.wordpress.com/431/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/almanar.wordpress.com/431/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/almanar.wordpress.com/431/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/almanar.wordpress.com/431/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/almanar.wordpress.com/431/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/almanar.wordpress.com/431/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/almanar.wordpress.com/431/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/almanar.wordpress.com/431/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=almanar.wordpress.com&amp;blog=524942&amp;post=431&amp;subd=almanar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://almanar.wordpress.com/2012/01/23/diangkat-taklif-bagi-wali-berarti-tinggalkan-syariat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2d862539c6dd434a76a2c2d1158f6027?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">almanar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://almanar.files.wordpress.com/2012/01/unduhan-2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">unduhan 2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hukum Ucapan Selamat Tahun Baru Hijriyah, Bid’ah Terlarang?</title>
		<link>http://almanar.wordpress.com/2011/11/26/ucapan-selamat-tahun-baru-hijriyah-bidah/</link>
		<comments>http://almanar.wordpress.com/2011/11/26/ucapan-selamat-tahun-baru-hijriyah-bidah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Nov 2011 08:37:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almanar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://almanar.wordpress.com/?p=420</guid>
		<description><![CDATA[Begitu banyak tulisan mengenai hukum mengucapkan “salamat tahun baru” di bulan Muharram ini, namun semuanya hanya merujuk kepada pendapat pihak kontemporer, yang menyatakan bahwa perbuatan itu bid’ah dan dilarang. Sebab itulah penulis tertarik untuk menelisik hukumnya yang sebenarnya menurut para hufadz dan fuqaha mu&#8217;tabar. Dan hasilnya, demikianlah pendapat mereka: Al Hafidz Abu Hasan Al Maqdisi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=almanar.wordpress.com&amp;blog=524942&amp;post=420&amp;subd=almanar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;" align="center">Begitu banyak tulisan mengenai hukum mengucapkan “salamat tahun baru” di bulan Muharram ini, namun semuanya hanya merujuk kepada pendapat pihak kontemporer, yang menyatakan bahwa perbuatan itu bid’ah dan dilarang. Sebab itulah penulis tertarik untuk menelisik hukumnya yang sebenarnya menurut para hufadz dan fuqaha mu&#8217;tabar. Dan hasilnya, demikianlah pendapat mereka:</p>
<p><span id="more-420"></span><br />
<strong>Al Hafidz Abu Hasan Al Maqdisi</strong></p>
<p>Al Imam Al Hafidz As Suyuthi dalam Al Hawi li Al Fatawi (hal. 101) menyatakan,”Al Qamuli menyatakan dalam Al Jauhar (yakni Jauhar Bahr Al Muhith-pent):”Kami belum melihat ashab kami (yakni para ulama As Syafi’iyah-pent) pernyataan dalam tahni’ah (ucapan selamat) dua hari raya, tahun-tahun serta bulan-bulan sebagaimana apa yang dilakukan oleh manusia. Dan aku melihat dari beberapa faidah dari Syeikh Zakiyuddin Abdul Adzim Al Mundziri bahwa<span style="text-decoration:underline;"> Al Hafidz Abu Al Hasan Al Maqdisi telah ditanya tentang tahni’ah di awal tahun-tahun dan bulan-bulan. Maka beliau menjawab bahw sesungguhnya manusia masih berselisih mengenai hal itu, dan beliau berkata,”Dan yang aku lihat bahwa sesungguhnya hal itu mubah, bukan sunnah juga bukan bid’ah.”</span></p>
<p>As Suyuthi menambahkan bahwa Ibnu Qasim Al Ghazzi telah menukil pernyataan di atas dan tidak menambahnya. Sedangkan Ibnu Alan dalam Al Futuhat (6/311) menyatakan bahwa Ibnu Qasim tidak membantahnya. Ini menunjukkan bahwa Ibnu Qasim menyetujuinya. Demikian pula sikap yang diambil oleh Al Hafidz As Suyuthi.</p>
<p><a href="http://almanar.files.wordpress.com/2011/11/kullu-am.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-421" title="kullu am" src="http://almanar.files.wordpress.com/2011/11/kullu-am.jpg?w=550" alt=""   /></a></p>
<p><strong>Syihab Ibnu Hajar</strong></p>
<p>Namun ada pula yang menanggapi pernyataan Al Hafidz Abu Al Hasan Al Maqdisi di atas, yakni Syihab Ibnu Hajar. Al Khatib As Syarbini dalam Mughni Al Muhtaj (1/429) menyatakan,” <span style="text-decoration:underline;">Dan Syihab Ibnu Hajar menjawab setelah menela’ah akan hal itu (pendapat Al Hafidz Al Maqdisi- pent) bahwa hal itu (tahni’ah-pent) disyariatkan</span>. Dan beliau berhujjah untuknya bahwa Imam Al Baihaqi telah membuat bab khusus tentang hal itu, kemudian beliau (Ibnu Hajar-pent) menyatakan bab tentang apa-apa yang diriwayatkan dalam perkataan manusia satu sama lain dalam ied  تقبل الله منا و منك dengan menyebutkan sejumlah akhbar dan atsar dhaif, akan tetapi perkumpulannya dijadikan hujjah dalam permasalahan seperti ini.</p>
<p>Dan beliu kemudian mengatakan,”Dan menjadi hujjah juga keumuman tahni’ah ketika memperoleh kenikmatan atau terhindar dari balak dengan disyariatkannya sujud syukur dan takziyah, juga dengan periwayatan Ka’ab bin Malik di Shahihain dalam kisah taubatnya ketika mundur dari perang Tabuk,’Bahwa sesungguhnya ia ketika memperoleh kabar gembira mengenai diterimanya taubatnya pergi kepada Rasulullah صلي الله عليه وسلم berdirilah kepadanya Talhah bin Ubaidllah kemudian memberi ucapan selamat kepadanya.”</p>
<p>Yang juga menukil komentar Syihab Ibnu Hajar atas pendapat Al Hafidz Abu Al Hasan Al Maqdisi selain As Syarbini adalah As Syarwani dalam Hasyiyah At Tuhfah (3/56).</p>
<p>Al Qalyubi dalam Hasyiyah Syarhi Al Mahalli (1/359) juga menyatakan,<span style="text-decoration:underline;">”Tahni’ah untuk hari-hari raya, tahun-tahun dan bulan-bulan, Ibnu Hajar mengatakan, mandub (sunnah-pent) dan mengambil teladan untuknya dengan diperintahkannya sujud syukur ketika memperoleh nikmat dan terhindar dari adzab.</span></p>
<p><strong>As Syarqawi</strong></p>
<p><a href="http://almanar.files.wordpress.com/2011/11/kullu-am1.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-429" title="kullu am1" src="http://almanar.files.wordpress.com/2011/11/kullu-am1.jpg?w=550" alt=""   /></a>Syeikh Sayyid Ba Alawi, Mufti Diyar Al Hadrami menyatakan dalam Bughyah Al Mustarsyidin (hal.89),”Dan menambah As Syarqawi, <span style="text-decoration:underline;">demikian juga (disunnahkan tahni’ah-pent) untuk tahun dan bulan menurut pendapat mu’tamad…”</span></p>
<p><strong>Syaikh Al Islam Al Baijuri</strong></p>
<p>As Syarwani menyatakan dalam Hasyiyah At Tuhfah (56/3),”<span style="text-decoration:underline;">Dan ungkapan syaikh kami, disunnahkan tahni’ah untuk ied dan sejenisnya seperti tahun dan bulan menurut pendapat mu’tamad</span>…”</p>
<p>Ungkapan “syeikh kami” oleh As Syarwani dalam Al Hasyiyah biasanya menunjukkan pernyataan guru beliau Syeikh Al Islam Al Baijuri.</p>
<p>Walhasil, dalam masalah ini para fuqaha’ dan huffadz, khususnya dalam As Syafi’iyah memandang bahwa tahni’ah untuk awal tahun sebagai perkara mubah yang bukan bid’ah dan ada pula yang memandang bahwa hal itu termasuk sunnah. Bahkan pendapat terakhir merupakan pendapat mu’tamad menurut As Syarqawi dan Syeikh Al Islam Al Baijuri. Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam.</p>
<p>Di kesempatan yang mulia ini juga, Al Manar beserta “crew” mengucapkan tahni’ah kepada para pembaca,”Selamat tahun baru hijriah 1433 H. Semoga amalan kita hari esok lebih baik dari sekarang.”</p>
<p>Rujukan:</p>
<p>1. Al Hawi li Al Fatawi karya Imam As Suyuthi, Dar Al Kitab Al Arabi (1425 H), t. Syeikh Khalid Thurthusi.</p>
<p>2. Mughni Al Muhtaj karya Khatib As Syarbini, Dar Al Fikr (1426 H), t. Syeikh Jaubali As Syafi’i.</p>
<p>3. Hasyiyatan, karya Qalyubi dan Umairah, Dar Al Fikr (1419 H).</p>
<p>4. Nihayah Al Muhtaj ma’a Hasyiyah As Syubramallisi, Dar Al Kutub Al Ilmiyah (1424 H).</p>
<p>5. Hawasyi Tuhfah Al Muhtaj karya As Syarwani dan Ibnu Qasim, Al Maktabah At Tijariyah Al Kubra.</p>
<p>6. Al Futuhat Ar Rabaniyah karya Ibnu Alan, Dar Ihya At Turats Al Arabi.</p>
<p>7. Bughyah Al Mustarsyidin  karya As Sayyid Ba Alawi, Nur Al Huda Surabaya,</p>
<p><strong> </strong></p>
<br />Filed under: <a href='http://almanar.wordpress.com/category/fiqih-umum/'>Fiqih Umum</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/almanar.wordpress.com/420/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/almanar.wordpress.com/420/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/almanar.wordpress.com/420/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/almanar.wordpress.com/420/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/almanar.wordpress.com/420/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/almanar.wordpress.com/420/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/almanar.wordpress.com/420/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/almanar.wordpress.com/420/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/almanar.wordpress.com/420/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/almanar.wordpress.com/420/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/almanar.wordpress.com/420/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/almanar.wordpress.com/420/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/almanar.wordpress.com/420/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/almanar.wordpress.com/420/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=almanar.wordpress.com&amp;blog=524942&amp;post=420&amp;subd=almanar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://almanar.wordpress.com/2011/11/26/ucapan-selamat-tahun-baru-hijriyah-bidah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2d862539c6dd434a76a2c2d1158f6027?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">almanar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://almanar.files.wordpress.com/2011/11/kullu-am.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kullu am</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://almanar.files.wordpress.com/2011/11/kullu-am1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kullu am1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Imam Izzuddin Larang Jabat Tangan Setelah Shalat?</title>
		<link>http://almanar.wordpress.com/2011/10/08/imam-izzuddin-haramkan-salaman-setelah-shalat/</link>
		<comments>http://almanar.wordpress.com/2011/10/08/imam-izzuddin-haramkan-salaman-setelah-shalat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Oct 2011 18:56:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almanar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih Ibadah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://almanar.wordpress.com/?p=407</guid>
		<description><![CDATA[Sebagian kelompok membid’ahkan amalan yang biasa dilakukan di sebagian masyarakat Muslim yang bersalaman setelah shalat lima waktu  dengan pijakan fatwa Syeikh Al Islam Izzuddin bin Abdissalam. Dimana dalam kumpulan fatwa beliau, Kitab Al Fatawa (hal. 46, 47), beliau menyatakan,”Bersalaman setelah shubuh dan ashar bagian dari bid’ah-bid’ah. Kecuali bagi orang yang datang dan berkumpul dengan orang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=almanar.wordpress.com&amp;blog=524942&amp;post=407&amp;subd=almanar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagian kelompok membid’ahkan amalan yang biasa dilakukan di sebagian masyarakat Muslim yang bersalaman setelah shalat lima waktu  dengan pijakan fatwa Syeikh Al Islam Izzuddin bin Abdissalam. Dimana dalam kumpulan fatwa beliau, Kitab Al Fatawa (hal. 46, 47), beliau menyatakan,”Bersalaman setelah shubuh dan ashar bagian dari bid’ah-bid’ah. Kecuali bagi orang yang datang dan berkumpul dengan orang yang menyalaminya sebelum shalat. Sesungguhnya bersalaman disyariatkan ketika bertemu.”<span id="more-407"></span></p>
<p>Dari fatwa itu mereka menyimpulkan bahwa Syeikh Al Islam Izzuddin menghukum bersalaman setelah ashar dan shubuh adalah bid’ah, yang menurut istilah mereka adalah haram, karena mereka memahami setiap bid’ah adalah sesat.</p>
<p>Bahkan pentahqiq kitab kumpulan fatwa Syeikh Al Islam tersebut berkomentar di catatan kaki, bahwa amalan itu adalah bid’ah yang menjadi bala’ bagi umat saat ini yang meraja-lela. Lalu ia menukil sebuah hadits,”Sesungguhnya setiap hal yang diadakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat…”</p>
<p>Nah, benarkah pemahaman di atas, bahwa maksud Imam Izzuddin menyatakan bahwa hal itu bid’ah bermakna sebagai amalan yang haram dilakukan? Mari kita merujuk kepada pendapat para ulama mengenai masalah ini.</p>
<p><a href="http://almanar.files.wordpress.com/2011/10/imagesi.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-408" title="imagesi" src="http://almanar.files.wordpress.com/2011/10/imagesi.jpg?w=550" alt=""   /></a>Istilah bid’ah menurut Imam Izzuddin berbeda dengan istilah yang dipakai oleh mereka yang menilai bahwa seluruh bid&#8217;ah adalah sesat termasuk pentahqiq. Dimana Imam Izzuddin berpendapat bahwa bid’ah terbagi menjadi dalam hukum lima, wajib, sunnah, makruh, haram dan mubah, seperti yang termaktub dalam kitab beliau Qawaid Al Ahkam (2/337-339). Sehingga, ketika Imam Izzuddin menyatakan bahwa bersalaman pada dua waktu itu termasuk bid’ah tidak otomatis merupakan hal yang haram.</p>
<p>Sebaliknya, dalam Qawaid Al Ahkam (2/339), dengan cukup gamblang Imam Izzuddin menyatakan bahwa bersalaman setelah ashar dan shubuh merupakan bid’ah mubah. Ketika Imam Izzudin menjelaskan pembagian bid’ah sesaui dengan hukum lima bersama contohnya, beliau menjelaskan bid’ah mubah,”<span style="text-decoration:underline;">Dan bagi <strong>bid’ah-bid’ah mubah</strong>, contoh-contohnya bersalaman setelah shubuh dan ashar</span>.”</p>
<p>Hal ini juga dinukil juga oleh Imam An Nawawi dalam Tahdzib Al Asma wa Al Lughat (3/22), serta Al Adzkar dalam Al Futuhat Ar Rabaniyah (5/398) dengan makna yang sama. Sehingga siapa saja tidak bisa memaksa istilah Imam Izzuddin untuk dimaknai sesuai dengan istilah pihak yang menyatakan seluruh bid’ah adalah sesat.</p>
<p>Nah, hal ini sudah cukup menunjukkan bahwa maksud pernyataan Imam Izzuddin dalam fatwa itu adalah bid&#8217;ah mubah. Dan pemahaman para ulama yang mu’tabar semakin mengukuhkan kesimpulan itu, diantara para ulama yang memiliki kesimpulan serupa adalah:</p>
<p><strong>Imam An Nawawi</strong></p>
<p>Imam An Nawawi menyatakan dalam Al Majmu’ (3/459),”<span style="text-decoration:underline;">Adapun bersalaman yang dibiasakan setelah shalat shubuh dan ashar saja telah menyebut  As Syeikh Al Imam Abu Muhammad bin Abdis Salam rahimahullah Ta’ala,’Sesungguhnya hal itu bagian dari <strong>bid’ah-bid’ah mubah</strong>, tidak bisa disifati dengan makruh dan tidak juga istihbab (sunnah).’ Dan yang beliau katakan ini baik.</span>”</p>
<p>Imam An Nawawi (631-676 H) sendiri merupakan ulama yang hidup semasa dengan Syeikh Izzuddin (578-660) dan dua-duanya adalah ulama Syam, hingga beliau faham benar pernyataan Imam Izzuddin. Dengan demikian kesimpulan beliau tentang pernyataan Imam Izzuddin amat valid.</p>
<p>Lebih dari itu, Imam An Nawawi adalah ulama Syafi’iyah yang paling memahami perkataan Imam As Syafi’i dan ulama-ulama madzhabnya sebagaimana disebut dalam Al Awaid Ad Diniyah (hal. 55). Sehingga, jika ada seseorang menukil pendapat ulama As Syafi’iyah dengan kesimpulan berbeda dengan pendapat Imam An Nawawi tentang ulama itu maka pendapat itu tidak dipakai. Lebih-lebih yang menyatakan adalah pihak yang tidak memiliki ilmu riwayah dan dirayah dalam madzhab As Syafi’i.</p>
<p><strong>Mufti Diyar Al Hadrami Ba Alawi</strong></p>
<p>Ba Alawi mufti As Syafi’iyah Yaman, dalam kumpulan fatwa beliau Bughyah Al Mustrasyidin (hal. 50) juga menyebutkan pula bahwa Imam Izzuddin memandang masalah ini sebagai bid’ah mubah sebagaimana pemahaman Imam An Nawawi,”<span style="text-decoration:underline;">Berjabat tangan yang biasa dilakukan setelah shalat shubuh dan ashar tidak memiliki asal baginya dan telah menyebut Ibnu Abdissalam bahwa hal itu merupakan <strong>bid’ah-bid’ah mubah</strong>.”</span></p>
<p><strong>As Safarini Al Hanbali</strong></p>
<p>Bukan hanya ulama As Syafi’iyah saja yang memahami istilah khusus yang digunakan oleh Imam Izuddin. Meskipun As Safarini seorang ulama madzhab Hanbali,  beliau memahami bahwa Imam Izzuddin menyatakan masalah ini sebagai bi’dah mubah. Tertulis dalam Ghidza Al Albab (1/235), dalam rangka mengomentari pernyataan Ibnu Taimiyah yang menyebutkan bahwa berjabat tangan di dua waktu tersebut adalah bid’ah yang tidak dilakukan oleh Rasul dan tidak disunnahkan oleh seorang ulama sekalipun, <span style="color:#000000;">”<span style="text-decoration:underline;"><span style="text-decoration:underline;">Aku berkata, d</span></span></span><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#000000;text-decoration:underline;">an</span> yang dhahir (jelas) dari pernyataan Ibnu Abdissalam dari As Syafi’iyah bahwa sesungguhnya hal itu adalah <strong>bid’ah mubah</strong>”</span></p>
<p>Dengan demikian pendapat pihak yang menyebut bahwa Imam Izzuddin menghukumi haram berjabat tangan setelah shalat ashar dan shubuh hanya bersandar dari sebutan “bid’ah” dari beliau adalah kesimpulan yang jauh dari kebenaran. Hal ini disebabkan mereka tidak memahami bahwa Imam Izzudin memiliki istilah yang berbeda dengan istilah mereka. Sehingga pemahaman mereka tentang pernyataan Imam Izzuddin pun bertentangan pula dengan pemahaman para ulama mu’tabar. Allahu Ta’ala A’la wa A’lam</p>
<p><strong>Rujukan</strong></p>
<p>1. Qawaid Al Ahkam fi Ishlahi Al Anam, Syeikh Al Islam Izzuddin bin Aziz bin Abdissalam, t. Dr. Nazih Kamal Hammad dan Utsman bin Jum’ah Dzamiriyyah, Dar Al Qalam (1421 H).</p>
<p>2. Kitab Al Fatawa, Syeikh Al Islam Izzuddin bin Aziz bin Abdissalam, t. Abdurahman bin Abdil Fattah, cet. Dar Al Ma’rifah (1406 H).</p>
<p>3. Al Majmu, Imam An Nawawi, t. Dr, Mahmud Mathraji, cet. Darul Fikr (1426 H).</p>
<p>4. Tahdzib Al Asma wa Al Lughat, Imam An Nawawi, t. Muhammad Munir Ad Dimasyki, cet. Dar Al Kutub Al Ilmiyyah.</p>
<p>5. Al Awaid Ad Diniyyah, Al Allama As Syaliyati Al Malibari, t. Abdul An Nashir Ahmad As Syafi’i Al Malibari.</p>
<p>6. Bughyah Al Mustarsyidin, Syeikh Ba Alawi, cet. Nur Al Huda Surabaya.</p>
<p>7. Ghidza’ Al Albab, As Safarini Al Hanbali, t. Muhammad Abdul Aziz Al Khalid, cet. Dar Al Kutub Al Ilmiyyah (1417 H).</p>
<br />Filed under: <a href='http://almanar.wordpress.com/category/fiqih-ibadah/'>Fiqih Ibadah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/almanar.wordpress.com/407/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/almanar.wordpress.com/407/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/almanar.wordpress.com/407/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/almanar.wordpress.com/407/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/almanar.wordpress.com/407/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/almanar.wordpress.com/407/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/almanar.wordpress.com/407/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/almanar.wordpress.com/407/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/almanar.wordpress.com/407/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/almanar.wordpress.com/407/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/almanar.wordpress.com/407/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/almanar.wordpress.com/407/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/almanar.wordpress.com/407/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/almanar.wordpress.com/407/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=almanar.wordpress.com&amp;blog=524942&amp;post=407&amp;subd=almanar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://almanar.wordpress.com/2011/10/08/imam-izzuddin-haramkan-salaman-setelah-shalat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2d862539c6dd434a76a2c2d1158f6027?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">almanar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://almanar.files.wordpress.com/2011/10/imagesi.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">imagesi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Imam As Syafi’i dan Para Sufi</title>
		<link>http://almanar.wordpress.com/2011/06/03/imam-as-syafi%e2%80%99i-dan-para-sufi/</link>
		<comments>http://almanar.wordpress.com/2011/06/03/imam-as-syafi%e2%80%99i-dan-para-sufi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Jun 2011 16:56:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almanar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Ulama']]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://almanar.wordpress.com/?p=395</guid>
		<description><![CDATA[Di beberapa tempat, Imam As Syafi’i telah memberi penilaian terhadap para sufi. Yang sering dinukil dari perkataan beliau mengenai sufi bersumber dari Manaqib Al Imam As Syafi’i yang ditulis oleh Imam Al Baihaqi. Di dalam kitab itu, Imam As Syafi’i menyatakan, “Kalau seandainya seorang laki-laki mengamalkan tashawuf di awal siang, maka tidak tidak sampai kepadanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=almanar.wordpress.com&amp;blog=524942&amp;post=395&amp;subd=almanar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di beberapa tempat, Imam As Syafi’i telah memberi penilaian terhadap para sufi. Yang sering dinukil dari perkataan beliau mengenai sufi bersumber dari Manaqib Al Imam As Syafi’i yang ditulis oleh Imam Al Baihaqi.<span id="more-395"></span></p>
<p>Di dalam kitab itu, Imam As Syafi’i menyatakan, “Kalau seandainya seorang laki-laki mengamalkan tashawuf di awal siang, maka tidak tidak sampai kepadanya dhuhur kecuali ia menjadi hamqa (kekurangan akal).” (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)</p>
<p>Beliau juga menyatakan,”Aku tidak mengetahui seorang sufi yang berakal, kecuali ia seorang Muslim yang khawwas.” (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)</p>
<p>Beberapa pihak secara tergesa-gesa menyimpulkan dari perkataan di atas bahwa Imam As Syafi’i mencela seluruh penganut sufi. Padahal tidaklah demikian, Imam As Syafi’i hanya mencela mereka yang menisbatkan kepada tashawuf namun tidak benar-benar menjalankan ajarannya tersebut.</p>
<p>Dalam hal ini, Imam Al Baihaqi menjelaskan,<span style="text-decoration:underline;">”Dan sesungguhnya yang dituju dengan perkataan itu adalah siapa yang masuk kepada ajaran sufi namun mencukupkan diri dengan sebutan daripada kandungannya, dan tulisan daripada hakikatnya, dan ia meninggalkan usaha dan membebankan kesusahannya kepada kaum Muslim, ia tidak perduli terhadap mereka serta tidak mengindahkan hak-hak mereka, dan tidak menyibukkan diri dengan ilmu dan ibadah, sebagaimana beliau sifatkan di kesempatan lain.”</span> (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/208)</p>
<p>Jelas, dari penjelasan Imam Al Baihaqi di atas, yang dicela Imam As Syafi’i adalah para sufi yang hanya sebatas pengakuan dan tidak mengamalkan ajaran sufi yang sesungguhnya.<a href="http://almanar.files.wordpress.com/2011/06/sufi1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-398" title="sufi" src="http://almanar.files.wordpress.com/2011/06/sufi1.jpg?w=550" alt=""   /></a></p>
<p>Imam As Syafi’i juga menyatakan,”Seorang sufi tidak menjadi sufi hingga ada pada dirinya 4 perkara, malas, suka makan, suka tidur dan berlebih-lebihan.” (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)</p>
<p>Imam Al Baihaqi menjelaskan maksud perkataan Imam As Syafi’i tersebut,<span style="text-decoration:underline;">”Sesungguhnya yang beliau ingin cela adalah siapa dari mereka yang memiliki sifat ini. Adapun siapa yang bersih kesufiannya dengan benar-benar tawakkal kepada Allah Azza wa Jalla, dan menggunakan adab syari’ah dalam muamalahnya kepada Allah Azza wa Jalla dalam beribadah serta mummalah mereka dengan manusia dalam pergaulan, maka telah dikisahkan dari beliau (Imam As Syafi’i) bahwa beliau bergaul dengan mereka dan mengambil (ilmu) dari mereka.</span> (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)</p>
<p>Kemudian Imam Al Baihaqi menyebutkan satu riwayat, bahwa Imam As Syafi’i pernah mengatakan,”Aku telah bersahabat dengan para sufi selama sepuluh tahun, aku tidak memperoleh dari mereka kecuali dua huruf ini,”Waktu adalah pedang” dan “Termasuk kemaksuman, engkau tidak mampu” (maknanya, sesungguhnya manusia lebih cenderung berbuat dosa, namun Allah menghalangi, maka manusia tidak mampu melakukannya, hingga terhindar dari maksiat).</p>
<p>Jelas, bahwa Imam Al Baihaqi memahami bahwa Imam As Syafi’i mengambil manfaat dari para sufi tersebut. Dan beliau menilai bahwa Imam As Syafi’i mengeluarkan pernyataan di atas karena prilaku mereka yang mengatasnamakan sufi namun Imam As Syafi’i menyaksikan dari mereka hal yang membuat beliau tidak suka. (lihat, Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)</p>
<p>Bahkan Ibnu Qayyim Al Jauziyah menilai bahwa pernyataan Imam As Syafi’i yang menyebutkan behwa beliau mengambil dari para sufi dua hal atau tiga hal dalam periwayatan yang lain, sebagai bentuk pujian beliau terhadap kaum ini,”<span style="text-decoration:underline;">Wahai, bagi dua kalimat yang betapa lebih bermanfaat dan lebih menyeluruh. Kedua hal itu menunjukkan tingginya <em>himmah</em> dan kesadaran siapa yang mengatakannya. Cukup di sini pujian As Syafi’i untuk kelompok tersebut sesuai dengan bobot perkataan mereka.”</span> (lihat, Madarij As Salikin, 3/129)</p>
<p><strong>Imam As Syafi’i Memuji Ulama Sufi</strong><br />
Bahkan di satu kesempatan, Imam As Syafi’I memuji salah satu ulama ahli qira’ah dari kalanagn sufi. Ismail bin At Thayyan Ar Razi pernah menyatakan,”Aku tiba di Makkah dan bertemu dengan As Syafi’i. Ia mengatakan,’Apakah engkau tahu Musa Ar Razi? Tidak datang kepada kami dari arah timur yang lebih pandai tentang Al Qur`an darinya.’Maka aku berkata,’Wahai Abu Abdillah sebutkan ciri-cirinya’. Ia berkata,’Berumur 30 hingga 50 tahun datang dari Ar Ray’. Lalu ia menyebut cirri-cirinya, dan saya tahu bahwa yang dimaksud adalah Abu Imran As Shufi. Maka saya mengatakan,’Aku mengetahunya, ia adalah Abu Imran As Shufi. As Syafi’i mengatakan,’Dia adalah dia.’” (Adab As Syafi’i wa Manaqibuhu, hal. 164)</p>
<p>Walhasil, Imam As Syafi’I disamping mencela sebagian penganut sufi beliau juga memberikan pujian kepada sufi lainnya. Dan Imam Al Baihaqi menilai bahwa celaan itu ditujukan kepada mereka yang menjadi sufi hanya dengan sebutan tidak mengamalkan ajaran sufi yang sesungguhnya dan Imam As Syafi’i juga berinteraksi dan mengambil manfaat dari kelompok ini. Sedangkan Ibnu Qayyim menilai bahwa Imam As Syafi’i juga memberikan pujian kepada para sufi.</p>
<p>Dengan demikian, pernyataan yang menyebutkan bahwa Imam As Syafi’i membenci total para sufi tidak sesuai dengan data sejarah, juga tidak sesaui dengan pemahaman para ulama mu’tabar dalam memahami perkataan Imam As Syafi’i. Wallahu’alam…</p>
<p>Rujukan:<br />
1. Manaqib Al Imam As Syafi’i, karya Al Baihaqi, t. As Sayyid Ahmad Shaqr, cet.Dar At Turats Kairo, th.1390 H.<br />
2. Madarij As Salikin, karya Ibnu Qayyim Al Jauziyah, cet. Al Mathba&#8217;ah As Sunnah Al Muhamadiyah, th. 1375 H.<br />
3. Adab As Syafi’I wa Manaqibuhu, karya Ibnu Abi Hatim Ar Razi, cet. Dar Al Kutub Al Ilmiyah, th. 1424 H.</p>
<br />Filed under: <a href='http://almanar.wordpress.com/category/tentang-ulama/'>Tentang Ulama'</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/almanar.wordpress.com/395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/almanar.wordpress.com/395/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/almanar.wordpress.com/395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/almanar.wordpress.com/395/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/almanar.wordpress.com/395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/almanar.wordpress.com/395/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/almanar.wordpress.com/395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/almanar.wordpress.com/395/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/almanar.wordpress.com/395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/almanar.wordpress.com/395/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/almanar.wordpress.com/395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/almanar.wordpress.com/395/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/almanar.wordpress.com/395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/almanar.wordpress.com/395/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=almanar.wordpress.com&amp;blog=524942&amp;post=395&amp;subd=almanar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://almanar.wordpress.com/2011/06/03/imam-as-syafi%e2%80%99i-dan-para-sufi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2d862539c6dd434a76a2c2d1158f6027?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">almanar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://almanar.files.wordpress.com/2011/06/sufi1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sufi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Syeikh Mahfudz Penyambung Sanad Ulama Nusantara</title>
		<link>http://almanar.wordpress.com/2011/05/31/syeikh-mahfudz-penyambung-sanad-ulama-nusantara/</link>
		<comments>http://almanar.wordpress.com/2011/05/31/syeikh-mahfudz-penyambung-sanad-ulama-nusantara/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 May 2011 19:11:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almanar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Ulama']]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://almanar.wordpress.com/?p=381</guid>
		<description><![CDATA[Beliau adalah Al Allamah Al Muhaddits Al Musnid Al Faqih Al Ushuli As Syeikh Muhammad Mahfudz. Lahir di Tarmas (Termas) Jawa Tengah pada tanggal 12 Jumadi Al Ula 1285 H, dikala ayah beliau bermukim di Makkah. Beliau diasuh oleh ibu dan para pamanya. Memperoleh ilmu dasar fiqih di usia muda dari beberapa ulama Jawa, dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=almanar.wordpress.com&amp;blog=524942&amp;post=381&amp;subd=almanar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beliau adalah Al Allamah Al Muhaddits Al Musnid Al Faqih Al Ushuli As Syeikh Muhammad Mahfudz. Lahir di Tarmas (Termas) Jawa Tengah pada tanggal 12 Jumadi Al Ula 1285 H, dikala ayah beliau bermukim di Makkah. Beliau diasuh oleh ibu dan para pamanya.<span id="more-381"></span></p>
<p><a href="http://almanar.files.wordpress.com/2011/05/minhaj.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-389" title="Minhaj" src="http://almanar.files.wordpress.com/2011/05/minhaj.jpg?w=550" alt=""   /></a>Memperoleh ilmu dasar fiqih di usia muda dari beberapa ulama Jawa, dan beliau juga menghafal Al Qur’an. Kemudian ayah beliau, Al Allamah Al Faqih Syeikh Abdullah At Tarmusi memanggilnya untuk belajar di Makkah. Pada tahun 1291 beliau berangkat menemui sang ayah dan bermukim di Makkah untuk membaca beberapa kitab di hadapan beliau. Kemudian Syeikh Mahfudz kembali ke Jawa dan berguru kepada Al Allamah Syeikh Shalih bin Umar As Samarani (Semarang), juga untuk membaca beberapa kitab.</p>
<p>Kemudian,Syeikh Mahfudz melakukan <em>rihlah thalab al ilmi</em>untuk kedua kalinya ke Makkah dan mengambil berbagai disiplin ilmu dari para ulama besarnya. Diantara para guru Syeikh Mahfudz adalah Al Allamah As Sayyid Abi Bakr bin Muhammad Syatha Al Makki, yang merupakan pijakan Syeikh Mahfudz dalam periwayatan hadits. Syeikh Mahfudz juga menyimak banyak kitab hadits dan musthalah-nya dari Al Allamah Al Muhaddits As Sayyid Husain bin Muhammad Al Habsyi Al Makki yang dikenal sebagai “Ibnu Mufti” (Anak Mufti). Beliau juga banyak membaca kitab hadits dan ilmunya di hadapan Al Allamah Syeikh As Syafi’iyah Makkah Syeikh Muhammad Sa’id Ba Bashil. Beliau juga memperoleh ilmu <em>qira’at 14 </em>dari Al Allamah Syeikh Muhammad As Syarbini Ad Dimyathi.</p>
<p>Dalam menuntut ilmu, beliau benar-benar bermujahadah dengan terjaga di malam hari, hingga terlihat kelebihan beliau dalam hadits dan ilmu-ilmunya, juga menguasai fiqih dan ushulnya, serta ilmu qira’at. Sehingga para guru beliau memberikan izin untuk mengajar. Syeikh Mahfudz mengajar di Bab As Shafa Masjid Al Haram dan di rumah tempat beliau tinggal.</p>
<p>Dari beliau, keluar para ulama baik, yang berasal dari tanah Jawa maupun Arab. Mereka adalah Kyiai Raden Dahlan As Samarani (Semarang), Kyiai Muhammad Dimyathi At Tarmusi (Termas), Kyiai Khalil Al Lasimi (Lasem), Kyiai Muhammad Hasyim bin Asy’ari Al Jumbani (Jombang), Kyiai Muhammad Faqih bin Abdi Al Jabbar Al Maskumbani (Maskumambang), Kyiai Baidhawi, Kyiai Abdu Al Muhaimin putra Abdul Aziz Al Lasimi, Kyiai Nawawi Al Fasuruwani (Pasuruan), Kyai Abbas Buntet As Syirbuni (Cirebon), Kyiai Abdul Muhith bin Ya’kub As Sidarjawi As Surabawi (Sidoarjo-Surabaya).</p>
<p>Yang juga meriayatkan dari Syeikh Mahfudz adalah As Syeikh Muhammad Al Baqir bin Nur Al Jukjawi (Jogja), Kyiai Ma’shum bin Ahmad Al Lasimi (Lasem), Kyiai Shiddiq bin Abdillah Al Lasimi (Lasem), Kyiai Abdul Wahhab bin Hasbullah Al Jumbani (Jombang).</p>
<p>Sedangkan para ulama Arab dan lainnya yang mengambil periwayatan dari Syeikh Mahfudz adalah Al Muhaddits Syeikh Habibullah As Syanqithi, Muhaddits Al Harmain As Syeikh Hamdan, Syeikh Ahmad Al Mukhalilati, Syeikh Umar bin Abi Bakr Ba Junaid Al Makki, Syeikh Muhammad Abdul Baqi Al Ayubi Al Laknawi.</p>
<p>Beliau mengajar dengan menggunakan bahasa Arab fuskha (fasih) sebagai pengantar, walau terkadang beliau campur dengan bahasa Jawa. Karya-karya beliau antara lain, <em>Al Manhaj Dzawi An Nadhr fi Syarh Alfiyah Al Atsar, Al Mauhibah Dzi Al Fadhl fi Hasyiyah Muqaddimah Ba Fadhal </em>(4 jilid<em>), Nail Al Ma’mul Hasyiyah Ghayah Al Wushul ala Lubb Al Ushul </em>(3 jilid), <em>Is’af Al Mathali’ bi Syarh Al Badr Al Lami’ Nadzmi Jam&#8217;i Al Jawami’</em> (2 jilid) <em>Hasiyah Takammulah Al Minhaj Al Qawim</em> (1 jilid), <em>Ghunyah At Thalabah bi Syarh At Thayyibah fi Al Qaira’at Al Asyrah </em>(1 jilid), <em>Kifayah Al Mustafid li Ma Ala Asanid</em>, yang berisi periwayatan Syeikh Mahfudz dalam semua disiplin ilmu dan lainnya.</p>
<p>Syeikh Mahfudz At Tarmusi memang pantas untuk dikagumi, apalagi bagi kalangan <em>ahlu al isnad</em>, yang mengatahui dari siapa saja beliau memperoleh ilmu dan dari kitab apa saja. Tidak hanya dalam bidang hadits saja, untuk kitab-kitab tafsir, fikih, qira’at, nahwu-sharaf, akhlak-tashawuf, bahkan sampai amalan dzikir, semuanya berasal dari para ulama yang memilki sanad bersambung hingga penulis kitab-kitab tersebut.</p>
<p>Berikut ini nama-nama kitab yang beliau pelajari dari berbagai disiplin ilmu yang seluruhnya bersanad hingga penulisnya, yang ditulis oleh Syeikh Al Muahfudz dalam karya beliau yang berjudul, <em>Kifayah Al Mustafid li Ma ‘Ala min Al Asanid</em>.</p>
<p><strong>Tafsir</strong></p>
<p>Syaikh Mahfudz At Tarmusi telah mengkaji beberapa kitab tafsir seperti Tafsir Al Jalalain, yang merupakan karya Imam Jalaluddin Al Mahalli (864 H) dan Imama Jalaluddin As Suyuthi (911 H), Tafsir Al Baidhawi (691 H), Tafsir Imam Al Fakhr Ar Razi (626 H), Tafsir Al Baghawi (516 H), Tafsir Al Khatabi As Syarbini (977 H), juga Ad Dur Al Mantsur karya Imam As Suyuthi. Semua kajian Syeikh Mahfudz At Tarmusi terhadap kitab-kitab tersebut bersanad yang sampai kepada para penulisnya.</p>
<p><strong>Hadits</strong></p>
<p>Kitab-kitab hadits yang pernah dipelajari oleh Syeikh Mahfudz melingkupi Al Jami’ As Shahih yang ditulis oleh Imam Al Bukhari (256), yang beliau simak 4 kali khatam dari Syeikh As Sayyid Abu Bakr Syatha. Beliau juga memiliki jalan periwayatan lain yang lebih pendek tentang kitab ini dari As Sayyid Husain bin Muhammad Al Habsyi. Selain Shahih Al Bukhari, beliau juga telah mempelajari Shahih Muslim (261 H), Sunan Abu Dawud (275 H), Sunan At Tirmidzi (279 H), Sunan An Nasa`i (303 H), Sunan Ibnu Majah (273 H), dengan bersanad.</p>
<p>Sanad hadits Syeikh Mahfudz juga sampai kepada para ulama mujtahid madzhab yang membukakan hadits. Diantaranya adalah Al Muwaththa’ Imam Malik (179 H) riwayat Yahya bin Yahya, Musnad Imam As Syafi’I (204 H), Musnad Abu Hanifah (200 H), Musnad Ahmad (241 H), Mukhtashar Ibnu Abi Jamrah (695 H), As Syifa` Qadhi Iyadh (544 H), As Syamail At Tirmidzi, Al Arba’in An Nawawiyah (676 H), Al Jami’ As Saghir karya Imam As Suyuthi, Al Mawahib karya Al Qasthalani (923 H). Dalam kitab sejarah, kitab As Sirah Al Halabiyah karya Ali Al Halabi (1044 H) serta As Sirah karya As Sayyid Ahmad Dahlan (1304 H), Syeikh Mahfudz pun memiliki sanadnya.</p>
<p><strong>Fiqih</strong></p>
<p>Beberapa kitab fikih yang dikaji oleh Syeikh At Tarmusi juga sanadnya menyambung kepada penulis. Di antaranya adalah Tuhfah Al Muhtaj dan karya Ibnu Hajar Al Haitami (964 H) lainnya. Selain itu ada juga Nihayah Al Muhtaj dan lainnya dari karya Imam Ar Ramli, Al Iqna dan Mughni Al Muhtaj karya Khatib As Syarbini. Periwayatan kitab-kitab karya Imam An Nawawi (676 H) dan Imam Ar Rafi’i (623 H) juga beliau miliki.</p>
<p><strong>Ilmu Alat</strong></p>
<p>Kitab-kitab ilmu alat yang dipilajari Syeikh Mahfudz juga diambil dari para ulama yang sanadnya sampai kepada penulis. Dari kitab-kitab tersebut adalah Matn Al Ajurrumiyah, karya Muhammad As Shanhaji (723 H), Al Alfiyah Ibnu Malik (672 H), Mughni Al Labib karya Ibnu Hisyam (761 H), Kitab Sibawaih (180 H), As Shihah karya Imam Al Jauhari (393 H), Al Qamus karya Fairuz Abadi (816 H), Talhis Al Miftah karya Khatib Jalal Ad Din Al Qazwini (739 H), Arus Al Afrah karya Bahauddin As Subki (763 H), Uqud Al Juman karya Imama As Suyuthi, As Syathibiyah (590 H), Syarh Al Baiquniyah, karya Az Zurqani (1122 H), serta Syarh An Nukhbah karya Ibnu Hajar serta Alfiyah Al Iraqi (806 H) yang disyarah oleh Ibnu Hajar.</p>
<p><strong>Ilmu Ushul dan Aqidah</strong></p>
<p>Kitab-kitab ilmu ushul fiqih yang sanadnya dimiliki oleh Syeikh At Tarmusi juga bersambung kepada para penulisnya antara lain, Al Waraqat karya Imam Al Haramain (478 H), Syrah Mukhtashar Ibnu Hajib karya Adhad Ad Din Al Iji (756 H), Minhaj Al Wushul karya Imam Al Baidhawi, serta Jam’u Al Jawami’ karya Taj Ad Din As Subki (771 H). Sedangkan dalam kitab aqidah seperti Al Jauharah karya Imam Al Laqani dan Al Umm Al Barahin karya Imam As Sanusi (895 H), Syeikh At Tarmusi juga memiliki sanadnya.</p>
<p><strong>Akhlak dan Tashawuf</strong></p>
<p>Untuk Kitab-kitab yang berkenaan dengan tashawuf dan akhlak seperti Al Hikam karya Ibnu Athaillah As Sakandari (709 H), Ar Risalah Al Qusyairiyah (475 H), Minhaj Al Abdidin dan Al Ihya’ karya Imam Al Ghazali (505 H), Awarif wa Al Ma’arif karya Imam As Suhrawardi (632 H), Syeikh Mahfudz At Tarmusi juga memiliki sanadnya hingga para penulisnya.</p>
<p>Tidak hanya kitab, namun amalan-amalan juga sampai kepada para ulama, salah satunya adalah hizb An Nawawi yang diamalkan oleh Imam An Nawawi.</p>
<p>Masih banyak kitab lainnya dimiliki periwayatannya oleh Syeikh Mahfudz At Tarmusi, karena banyak kitab yang tidak beliau sebutkan judulnya, namun beliau cukupkan dengan penulisnya, dengan menyebutkan semisal, “seluruh karya Imam Al Ghazali”.</p>
<p><strong>Membukukan Guru dan Periwayatan, Tradisi para Ulama</strong></p>
<p>Dengan demikian, di samping menjaga tradisi para salaf dalam mencari ilmu, memperoleh ilmu dengan cara mengambil dari guru yang memiliki sanad sampai ke penulis kitab, meminimalkan kesalahan pemahaman menganai isi kitab tersebut.</p>
<p>Sedangkan Syeikh Mahfudz At Tarmusi mencatat sanad yang beliau miliki, juga dalam rangka meneladani para ulama sebelumnya. Sebagaimana juga Imam An Nawawi menjelaskan bahwa hendaknya pengajar ilmu dan para pencarinya memahami sanad, dinilai buruk bagi mereka yang jahil terhadapnya, karena para guru manusia dalam ilmu merupakan bapak-bapak mereka dalam dien, yang menyambungkan antara dia dan Rabb Al Alamin. Sebagaimana juga diriwayatkan oleh Ibnu Umar secara marfu,” Ilmu adalah dien dan shalat adalah dien. Maka lihatlah dari siapa kalian mengambil ilmu dan bagaimana kalian melaksanakan shalat tersebut. Sesungguhnya kalian ditanya pada hari kiamat.” (Riawayat Ad Dailami)</p>
<p>Dalam tradisi para ulama, buku yang ditulis seorang ulama untuk menjelaskan para guru dan periwayatan dari mereka, disebut sebagai <em>tsabat</em>, dengan bentuk plural <em>atsbat.</em> Yang kemungkinan berasal dari kata <em>at tsabt</em>, yang bermakna hujjah. Dengan demikian kitab tersebut merupakan hujjah bagi penulisnya, karena disebutkan di dalamnya para guru dan sanadnya. Hal ini berlaku bagi <em>ahlu al masyriq</em>, yakni mereka yang hidup di belahan bumi bagian timur. Sedangkan kalangan <em>ahlu al maghrib </em>(penduduk dunia bagian barat) menyebutnya sebagai <em>fahras.</em></p>
<p>Kelebihan Syeikh Mahfudz dikenal di berbagai kalangan, dari ketawadhu’an hingga kebaikan akhlak. Beliau juga tidak terlibat hal-hal yang tidak berguna. Datang dari Jawa ke Tanah Suci dengan perbekalan seadanya. Beliau juga dikenal sebagai alim yang wara’. Rumah beliau banyak didatangi para pencari ilmu, baik untuk sekedar mengucap salam maupun untuk mencari ilmu.</p>
<p>Beliau wafat di Makkah di tanggal 1 Rajab, sesaat sebelum adzan Maghrib hati Ahad, malam Senin tahun 1336 H. Jenazah beliau diantar banyak orang, dan dimakamkan di pemakaman Al Ma’la. Beliau meninggalkan satu anak, yakni Kyiai Muhammad bin Mahfudz. Semoga Allah merahmati beliau.</p>
<p><a href="http://almanar.files.wordpress.com/2011/05/sanad-fiqih-ulama-indonesia4.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-390" title="sanad fiqih ulama Indonesia" src="http://almanar.files.wordpress.com/2011/05/sanad-fiqih-ulama-indonesia4.jpg?w=550&#038;h=1083" alt="" width="550" height="1083" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />Filed under: <a href='http://almanar.wordpress.com/category/tentang-ulama/'>Tentang Ulama'</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/almanar.wordpress.com/381/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/almanar.wordpress.com/381/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/almanar.wordpress.com/381/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/almanar.wordpress.com/381/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/almanar.wordpress.com/381/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/almanar.wordpress.com/381/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/almanar.wordpress.com/381/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/almanar.wordpress.com/381/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/almanar.wordpress.com/381/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/almanar.wordpress.com/381/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/almanar.wordpress.com/381/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/almanar.wordpress.com/381/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/almanar.wordpress.com/381/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/almanar.wordpress.com/381/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=almanar.wordpress.com&amp;blog=524942&amp;post=381&amp;subd=almanar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://almanar.wordpress.com/2011/05/31/syeikh-mahfudz-penyambung-sanad-ulama-nusantara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2d862539c6dd434a76a2c2d1158f6027?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">almanar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://almanar.files.wordpress.com/2011/05/minhaj.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Minhaj</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://almanar.files.wordpress.com/2011/05/sanad-fiqih-ulama-indonesia4.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sanad fiqih ulama Indonesia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tetap Belajar Walau Ajal di Depan Mata</title>
		<link>http://almanar.wordpress.com/2011/03/29/tetap-belajar-walau-ajal-di-depan-mata/</link>
		<comments>http://almanar.wordpress.com/2011/03/29/tetap-belajar-walau-ajal-di-depan-mata/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Mar 2011 12:51:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almanar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tarbiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://almanar.wordpress.com/?p=361</guid>
		<description><![CDATA[Saat berada di ambang kematian pun, beberapa ulama masih berusaha memanfaatkan waktu. Ada yang berdikusi masalah fiqh, menghafal beberapa bait syair, atau menukil ilmu. Tetap Mengajar Walau Telah Diracun Imam As Subki saat itu menderita demam selama beberapa hari. Beliau sendiri memiliki majelis yang membahas Sirah Ibnu Hisyam. Waktu itu, seorang penulis para periwayat datang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=almanar.wordpress.com&amp;blog=524942&amp;post=361&amp;subd=almanar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Saat berada di ambang kematian pun, beberapa ulama masih berusaha memanfaatkan waktu. Ada yang berdikusi masalah fiqh, menghafal beberapa bait syair, atau menukil ilmu.</em><br />
<span id="more-361"></span><br />
<strong>Tetap Mengajar Walau Telah Diracun</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Imam As Subki saat itu menderita demam selama beberapa hari. Beliau sendiri memiliki majelis yang membahas Sirah Ibnu Hisyam. Waktu itu, seorang penulis para periwayat datang dan ia tahu beliau sedang demam. “Orang-orang telah berkumpul, saya hampir saja membatalkannya.” Katanya. As Subki menjawab,”Demi Allah, saya tidak akan membatalkan majelis yang disebutkan di dalamnya perjalanan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam (SAW).” Akhirnya, beliau dengan kepayahan membaca di majelis tersebut.</p>
<p>Setelah beberapa bulan di Damaskus, beliau melakukan perjalanan ke Mesir. Beliau seakan-akan merasa bahwa ajal sudah dekat, hingga beliau mengatakan kepada putranya Taaj Ad Din As Subki, bahwa beliau tidak meninggal kecuali di negeri itu. Akhirnya, setelah sampai Mesir, beberapa hari kemudian beliau wafat. Peristiwa itu terjadi tahun 756 H.</p>
<p>Setelah ditelisik, diketahui, beliau sakit karena diracuni. Sebelum meninggal, beliau berpesan kepada beberapa sahabat, bahwa beliau telah diracuni, dan beliau sendiri mengetahui siapa pelakunya, tapi beliau enggan menyebutnya. (Thabaqat As Syafi’iyah Al Kubra, 10/315,316)</p>
<p><strong>Berdebat Masalah Fiqih Sebelum Wafat</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Adalah Imam Abu Yusuf, salah satu murid dan sahabat Abu Hanifah. Penyebar madzhab Hanafi ini diangkat menjadi hakim kekhalifahan Abbasiyah semasa pemerintahan Al Hadi, Al Mahdi dan Ar Rasyid.</p>
<p>Ulama yang lahir tahun 113 H ini masih terus menyebarkan ilmu, bahkan sampai di saat detik-datik akhir umurnya. Murid beliau, Qadhi Ibrahim bin Al Jirah Al Mishri menuturkan,”Abu Yusuf sakit, lalu saya datang untuk menjenguknya. Saya temui beliau dalam keadaan pingsan. Setelah sadar, beliau berkata kepada saya,’Wahai Ibrahim, bagaimana pendapatmu tentang sebuah kasus?’ Saya menjawab, ’Dalam keadaan seperti ini?!’ Beliau membalas,’Tidak mengapa, mudah-mudahan hal itu bisa menyelamatkan.’”</p>
<p>Abu Yusuf mengatakan,”Wahai Ibrahim, mana yang lebih utama, melempar jimarat dengan berjalan kaki atau melempar dengan naik kendaraan?” Ibrahim menjawab,”Naik kendaraan.” Beliau mengatakan,”Salah.” Ibrahim menjawab, ”Berjalan.” Beliau mengatakan, ”Salah.” Ibrahim akhirnya mengatakan,”Sampaikan pendapat Anda mengenai masalah ini, semoga Allah meridhai Anda.”</p>
<p>Lalu Abu Yusuf mengatakan,” Jika bermaksud berhenti, untuk berdoa di tempat itu, maka labih utama berjalan. Jika tidak, maka lebih utama naik kendaraan.”</p>
<p>Setelah itu Ibrahim beranjak dari tempat duduk dan meninggalkan Abu Yusuf. Namun ketika sampai di pintu rumah gurunya itu, beliau mendengar suara jeritan untuk Abu Yusuf. Ternyata Abu Yusuf telah wafat. Rahimahullah Ta’ala. (Qimah Az Zaman indza Al Ulama’, hal. 28).</p>
<p><strong>Mengutip Ilmu Sesaat Sebelum Meninggal</strong></p>
<p><a href="http://almanar.files.wordpress.com/2011/03/ngaji.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-362" title="ngaji" src="http://almanar.files.wordpress.com/2011/03/ngaji.jpg?w=550" alt=""   /></a>Ulama lain yang tidak membiarkan satu detik yang dimilikinya, kecuali untuk memperoleh ilmu, walau di saat ajal sudah dekat adalah Imam Ibnu Jarir Ath Thabari (310 H). Abu Ja’far mengisahkan, di saat Ibnu Jarir sakit, beliau menjenguknya. Di sana beliau sempat menunjukkan doa yang diriwayatkan Ja’far bin Muhammad. Beliau langsung meminta untuk diambilkan tampat tinta dan kertas, untuk menulisnya. Saat itu ada yang mengatakan kepada beliau.”Apakah saat ini tepat waktunya?” Beliau menjawab,”Tidak sepantasnya bagi manusia meninggalkan kutipan ilmu, hingga kematian menjemputnya.” Sesaat kemudian, Ibnu Jarir wafat. Rahimahullah Ta’ala. (Kunuz Al Ajdad, hal. 123).</p>
<p>Pantaslah, dengan kedisiplinan beliau, tiap harinya, beliau mampu menulis sebanyak 14 lembar. Total, seluruh karya beliau  mencapai 358 ribu lembar. Tarikh beliau kini dicetak dalam 10 jilid, sedangkan tafsir beliau mencapai 30 jilid.</p>
<p><strong>Belajar Faraidh Saat Menjelang Ajal</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Adalah Abu Ar Raihan Al Biruni, seorang ahli falak, sejarawan sekaligus sastrawan. Di hari-hari beliau, pena hampir tidak bisa berpisah dari tangan. Hanya setahun sekali mencari nafkah dengan mengikuti festival, sisanya beliau gunakan untuk mencari ilmu.</p>
<p>Penilaian seorang ulama fiqih, Abu Al Hasan Al Walwaliji mengenai semangat ulama yang lahir 362 H ini dalam mencari ilmu, cukup layak untuk disimak. Saat itu, tepatnya pada tahun 440H, beliau menjenguk Abu Raihan. Ulama ini sakit keras di tengah usianya yang mencapai 78 tahun. Kala itu nafasnya terdengar mengorok di tenggorokan dan beliau terlihat susah bernafas. Dalam keadaan demikian, beliau mengatakan kepada Al Walwaliji,”Apa yang pernah engkau katakan kepadaku pada suatu hari, mengenai pembagian jaddat fasidah (nenek dari jalur ibu)?”</p>
<p>”Apakah dalam kondisi seperti ini pantas (membahas hal itu)?” Jawab Al Walwaliji, menaruh belas kasihan. ”Wahai Al Walwaji! Saya meninggalkan dunia dalam keadaan mengetahui masalah ini, lebih baik daripada saya meninggalkannya dalam keadaan jahil terhadapnya.”</p>
<p>Akhirnya Al Walwaliji mengulangi apa yang pernah beliau sampaikan sebelumnya kepada Abu Raihan. Dan beliau menghafalnya. Tidak lama kemudian, Al Walwaliji keluar, dan saat di jalan beliau mendengar teriakan. Ternyata Abu Raihan telah wafat.  Rahimahullah Ta’ala. (Mu’jam Al Udaba`, 17/181,182).</p>
<p><strong>Menghafal Delapan Bait di Hari Kematian</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Diantara para ulama besar, yang tetap menjaga waktu mereka, walau ajal hendak menjemput adalah Ibnu Malik, ulama nahwu, yang lahir pada tahun 600 H. Ulama ini semasa hidupnya banyak membaca dan mengulang.</p>
<p>Fenomena yang mungkin amat aneh di zaman ini, adalah semangat beliau dalam memperoleh ilmu. Dimana beliau sempat menghafal delapan bait, di hari kematian beliau. Di saat beliau sedang sakit keras, putranya membantu mendiktekan bait tersebut. Rahimahullah Ta’ala. (Nafh At Thayib, 2/222, 229).</p>
<p>Kitab Alfiyah, yang kini menjadi salah satu referensi induk dalam bidang nahwu adalah salah satu karya beliau. Kini kitab itu digunakan di ratusan atau bahkan mungkin ribuan pesantren di dunia Islam. Kesungguhan Ibnu Malik telah memudahkan para pencari ilmu menghafal kaidah-kaidah bahasa Arab.</p>
<br />Filed under: <a href='http://almanar.wordpress.com/category/tarbiyah/'>Tarbiyah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/almanar.wordpress.com/361/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/almanar.wordpress.com/361/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/almanar.wordpress.com/361/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/almanar.wordpress.com/361/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/almanar.wordpress.com/361/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/almanar.wordpress.com/361/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/almanar.wordpress.com/361/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/almanar.wordpress.com/361/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/almanar.wordpress.com/361/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/almanar.wordpress.com/361/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/almanar.wordpress.com/361/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/almanar.wordpress.com/361/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/almanar.wordpress.com/361/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/almanar.wordpress.com/361/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=almanar.wordpress.com&amp;blog=524942&amp;post=361&amp;subd=almanar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://almanar.wordpress.com/2011/03/29/tetap-belajar-walau-ajal-di-depan-mata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2d862539c6dd434a76a2c2d1158f6027?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">almanar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://almanar.files.wordpress.com/2011/03/ngaji.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ngaji</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Siapakah yang Layak Disebut Muhaddits?</title>
		<link>http://almanar.wordpress.com/2010/12/23/siapakah-yang-layak-disebut-muhaddits/</link>
		<comments>http://almanar.wordpress.com/2010/12/23/siapakah-yang-layak-disebut-muhaddits/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Dec 2010 09:21:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almanar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://almanar.wordpress.com/?p=342</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa pihak amat bermudah-mudah menggelari beberapa orang dengan gelar “al muhaddits”. Atau bahkan lebih dari itu, ada yang dengan sengaja menjuluki tokoh tertentu dengan sebutan “muhaddits abad ini”, padahal yang bersangkutan tidak memiliki periwayatan, tidak menyimak hadits dari para perawi dan muhadditsun sebelumnya, atau mungkin hanya memperoleh ijazah dalam kitab-kitab tertentu saja. Sebenarnya, syarat apa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=almanar.wordpress.com&amp;blog=524942&amp;post=342&amp;subd=almanar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa pihak amat bermudah-mudah menggelari beberapa orang dengan gelar “al muhaddits”. Atau bahkan lebih dari itu, ada yang dengan sengaja menjuluki tokoh tertentu dengan sebutan “muhaddits abad ini”, padahal yang bersangkutan tidak memiliki periwayatan, tidak menyimak hadits dari para perawi dan muhadditsun sebelumnya, atau mungkin hanya memperoleh ijazah dalam kitab-kitab tertentu saja. Sebenarnya, syarat apa yang harus dipenuhi, hingga seseorang layak memperoleh gelar al muhaddits? <span id="more-342"></span>Tentu, jawabannya kita kembalikan kepada kriteria yang ditetapkan para huffadz dan muhaditsun mengenai mereka yang layak disebut muhaddits.</p>
<p>Muhaddits sendiri secara bahasa adalah orang yang meriwayatkan (rawi) hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. (Mu’jam Al Wasith, hal.160) Namun, dalam ilmu musthalah al hadits, ditetapkan syarat, hingga seorang perawi disebut muhaddits. Berikut ini, penulis ketengahkan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang hingga ia bisa disebut sebagai muhaddits, dengan merujuk kajian yang telah ditulis oleh Al Hafidz As Suyuthi dalam muqadimah Tadrib Ar Rawi, (hal. 29-35).</p>
<p>Tatkala berbicara mengenai tingkatan penguasaan dalam ilmu hadits, Al Hafidz As Suyuthi telah membahas masalah ini dengan penjang pebar, ketika menyebutkan kriteria hafidz, muhaddits dan musnid, dengan menyebutkan,”Ketahuilah bahwa derajat terendah dari ketiganya adalah musnid, yakna siapa yang meriwayatkan hadits dengan isnadnya, baik dia memiliki ilmu tentang hadits atau hanya sekedar meriwayatkan. Adapun muhaddits lebih tinggi dari hal ini.”</p>
<p>Beliau juga menukil pendapat Taj bin Yunus dalam Syarh At Ta’jiz, tentang siapa itu muhaddits, ”Siapa yang memiliki ilmu mengenai penetapan hadits dan keadilan para perawinya, karena siapa yang hanya terbatas menyimak saja, maka ia tidak termasuk alim.” </p>
<p>Az Zarkasyi juga menyebutkan,”Adapun bagi para fuqaha’, muhaddits untuk mereka secara mutlak tidak diberikan, kecuali kepada mereka yang hafal matan hadits dan memiliki ilmu mengenai jarh dan ta’dil para perawinya, dan tidak hanya sebatas meriwayatkan.</p>
<p>Dari beberapa paparan tersebut, menyimak merupakan syarat seseorang dalam ilmu hadits, baik musnid, muhaddits, atau hafidz. Namun, muhaddits lebih tinggi tingkatannya dibanding musnid, karena muhaddits harus memiliki pengetahuan menganai jarh wa ta’dil.</p>
<p>Akan tetapi, dalam keterangan di atas tidak disebutkan secara terperinci berapa jumlah hadits yang harus disima’ dan dihafal, serta tingkatan pengetahuan mengenai rijal al hadits. Keterangan lebih jelas mengenai syarat-syarat seorang bisa disebut muhaddits dijelaskan oleh Tajuddin As Subki, dalam Mu`id An Ni’am,”Sesungguhnya muhaddits adalah siapa yang tahu asanid dan ilal, nama-nama rijal, (sanad) al ali dan an nazil, hafal banyak matan, menyimak Kutub As Sittah, Musnad Ahmad, Sunan Al Baihaqi, Mu’jam At Thabarani, dan digabungkan dengannya seribu juz dari kitab-kitab hadits. Ini adalah derajat terendah.”</p>
<p>Sebelumnya Tajuddin As Subki juga mengkritik kelompok yang mengira sebagai muhaddits dengan hanya mengkaji Masyariq Al Anwar As Saghani dan Mashabih Al Baghawi, dengan mengatakan,”Hal itu tidak lain karena mereka jahil terhadap hadits. Walau mereka hafal dua kitab itu di luar kepala dan digabungkan kepadanya dua kitab semisalnya, belum menjadi muhaddits, dan tidak akan pernah menjadi muhaddits, hingga onta masuk ke lubang jarum.”</p>
<p>Beliau melanjutkan,&#8221;Demikian pula, jika kelompok tersebut mengklaim sampai kepada derajat tinggi hadits dengan mengkaji Jami’ Al Ushul Ibnu Atsir, dengan ditambah Ulum Al Hadits Ibnu Shalah dan Taqrib wa At Taisir Imam An Nawawi, dan sejenisnya. Kemudian menyeru, “barang siapa sampai derajat ini, maka ia adalah muhaddits dari para muhadditsun atau Bukhari zaman ini,” dan dengan lafadz-lafadz bohong sejenisnya. Sesungguhnya yang kami sebutkan ini tidak dihitung sebagai muhaddits.&#8221;</p>
<p>Walhasil, memang tidak mudah mencapai derajat muhaddits, sehingga kita juga tidak bisa mudah-mudah memberikan gelar ini kepada siapa pun. Sehingga tidak memposisikan seseorang bukan pada tempatnya, apalagi dalam kedudukan ilmiah ini.  WallahuTa’ala A’la wa A’lam.</p>
<p>_________________________________</p>
<p>Rujukan:</p>
<p>1. Mu’jam Al Wasith, Dr. Ibrahim Anis, dkk, cet. II, th. 1392, Majma’ Al Lughah Al Arabiyah.                                                                                  <br />
2. Tadrib Ar Rawi fi Syarhi Taqrib li An Nawawi, Al Hafidz As Suyuthi, cet. II, th. 1315, Maktabah Al Kautsar.</p>
<br />Filed under: <a href='http://almanar.wordpress.com/category/ilmu-hadits/'>Ilmu Hadits</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/almanar.wordpress.com/342/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/almanar.wordpress.com/342/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/almanar.wordpress.com/342/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/almanar.wordpress.com/342/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/almanar.wordpress.com/342/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/almanar.wordpress.com/342/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/almanar.wordpress.com/342/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/almanar.wordpress.com/342/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/almanar.wordpress.com/342/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/almanar.wordpress.com/342/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/almanar.wordpress.com/342/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/almanar.wordpress.com/342/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/almanar.wordpress.com/342/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/almanar.wordpress.com/342/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=almanar.wordpress.com&amp;blog=524942&amp;post=342&amp;subd=almanar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://almanar.wordpress.com/2010/12/23/siapakah-yang-layak-disebut-muhaddits/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2d862539c6dd434a76a2c2d1158f6027?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">almanar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kitab-kitab yang “Mengelilingi” Ihya Ulumuddin</title>
		<link>http://almanar.wordpress.com/2010/09/30/kitab-kitab-yang-%e2%80%9cmengelilingi%e2%80%9d-ihya-ulumuddin/</link>
		<comments>http://almanar.wordpress.com/2010/09/30/kitab-kitab-yang-%e2%80%9cmengelilingi%e2%80%9d-ihya-ulumuddin/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Sep 2010 14:39:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almanar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kitab dan Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://almanar.wordpress.com/?p=327</guid>
		<description><![CDATA[Ada yang membela Al Ihya` adapula yang menjelaskan kedudukan hadits-haditsnya, ada pula yang mensyarah kalimat-kalimatnya. Islam memiliki kazanah yang amat kaya, terutama dalam literaturnya. Mayoritas buku-buku memiliki keterkaitan satu sama lain. Satu sama lain saling melengkapi. Ada yang menjelaskan alias mensyarah, ada pula yang mentakhrij haditsnya, ada pula yang melengkapi. Namun, diantara kitab-kitab tersebut ada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=almanar.wordpress.com&amp;blog=524942&amp;post=327&amp;subd=almanar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Ada yang membela Al Ihya` adapula yang menjelaskan kedudukan hadits-haditsnya, ada pula yang mensyarah kalimat-kalimatnya.</em><br />
<span id="more-327"></span><br />
Islam memiliki kazanah yang amat kaya, terutama dalam literaturnya. Mayoritas buku-buku memiliki keterkaitan satu sama lain. Satu sama lain saling  melengkapi. Ada yang menjelaskan alias mensyarah, ada pula yang mentakhrij haditsnya, ada pula yang melengkapi. Namun, diantara kitab-kitab tersebut ada beberapa kitab yang tidak kurang dari 8 kitab yang mendukungnya. Salah satunya adalah kitab Ihya` Ulumuddin buah karya Imam Al Ghazali. Berikut ini kitab-kitab yang ditulis untuk melengkapi karya yang amat populer bagi umat Islam ini.<br />
<strong><br />
Al Imla’ fi Isykalat Al Ihya`</strong></p>
<p><strong> </strong>Buku ini ditulis sendiri oleh Hujjatul Islam, Imam Al Ghazali guna menjelaskan lafadz-lafadz dalam Ihya` yang disalahpahami oleh mereka yang hidup semasa dengan beliau. Demikian pula ungkapan-ungkapan yang disalahpahami. Sebagaimana deisbutkan oleh Al Allamah Al Murtadha Az Zabidi. (lihat, Al Ithaf As Sadah Al Muttaqin,1/40)</p>
<p>Imam As Suyuthi juga menyebutkan kitab ini namun dengan nama yang berbeda, yakni Al Intishar li Ma fi Al Ihya` min Al Asrar. (lihat, Al Hawi li Al Fatawi, hal. 275)</p>
<p>Dalam cetakan Ihya saat ini, biasanya Al Imla disertakan di dalamnya</p>
<p><strong>Tasyid Al Arkan fi Laisa fi Al Imkan Ibda’ min Ma Kan</strong></p>
<p><strong></strong>Selain Imam Al Ghazali, Al Hafidz As Suyuthi juga menulis sebuah risalah untuk membela sebagian pembahasan dalam Al Ihya` yang dikritik. Yakni mengenai ungkapan beliau Laisa fi Al Imkan Ibda’ min Ma Kan, yang membahas masalah qudrah. Risalah yang ditulis Imam As Suyuthi ini juga disertakan dalam Al Ihya yang diterbitkan bersama Al Ihya`, semisal yang didistribusikan Dar Al Kitab Al Arabi tahun 1419 H.</p>
<p><strong>Ta’rif Al Ahya` fi Al Fadhail Al Ihya`</strong></p>
<p><strong></strong>Risalah ini juga disertakan dalam Al Ihya’ sebagai pengenal mengenai keutaan kitab ini dan paparan ringkas kandungannya. Ditulis oleh Al Allamah Abd Al Qadir Al Idrus Ba’alawi. Penilaian para ulama tentang kitab ini dan jawaban bagi mereka yang mengkritiknya juga disebutkan. Risalah ini juga diterbitkan bersama kebanyakan Al Ihya`.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><a href="http://almanar.files.wordpress.com/2010/09/al-mughni-an-haml-al-asfar1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-330" title="Al Mughni An Haml Al Asfar" src="http://almanar.files.wordpress.com/2010/09/al-mughni-an-haml-al-asfar1.jpg?w=179&#038;h=240" alt="" width="179" height="240" /></a>Al Mughi an Haml Al Asfar fi Al Asfar fi Takhrij Ma fi Al Ihya’ min Al Akhbar</strong></p>
<p><strong></strong>Karya Al Hafidz Al Iraqi, yang menerangkan takhrij dan status hadits dan atsar yang terdapat dalam Al Ihya`. Al Allamah Az Zabidi menyebutkan bahwa awalnya Al Iraqi menulisnya dalam beberapa jilid besar pada tahun 751 H. Kemudian beliau meringkasnya dalam satu jilid saja. (lihat, Al Ithaf, 1/41)</p>
<p>Takhrij ini juga disertakan di mayoritas Al Ihya` yang banyak beredar saat ini.</p>
<p><strong>Takhrij Al Hafidz Ibnu Hajar </strong></p>
<p><strong></strong>Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani juga memiliki satu jilid karya, yang berisi takhrij hadits Al Ihya` yang terlewatkan oleh guru beliau Al Hafidz Al Iraqi, sebagaimana disebutkan Al Allamah Az Zabidi. Namun beliau tidak menyebut nama buku tersebut. (lihat, Al Ithaf, 1/41)</p>
<p><strong>Tuhfah Al Ahya fi Ma Fata min Takhrij Al Ahadits Al Ihya`</strong></p>
<p><strong></strong>Selain Al Hafidz Ibnu Hajar, yang mentakhrij hadits-hadits Al Ihya` yang terlewatkan adalah Al Hafidz Qasim bin Quthlubugha yang bermadzhab Hanafi, sebagaimana disbutkankan dalam Al Ithaf. (lihat, Al Ithaf, 1/41)</p>
<p><strong>Takhrij Ibn As Subki </strong></p>
<p><strong> </strong>Ibn<strong> </strong>As Subki yang wafat tahun 771 H juga sudah menghukumi hadits sebagian hadits dalam Al Ihya` yang beliau bagi sesuai dengan bab-bab pembahasan Al Ihya`yang disertakan dalam Thabaqat As Syafi’iyah Al Kubra. Pembahasan berkonstrasi pada hadits-hadits yang belum beliau temukan asalnya. Risalah ini setebal 101 halaman, dalam At Thabaqat yang diterbitkan oleh Hijr, tahun 1413 H.</p>
<p><strong><a href="http://almanar.files.wordpress.com/2010/09/al-ithaf-sadah1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-331" title="Al Ithaf Sadah" src="http://almanar.files.wordpress.com/2010/09/al-ithaf-sadah1.jpg?w=550" alt=""   /></a>Ithaf As Sadah Al Muttaqin</strong></p>
<p><strong></strong>Sebuah kitab yang amat tebal, yang menysarah kitab Ihya` Ulumuddin.  Ditulis oleh Al Allamah Al Murtadha Az Zabidi yang bermadzhab Hanafi.  Disamping menjelaskan makna, beliau juga berbicara mengenai status  hadits. Dibebarapa penerbitan kitab ini dicetak tidak kurang dari  sepuluh jilid.</p>
<p>Demikianlah, ada 8 buku karya para ulama yang berguna memudahkan kita dalam menelaah Ihya` Ulumuddin. Dan tidak perlu takut mengkaji hadits-haditsnya, karena para ulama sudah menjelaskannya.</p>
<p><strong>Ringkasan Ihya` Ulumuddin</strong></p>
<p><strong></strong>Tidak lengkap jika berbicara tentang kitab-kitab yang berhidmat kepada Al Ihya` tanpa berbicara mengenai ringkasannya. Al Allamah Az Zabidi menjelaskan bahwa yang pertama kali meringkas Al Ihya` adalah Abu Al Futuh Ahmad bin Muhammad Al Ghazali, saudara Imam Al Ghazali yang wafat pada tahun 520 H, yang bernama Lubab Al Ihya`.</p>
<p>Selain beliau beberapa ulama lainnya juga meringkasnya seperti Ahmad bin Musa Al Mushili yang wafat tahun 622 H, Muhammad bin Said Al Yamani, Yahya bin Abi Al Khair Al Yamani, yang tidak disebutkan nama ringkasannya. Sedang Muhammad bin Utsman bin Umar Al Balkhi juga meringkas Al Ihya`yang diberi nama Ain Al Ilm.</p>
<p>Sedangkan Abd Al Wahhab bin Ali Al Khatib Al Maraghi menamai ringkasannya dengan Lulab Al Ihya`. Syamsu Muhammad bin Ali bin Ja`far Al Ajluni yang wafat tahun 820 H juga meringkas Al Ihya`. Menurut Al Hafidz As Sakhawi, ringkasan beliaulah yang paling baik. (lihat, Al Ithaf, 1/41)</p>
<br />Filed under: <a href='http://almanar.wordpress.com/category/kitab-dan-buku/'>Kitab dan Buku</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/almanar.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/almanar.wordpress.com/327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/almanar.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/almanar.wordpress.com/327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/almanar.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/almanar.wordpress.com/327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/almanar.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/almanar.wordpress.com/327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/almanar.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/almanar.wordpress.com/327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/almanar.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/almanar.wordpress.com/327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/almanar.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/almanar.wordpress.com/327/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=almanar.wordpress.com&amp;blog=524942&amp;post=327&amp;subd=almanar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://almanar.wordpress.com/2010/09/30/kitab-kitab-yang-%e2%80%9cmengelilingi%e2%80%9d-ihya-ulumuddin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2d862539c6dd434a76a2c2d1158f6027?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">almanar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://almanar.files.wordpress.com/2010/09/al-mughni-an-haml-al-asfar1.jpg?w=224" medium="image">
			<media:title type="html">Al Mughni An Haml Al Asfar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://almanar.files.wordpress.com/2010/09/al-ithaf-sadah1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Al Ithaf Sadah</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
